10 Ciri Orang yang Suka Menyimpan Makanan Sisa Menurut Psikologi, Tak Selalu karena Hemat

Ciri orang yang suka menyimpan makanan sisa menurut psikologi bisa berkaitan dengan sifat hemat, tidak suka mubazir, norma, hingga kemampuan mengelola makanan.

Diterbitkan 02 September 2026, 09:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nasi yang masih tersisa sedikit masuk kulkas. Lauk yang belum habis dipindahkan ke wadah. Bahkan makanan yang tinggal beberapa potong pun rasanya sayang kalau langsung dibuang. Bagi sebagian orang, makanan sisa memang masih bisa dimakan. Daripada terbuang, lebih baik disimpan untuk makan berikutnya.

Kebiasaan sederhana ini ternyata menarik jika dilihat dari sisi psikologi dan perilaku konsumen. Ciri orang yang suka menyimpan makanan sisa menurut psikologi tidak selalu berarti seseorang memiliki sifat tertentu, tetapi kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang makanan, pemborosan, perencanaan, hingga pengelolaan kebutuhan sehari-hari.

Studi yang diterbitkan dalam Food Quality and Preference dan meneliti konsumen di Indonesia menemukan bahwa keputusan menyimpan makanan sisa melibatkan “economic, behavioral and socio-cultural trade-offs”, atau pertimbangan ekonomi, perilaku, dan sosial-budaya.

Artinya, kebiasaan menyimpan makanan sisa tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai satu tipe kepribadian. Namun, ada beberapa kecenderungan perilaku yang menarik untuk diperhatikan.

1. Cenderung menghargai makanan dan tidak suka melihatnya terbuang

Salah satu alasan paling sederhana adalah karena orang tersebut merasa makanan masih memiliki nilai. Ketika melihat nasi atau lauk yang masih layak makan, yang terpikir bukan “ini sudah menjadi sampah”, melainkan “ini masih bisa dimakan nanti”.

Sikap seperti ini berkaitan dengan konsep food-waste aversion, yaitu kecenderungan seseorang untuk merasa enggan atau tidak menyukai pemborosan makanan.

Penelitian Raghunathan dan Chandrasekaran yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Psychology mengembangkan konsep tersebut dan menemukan bahwa food-waste aversion berkaitan dengan beberapa karakteristik lain, termasuk frugality atau sifat hemat, tanggung jawab sosial, self-control, dan materialism.

Jadi, orang yang tidak tega membuang makanan belum tentu punya masalah tertentu. Bisa saja ia memang memiliki sikap yang kuat untuk menghindari pemborosan makanan.

2. Cenderung memiliki sifat hemat

Orang yang terbiasa mengatur pengeluaran biasanya lebih mudah merasa sayang ketika makanan dibuang. Bukan berarti pelit. Ia hanya melihat bahwa makanan tersebut sudah dibeli dengan uang dan masih bisa dimanfaatkan.

Misalnya, daripada membuang lauk yang masih cukup untuk satu kali makan, ia memilih menyimpannya untuk sarapan. Dengan begitu, ia tidak perlu membeli makanan baru untuk waktu makan berikutnya.

Konsep ini berkaitan dengan frugality, yaitu kecenderungan menggunakan sumber daya secara hati-hati dan menghindari pemborosan.

Penelitian Iorfa, Stafford, Bowyer, dan Jack yang diterbitkan dalam Food Quality and Preference pada 2025 menemukan adanya hubungan antara habitual frugality dan kecenderungan menghindari food waste. Dalam penelitian tersebut, kecenderungan hemat yang sudah menjadi kebiasaan berkaitan dengan perilaku yang lebih rendah dalam membuang makanan.Baca penelitian Iorfa dkk.

Artinya, kebiasaan menyimpan makanan sisa bisa saja merupakan salah satu bentuk perilaku hemat.

3. Tidak nyaman ketika harus membuang makanan

Ada orang yang biasa saja ketika harus membuang makanan yang tidak habis. Namun, ada pula yang merasa tidak enak hati.

“Sayang banget kalau dibuang.”

“Padahal masih bisa dimakan.”

“Besok tinggal dipanasin.”

Kalimat-kalimat seperti ini bisa menunjukkan adanya food-waste aversion, yaitu keengganan terhadap pemborosan makanan. Dalam penelitian Raghunathan dan Chandrasekaran, food-waste aversion diperlakukan sebagai konstruk psikologis yang berbeda dari sekadar tidak suka terhadap sampah secara umum. Peneliti mengukurnya melalui aspek afektif, kognitif, dan kecenderungan perilaku.

Karena itu, rasa “sayang membuang makanan” bisa lebih dari sekadar kebiasaan. Ada sikap tertentu terhadap makanan dan pemborosan yang mendasarinya.

4. Memiliki prinsip pribadi untuk tidak menyia-nyiakan makanan

Sebagian orang tumbuh dengan prinsip bahwa makanan tidak boleh dibuang sembarangan. Prinsip tersebut bisa terbentuk dari keluarga, pengalaman hidup, budaya, atau kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun.

Dalam psikologi sosial, hal ini dapat dikaitkan dengan personal norms, yaitu standar atau prinsip yang seseorang gunakan untuk menilai perilakunya sendiri.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social Marketing pada 2024 menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB) yang diperluas dengan Norm Activation Theory (NAT) menemukan bahwa sikap terhadap perilaku, perceived behavioral control, serta norma pribadi yang terbentuk dari kesadaran terhadap konsekuensi dan rasa tanggung jawab berperan dalam membentuk niat mengurangi makanan sisa.Baca penelitian Setiawan dkk. di ScienceDirect

Jadi, ketika seseorang selalu berusaha menyimpan makanan sisa, bisa saja ia sedang mengikuti prinsip sederhana yang sudah tertanam dalam dirinya: jangan membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.

5. Terbiasa merencanakan makanan

Tidak semua orang menyimpan makanan sisa karena tidak tega membuangnya. Ada juga yang memang sudah punya rencana. Lauk makan malam disimpan untuk sarapan. Nasi sisa akan dibuat nasi goreng. Ayam yang belum habis akan digunakan sebagai isian roti atau lauk untuk makan berikutnya. Kebiasaan seperti ini menunjukkan kemampuan dalam mengelola makanan.

Systematic review yang diterbitkan dalam jurnal Appetite menemukan bahwa meal planning, keterampilan menyiapkan makanan, pengetahuan mengenai pengelolaan makanan, dan keterampilan menangani makanan sisa termasuk faktor yang berhubungan dengan perilaku makanan sisa di rumah tangga.

Dengan kata lain, orang yang suka menyimpan makanan sisa belum tentu hanya “sayang membuang makanan”. Bisa saja ia memang terbiasa mengatur menu dan stok makanan di rumah.

6. Merasa mampu memanfaatkan makanan sisa

Ada orang yang melihat nasi sisa sebagai sesuatu yang harus segera dibuang. Ada pula yang langsung berpikir, “Besok dibuat nasi goreng saja.” Perbedaan cara melihat makanan tersebut bisa memengaruhi keputusan seseorang.

Nasi sisa bisa menjadi nasi goreng. Ayam sisa bisa menjadi isian sandwich. Sayuran yang belum habis bisa dimasukkan ke dalam tumisan atau sup.

Kemampuan untuk mengolah makanan sisa membuat seseorang lebih mungkin menyimpannya karena ia tahu bagaimana makanan tersebut akan digunakan.

Hal ini sejalan dengan hasil systematic review Aloysius dkk. yang menunjukkan bahwa food handling skills dan knowledge termasuk faktor yang memengaruhi pengelolaan makanan sisa di rumah tangga.

7. Mempertimbangkan manfaat ekonomi

Menyimpan makanan juga bisa berkaitan dengan cara seseorang memandang pengeluaran. Jika satu porsi makanan masih bisa digunakan untuk makan berikutnya, membuangnya berarti kehilangan manfaat dari uang yang sudah dikeluarkan.

Karena itu, seseorang mungkin memilih menyimpan makanan tersebut agar bisa mengurangi pengeluaran untuk makanan berikutnya. Pertimbangan seperti ini cukup masuk akal, terutama bagi orang yang sedang berusaha mengatur anggaran rumah tangga.

Penelitian tentang food-waste aversion juga menemukan hubungan antara sikap menghindari pemborosan makanan dengan frugality dan beberapa konstruk psikologis lainnya. Namun, bukan berarti setiap orang yang menyimpan makanan sisa pasti sedang mengalami masalah ekonomi. Bisa saja perilaku tersebut sudah menjadi kebiasaan.

8. Memiliki rasa tanggung jawab terhadap pemborosan

Ada orang yang merasa membuang makanan bukan hanya soal kehilangan uang. Makanan membutuhkan bahan baku, tenaga, air, energi, waktu, dan proses panjang sebelum akhirnya sampai ke meja makan. Karena itu, membuang makanan yang masih bisa dimakan dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.

Konsep ini berhubungan dengan awareness of consequences dan ascription of responsibility dalam Norm Activation Theory. Dalam penelitian Setiawan dkk. pada 2024, kesadaran terhadap konsekuensi dan rasa tanggung jawab berperan dalam membentuk norma pribadi yang kemudian berkaitan dengan niat mengurangi makanan sisa.

Karena itu, kebiasaan menyimpan makanan sisa bisa saja muncul dari rasa tanggung jawab, bukan sekadar karena ingin berhemat.

9. Tidak terlalu terganggu dengan makanan sisa

Setiap orang memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda terhadap makanan sisa. Ada yang masih nyaman makan lauk kemarin selama penyimpanannya benar dan makanan masih aman. Ada pula yang langsung kehilangan selera begitu mengetahui makanan tersebut bukan makanan yang baru dimasak.

Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan konsep food disgust, yaitu respons jijik terhadap makanan atau kondisi tertentu pada makanan. Dalam konteks perilaku makanan sisa, tingkat rasa jijik dapat memengaruhi apakah seseorang bersedia menggunakan kembali makanan tersebut atau memilih membuangnya.

Jadi, orang yang cenderung menyimpan makanan sisa bisa saja memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap kondisi makanan yang masih dianggap layak konsumsi. Namun, rasa tidak jijik bukan berarti makanan tersebut otomatis aman dimakan. Keamanan makanan tetap harus menjadi pertimbangan utama.

10. Kebiasaannya bisa terbentuk dari lingkungan keluarga

Cara seseorang memperlakukan makanan sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan yang sudah dilihat sejak kecil. Jika di rumah orang tua terbiasa menyimpan lauk, memasak kembali nasi, atau mengolah makanan sisa menjadi menu baru, anak bisa menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Sebaliknya, seseorang yang sejak kecil terbiasa membuang makanan yang tidak langsung habis mungkin mempunyai kebiasaan yang berbeda. Systematic review mengenai pengelolaan makanan sisa juga menunjukkan bahwa perilaku tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga faktor sosial, gaya hidup, dan lingkungan rumah tangga.

Artinya, kebiasaan menyimpan makanan tidak selalu berasal dari kepribadian seseorang. Lingkungan tempat ia tumbuh juga dapat ikut membentuk perilaku tersebut.

Menyimpan Makanan Sisa Tidak Berarti Punya Masalah Psikologis

Hal yang penting untuk diingat adalah jangan buru-buru memberikan label psikologis pada kebiasaan sederhana.

Seseorang bisa menyimpan makanan sisa karena hemat. Orang lain mungkin melakukannya karena tidak ingin mubazir. Ada yang memang terbiasa merencanakan makanan, sementara yang lain ingin memaksimalkan bahan makanan yang sudah dibeli.

Frugality atau kecenderungan hemat sudah menjadi kebiasaan berkaitan dengan kecenderungan menghindari food waste.

Jadi, ketika seseorang berkata, “Aku nggak tega buang makanan, simpan saja buat besok,” ada banyak kemungkinan alasan di baliknya.

Bisa jadi dia memang hemat. Bisa jadi sejak kecil dia diajarkan untuk tidak mubazir. Bisa jadi dia terbiasa mengatur makanan. Atau memang menurutnya makanan tersebut masih terlalu berharga untuk dibuang.

Yang perlu diperhatikan bukan sekadar berapa banyak makanan yang disimpan, tetapi apakah makanan tersebut masih aman dikonsumsi dan apakah kebiasaan menyimpan tersebut masih berada dalam batas yang wajar.

Pertanyaan Seputar Kebiasaan Menyimpan Makanan Sisa

1. Apakah orang yang suka menyimpan makanan sisa berarti memiliki sifat hemat?

Belum tentu. Kebiasaan tersebut bisa dipengaruhi berbagai faktor, seperti keinginan mengurangi pemborosan, pertimbangan ekonomi, kebiasaan di rumah, serta cara seseorang mengelola makanan. Jadi, tidak tepat menyimpulkan seseorang pasti hemat hanya karena sering menyimpan makanan sisa.

2. Apakah menyimpan makanan sisa berkaitan dengan kepribadian seseorang?

Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara karakteristik kepribadian dan perilaku food waste. Namun, satu kebiasaan tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang. Kebiasaan menyimpan makanan sisa dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk motivasi, perencanaan makanan, kondisi ekonomi, dan kebiasaan sehari-hari.

3. Apakah menyimpan makanan sisa merupakan kebiasaan yang baik?

Bisa menjadi kebiasaan yang baik jika makanan disimpan dengan benar dan dikonsumsi sebelum tidak lagi aman atau layak dimakan. Menyimpan makanan sisa juga dapat membantu mengurangi pemborosan makanan. Namun, jangan menyimpan makanan hanya karena merasa sayang membuangnya jika kondisinya sudah berubah atau tidak aman dikonsumsi.