Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan menyimpan kantong plastik belanja di rumah sering dianggap sepele, padahal ciri orang yang selalu menyimpan kantong plastik belanja menurut psikologi ternyata mengungkap banyak hal tentang cara berpikir seseorang. Tumpukan kantong plastik di sudut dapur bukan sekadar kebiasaan acak, melainkan cerminan pola pikir yang terbentuk dari pengalaman hidup sehari-hari secara perlahan.
Sebagian orang merasa tidak tenang jika kantong plastik kosong tanpa cadangan di rumah, seolah ada sesuatu yang kurang dari rutinitas hariannya. Perasaan ini bukan kebetulan semata. Psikolog menyebut kebiasaan semacam ini berkaitan dengan cara otak mengelola rasa aman, kontrol, dan antisipasi terhadap ketidakpastian yang mungkin muncul kapan saja tanpa terduga.
Artikel ini akan mengulas lima ciri orang yang selalu menyimpan kantong plastik belanja menurut psikologi, seperti yang telah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (1/9/2026). Simak penjelasan lengkapnya agar Anda memahami makna di balik kebiasaan sederhana yang ternyata mungkin juga Anda lakukan setiap hari tanpa disadari selama ini.
Advertisement
Selalu Berjaga-jaga untuk Kebutuhan Mendadak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337812/original/055040900_1788258020-842d34e6-b2c3-421b-b1e5-47b667b28052.jpg)
Orang yang rutin menyimpan kantong plastik biasanya punya dorongan kuat untuk selalu siap menghadapi kebutuhan mendadak dalam kehidupan sehari-hari. Kantong plastik dianggap sebagai persediaan darurat yang bisa dipakai kapan saja, mulai dari membungkus sampah hingga membawa barang tanpa harus membeli baru lagi.
Kebiasaan ini mencerminkan pola pikir antisipatif yang berkembang karena kebutuhan mengontrol situasi tak terduga di sekitar mereka. Semakin banyak kantong plastik yang tersimpan rapi, semakin besar rasa aman yang mereka rasakan terhadap kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi di kemudian hari.
Sikap ini erat kaitannya dengan kebutuhan psikologis akan kepastian dalam menjalani hidup sehari-hari. Dengan memiliki cadangan yang cukup, seseorang merasa lebih siap menghadapi situasi darurat sehingga kecemasan terhadap hal-hal di luar kendali dapat berkurang secara signifikan dari waktu ke waktu.
Advertisement
Menghargai Barang Melebihi Nilai Sebenarnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337813/original/065582900_1788258020-e05cf88b-ee6c-4e1f-9e6f-a89e4077e70d.jpg)
Bagi sebagian orang, kantong plastik yang masih layak pakai terasa sayang untuk dibuang begitu saja tanpa alasan jelas. Barang kecil ini dianggap tetap punya nilai guna, meski sebenarnya bisa digantikan dengan mudah kapan pun dibutuhkan tanpa biaya besar sama sekali.
Pola pikir ini dikenal sebagai endowment effect, konsep yang diperkenalkan ekonom perilaku bernama Richard Thaler pada studinya. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung menilai barang miliknya lebih tinggi dibanding nilai objektifnya, sehingga membuang terasa seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
Akibatnya, barang-barang kecil seperti kantong plastik terus menumpuk karena sulit dilepaskan begitu saja oleh pemiliknya. Perasaan sayang membuang ini bukan soal fungsi barang semata, melainkan ikatan emosional yang terbentuk begitu barang tersebut resmi menjadi milik pribadi seseorang.
Meredakan Rasa Bersalah terhadap Dampak Lingkungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337814/original/025563200_1788258023-Wanita_menaruh_kantong_plastik.jpg)
Menyimpan dan memakai ulang kantong plastik juga bisa menjadi cara seseorang meredakan rasa bersalah akibat konsumsi sehari-hari yang terus berlangsung. Dengan menggunakannya kembali, mereka merasa telah mengurangi dampak buruk plastik terhadap lingkungan di sekitarnya secara langsung.
Perilaku ini menjadi bentuk kompensasi psikologis atas kekhawatiran terhadap isu lingkungan yang semakin sering dibicarakan publik belakangan ini. Memakai ulang kantong plastik memberi rasa telah berkontribusi kecil terhadap pengurangan sampah, meski dampaknya sebenarnya terbilang terbatas jika dihitung secara keseluruhan.
Rasa tenang yang muncul setelah memakai ulang barang lama ini membantu seseorang merasa lebih bertanggung jawab atas pilihannya. Tindakan kecil semacam ini sering dianggap cukup untuk menenangkan kegelisahan terkait gaya hidup konsumtif yang dijalani setiap hari tanpa disadari.
Advertisement
Terbentuk dari Pengalaman Keterbatasan di Masa Lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337815/original/034208800_1788258023-01d28d72-4ea1-4831-84c3-d616c4550ea9.jpg)
Kebiasaan menyimpan kantong plastik sering kali berakar dari pengalaman masa kecil dengan keterbatasan ekonomi keluarga yang dialami. Prinsip "sayang dibuang, nanti berguna" biasanya tertanam sejak kecil dan terus terbawa hingga dewasa tanpa disadari sepenuhnya oleh pelakunya.
Konsep ini dijelaskan lewat scarcity mindset theory yang dikembangkan Sendhil Mullainathan bersama Eldar Shafir dalam penelitiannya. Teori tersebut menjelaskan bagaimana pengalaman kekurangan membentuk kebiasaan menyimpan barang, bahkan setelah kondisi ekonomi seseorang membaik secara signifikan di kemudian hari.
Pola pikir ini biasanya diwariskan dari orang tua atau lingkungan yang mengalami masa sulit secara finansial dahulu. Kebiasaan menyimpan barang kecil menjadi bagian dari nilai hemat yang terus dipegang meski sudah tidak lagi dibutuhkan secara mendesak sekarang ini.
Berpotensi Mengarah ke Kecenderungan Menumpuk Barang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337816/original/042188200_1788258023-f2c0bb7f-056a-4de8-bfb5-8180bc3fba7f.jpg)
Dalam kadar wajar, menyimpan kantong plastik hanyalah kebiasaan hemat yang lumrah dilakukan banyak orang di rumah. Namun jika jumlahnya terus menumpuk tanpa terkendali, kebiasaan ini bisa mengarah pada pola yang lebih serius secara psikologis dan perlu diwaspadai.
Kondisi ini masuk dalam spektrum hoarding disorder yang tercantum dalam DSM-5 sebagai acuan klinis. Ciri utamanya adalah kesulitan membuang barang meski tidak lagi berguna, disertai stres berlebihan ketika harus merapikan atau melepaskan barang tersebut dari rumah.
Meski begitu, tidak semua orang yang menyimpan kantong plastik otomatis mengalami gangguan tersebut. Selama masih memiliki sistem penyimpanan yang rapi dan tidak menimbulkan gangguan fungsi sehari-hari, kebiasaan ini masih tergolong wajar dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Selalu Menyimpan Kantong Plastik Belanja Menurut Psikologi
Apakah menyimpan kantong plastik termasuk tanda hoarding?
Tidak selalu. Kebiasaan ini baru mengarah ke hoarding disorder jika jumlahnya menumpuk tak terkendali, sulit dibuang, dan menimbulkan stres saat harus merapikannya.
Mengapa orang sering menyimpan kantong plastik meski jarang dipakai?
Karena adanya endowment effect, yaitu kecenderungan menilai barang yang sudah dimiliki lebih berharga dari nilai sebenarnya, sehingga sulit untuk dibuang begitu saja.
Apa hubungan kebiasaan ini dengan masa kecil seseorang?
Orang yang tumbuh di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi cenderung mengembangkan kebiasaan menyimpan barang sebagai bentuk kehati-hatian yang terbawa hingga dewasa.
Apakah kebiasaan ini berkaitan dengan kepedulian lingkungan?
Bisa jadi. Sebagian orang menyimpan dan memakai ulang kantong plastik sebagai cara meredakan rasa bersalah terhadap dampak konsumsi terhadap lingkungan sekitar.
Bagaimana cara mengetahui kebiasaan ini masih wajar atau sudah berlebihan?
Selama kantong plastik tersimpan rapi, mudah ditemukan, dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, kebiasaan ini masih tergolong normal dan bukan gangguan psikologis.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337309/original/008779100_1788240212-cek_fakta_-_pinjol_ojk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7961905/original/013698500_1780798434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-07T090929.694.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337811/original/041041600_1788258020-2fa0227f-7d29-4bba-9658-fc27b60491e5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337440/original/038192700_1788245804-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4952899/original/035752000_1727258014-pexels-liza-summer-6347515.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227870/original/095342200_1747824429-steptodown.com663981.jpg)