Liputan6.com, Jakarta - Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk berbagi informasi, berkomunikasi, sekaligus mencari hiburan. Namun, tidak jarang kita menemukan orang yang seolah selalu memiliki drama baru untuk dibagikan.
Mulai dari unggahan sindiran, status penuh kode, pertengkaran yang diumbar, hingga kebiasaan membawa masalah pribadi ke ruang publik. Jika dilakukan terus-menerus, perilaku tersebut bisa membuat lingkungan media sosial terasa melelahkan.
Bukan berarti setiap orang yang mengunggah masalah sedang mencari perhatian. Seseorang bisa saja sedang membutuhkan dukungan atau sekadar ingin mengekspresikan perasaannya. Namun, ada beberapa pola yang dapat menjadi ciri orang yang gemar drama di media sosial.
Advertisement
Berikut Liputan6 ulas ciri orang yang gemar drama di media sosial merangkum dari berbagai sumber.
1. Sering membuat unggahan penuh kode dan sindiran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5149617/original/041348000_1740994603-Main_media_sosial.jpg)
Salah satu tanda yang mudah dikenali adalah kebiasaan membuat status yang sengaja dibuat samar. Misalnya, seseorang menulis, "Tidak semua orang yang kita percaya ternyata bisa dipercaya," tanpa menjelaskan persoalan sebenarnya.
Unggahan seperti ini mungkin hanya sesekali muncul. Namun, jika hampir setiap ada masalah selalu disampaikan melalui sindiran di media sosial, hal tersebut bisa menjadi pola yang membuat orang lain ikut penasaran dan terseret ke dalam masalah pribadi.
2. Masalah pribadi sering dibawa ke ruang publik
Orang yang gemar drama di media sosial cenderung membagikan konflik pribadi kepada banyak orang. Pertengkaran dengan pasangan, teman, keluarga, atau rekan kerja dapat berubah menjadi rangkaian unggahan, story, bahkan saling balas komentar.
Alih-alih menyelesaikan persoalan secara langsung dengan pihak terkait, masalah justru berkembang karena semakin banyak orang ikut memberikan pendapat.
Advertisement
3. Sering menghapus unggahan setelah mendapat perhatian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4977351/original/022180200_1729664896-Person_Using_Smartphone.jpg)
Pernah melihat seseorang mengunggah tulisan yang cukup provokatif, kemudian menghapusnya beberapa jam kemudian?
Jika hal ini terjadi berulang kali, terutama setelah banyak orang memberikan komentar atau bertanya, bisa jadi orang tersebut memang menikmati perhatian yang muncul dari unggahannya.
Meski demikian, menghapus postingan tidak otomatis berarti seseorang sedang mencari drama. Bisa saja ia berubah pikiran atau merasa tidak nyaman setelah mengunggahnya.
4. Sering mengajak orang lain memilih pihak
Drama di media sosial biasanya menjadi semakin besar ketika seseorang mulai meminta orang lain menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Contohnya, seseorang menceritakan konflik dari sudut pandangnya, kemudian meminta teman-temannya memberikan penilaian terhadap pihak lain.
Masalahnya, orang yang melihat unggahan tersebut belum tentu mengetahui cerita secara lengkap. Akibatnya, konflik pribadi dapat berubah menjadi pertikaian yang melibatkan banyak orang.
5. Gemar membalas komentar yang memancing emosi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4995748/original/095650000_1731044910-codifyformatter__97_.jpg)
Orang yang mudah terseret drama biasanya tidak membiarkan komentar provokatif begitu saja. Komentar bernada kritik sedikit saja dapat dibalas dengan panjang lebar. Percakapan kemudian berkembang menjadi saling sindir dan berdebat di kolom komentar.
Semakin lama diladeni, semakin besar pula kemungkinan sebuah unggahan berubah menjadi drama terbuka.
6. Sering membuat unggahan untuk mendapatkan reaksi
Tidak semua orang yang mencari perhatian di media sosial memiliki niat buruk. Namun, pola yang patut diperhatikan adalah ketika seseorang berulang kali membuat unggahan kontroversial karena ingin mendapatkan respons.
Misalnya, sengaja membuat pernyataan yang memancing perdebatan, kemudian terus memperpanjang percakapan ketika respons mulai berdatangan.
Advertisement
7. Kehidupan orang lain sering menjadi bahan unggahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5166056/original/037583600_1742215205-pexels-mikoto-3367850.jpg)
Ciri lainnya adalah terlalu sering menjadikan masalah orang lain sebagai konsumsi publik. Perselisihan teman, hubungan orang lain, masalah keluarga, hingga kesalahan seseorang bisa dibagikan tanpa mempertimbangkan privasi pihak yang bersangkutan.
Kebiasaan ini tidak hanya berpotensi menimbulkan drama, tetapi juga dapat merusak hubungan dan kepercayaan.
8. Selalu memiliki konflik baru
Jika hampir setiap beberapa hari muncul cerita tentang orang yang berbeda-beda yang dianggap bermasalah, kita mungkin perlu menjaga jarak dari pola tersebut.
Bukan berarti orang tersebut selalu menjadi penyebab konflik. Namun, frekuensi konflik yang sangat tinggi dapat menjadi tanda bahwa kita sedang berhadapan dengan lingkungan yang kurang sehat secara sosial.
Mengapa Drama di Media Sosial Mudah Membesar?
Media sosial membuat sebuah persoalan pribadi dapat diketahui oleh banyak orang dalam waktu singkat. Satu unggahan bisa mendapatkan puluhan bahkan ribuan respons.
Selain itu, komunikasi melalui teks juga mudah menimbulkan salah tafsir. Kalimat yang sebenarnya dianggap bercanda bisa dipahami sebagai sindiran atau serangan.
Ketika banyak orang ikut berkomentar, masalah yang awalnya hanya melibatkan dua orang dapat berkembang menjadi konflik kelompok.
Karena itu, tidak semua persoalan perlu diselesaikan di kolom komentar atau melalui unggahan publik.
Cara Menghindari Drama di Media Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329139/original/029002700_1787221925-annoyed-young-brunette-caucasian-woman-holds-phone-holds-hand-front-screen-isolated-purple-background-with-copy-space.jpg)
Melansir dari essdack, berikut beberapa cara menghindari drama media sosial
1. Jangan langsung ikut berkomentar
Ketika melihat unggahan yang sedang ramai, tahan keinginan untuk langsung memberikan pendapat. Tanyakan kepada diri sendiri apakah komentar tersebut benar-benar diperlukan. Jika tidak, memilih diam justru dapat membantu menghentikan rantai drama.
2. Hindari menjadi penonton sekaligus penyebar drama
Membaca drama memang bisa terasa menghibur. Namun, jangan ikut menyebarkan screenshot, potongan percakapan, atau unggahan seseorang hanya karena sedang viral di lingkungan pertemanan.
Semakin banyak orang yang membagikannya, semakin panjang pula masalah tersebut.
3. Gunakan fitur mute atau unfollow
Jika ada akun yang terus-menerus memenuhi timeline dengan konflik, sindiran, atau pertengkaran, kita tidak harus langsung memutus pertemanan.
Fitur mute dapat menjadi pilihan yang lebih halus. Dengan begitu, kita tetap terhubung tanpa harus terus melihat konten yang membuat lelah secara emosional. Jika diperlukan, unfollow juga dapat dilakukan.
4. Jangan mudah percaya pada satu sisi cerita
Ketika seseorang menceritakan konflik di media sosial, kita hanya mendapatkan informasi dari sudut pandangnya.
Karena itu, hindari langsung menghakimi pihak lain berdasarkan satu unggahan. Terlebih jika persoalannya bersifat pribadi dan tidak berkaitan dengan kita.
5. Selesaikan masalah secara langsung
Jika kita sendiri sedang memiliki masalah dengan seseorang, komunikasi langsung biasanya lebih efektif dibandingkan membuat status sindiran.
Bicarakan persoalan dengan kepala dingin dan orang yang memang terlibat. Tidak semua masalah harus diketahui oleh teman, pengikut, atau orang asing di internet.
6. Batasi informasi pribadi yang dibagikan
Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi potensi drama adalah menjaga batas privasi. Tidak semua persoalan hubungan, keluarga, pekerjaan, maupun pertemanan perlu dibagikan di media sosial.
Semakin sedikit informasi pribadi yang diketahui publik, semakin kecil pula peluang informasi tersebut digunakan dalam konflik berikutnya.
7. Jangan merasa harus ikut menyelamatkan semua orang
Ketika teman mengunggah masalah, kita mungkin merasa harus memberikan dukungan. Memberikan dukungan tentu tidak salah. Namun, kita tidak harus menjadi mediator atau ikut menyerang pihak lain.
Cukup dengarkan jika memang dibutuhkan dan sarankan penyelesaian secara langsung jika situasinya memungkinkan.
8. Perhatikan kondisi diri setelah menggunakan media sosial
Jika setelah melihat unggahan seseorang kita merasa marah, cemas, kesal, atau terus memikirkan konfliknya, mungkin sudah waktunya mengambil jarak. Media sosial seharusnya tidak mengambil terlalu banyak energi emosional.
Istirahat sejenak, matikan notifikasi, atau lakukan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan media sosial dapat membantu mengembalikan fokus.
Tidak Semua Unggahan tentang Masalah Berarti Drama
Penting untuk tidak terburu-buru memberikan label kepada seseorang hanya karena ia membagikan masalah di media sosial.
Ada orang yang menggunakan media sosial untuk mencari dukungan ketika sedang menghadapi masa sulit. Ada pula yang sekadar ingin berbagi pengalaman agar orang lain tidak mengalami hal serupa.
Yang lebih penting adalah melihat pola perilakunya, bukan satu unggahan. Jika seseorang sesekali bercerita tentang masalah pribadi, hal tersebut belum tentu menunjukkan bahwa ia gemar drama. Sebaliknya, pola berulang berupa provokasi, konflik terbuka, sindiran, membuka privasi orang lain, dan mengajak banyak orang ikut bertikai lebih patut diwaspadai.
Pada akhirnya, kita tidak harus ikut masuk ke setiap drama yang muncul di media sosial. Menjaga jarak, membatasi interaksi, dan memilih dengan bijak konten yang dikonsumsi dapat membuat pengalaman bermedia sosial jauh lebih nyaman.
Pertanyaan Seputar Drama di Media Sosial
1. Apa ciri orang yang suka drama di media sosial?
Beberapa cirinya antara lain sering membuat unggahan penuh sindiran, membawa konflik pribadi ke ruang publik, memancing reaksi, mengajak orang lain memilih pihak, dan berulang kali terlibat dalam konflik.
2. Bagaimana cara menghadapi orang yang gemar drama di media sosial?
Hindari ikut berkomentar atau menyebarkan unggahannya, gunakan fitur mute atau unfollow bila diperlukan, dan jangan mudah mengambil kesimpulan sebelum mengetahui persoalan secara utuh.
3. Apakah orang yang sering curhat di media sosial berarti suka drama?
Tidak selalu. Curhat sesekali untuk mencari dukungan berbeda dengan pola sengaja memancing konflik, menyindir orang lain, atau melibatkan banyak orang dalam masalah pribadi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3552918/original/093561000_1630045352-cek_fakta_kpk_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5552691/original/021118100_1775819655-Dedi_Mulyadi_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333506/original/017979900_1787792443-ev9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227870/original/095342200_1747824429-steptodown.com663981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3448207/original/022372500_1620176690-kate-torline-VeiqoYAEeis-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334244/original/033884600_1787826930-awan_feast.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333294/original/062243300_1787741120-Adam.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331352/original/008686000_1787539229-LIp623956.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539900/original/021439100_1774666351-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327376/original/020408300_1787107303-1200KL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3037549/original/018888400_1580452937-marco-xu-ToUPBCO62Lw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323862/original/083705600_1786678011-Logo_baru_Instagram.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323775/original/031676000_1786674565-Logo_Instagram.jpg)