Kepribadian Orang Suka Peluk Guling Saat Tidur, Benarkah Punya Sifat Tertentu?

Apakah kepribadian orang suka peluk guling saat tidur benar-benar dapat diketahui dari kebiasaan tersebut? Simak penjelasan di bawah ini.

Diterbitkan 01 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan tidur setiap orang dapat berbeda, mulai dari posisi tubuh, jenis bantal, hingga benda tertentu sebagai teman beristirahat. Salah satu kebiasaan cukup umum ialah memeluk guling sepanjang malam. Bagi sebagian orang, aktivitas sederhana ini terasa menenangkan dan membuat tubuh lebih rileks. Tidak mengherankan bila kepribadian orang suka peluk guling saat tidur kerap menarik perhatian.

Guling bukan hanya berfungsi sebagai penyangga tubuh, tetapi juga memberikan sensasi nyaman ketika dipeluk. Ada orang yang memilih posisi ini sejak kecil dan terus membawanya hingga dewasa. Ada pula individu merasa lebih tenang ketika memperoleh tekanan lembut pada tubuh sebelum terlelap. Dari kebiasaan sederhana itu, muncul rasa penasaran mengenai kepribadian orang suka peluk guling saat tidur.

Selain faktor emosional, alasan seseorang memeluk guling dapat berasal dari kenyamanan fisik. Guling bisa membantu menyangga kaki, lengan, maupun tubuh saat tidur menyamping. Preferensi posisi tersebut membuat aktivitas memeluk terasa natural bagi sebagian individu.

Lantas, apa saja karakter menarik di balik kebiasaan tersebut? Simak pembahasan kepribadian orang suka peluk guling saat tidur berikut ini yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (1/9/2026).

1. Menyukai Kenyamanan dan Rasa Aman

Orang yang terbiasa memeluk guling saat tidur mungkin memiliki preferensi terhadap sensasi tubuh terasa lebih nyaman, stabil, dan rileks ketika beristirahat. Pelukan pada benda yang lembut dapat memberikan tekanan ringan pada bagian tubuh tertentu, sehingga sebagian orang merasa lebih tenang dan mudah menemukan posisi tidur paling nyaman. Bagi mereka, guling bukan sekadar perlengkapan tempat tidur, melainkan bagian dari rutinitas malam hari.

Kebiasaan ini juga dapat menjadi bentuk self-soothing, yaitu cara sederhana seseorang membantu dirinya sendiri merasa lebih rileks setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari. Setelah menghadapi pekerjaan, tugas rumah, perjalanan, maupun tekanan emosional, memeluk guling dapat memberikan sensasi familiar sebelum memasuki waktu tidur. Meski begitu, kebiasaan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya masalah emosional atau kondisi psikologis tertentu.

2. Cenderung Menyukai Kedekatan Emosional

Sebagian orang memiliki kebutuhan lebih besar terhadap kedekatan, kehangatan, dan rasa terhubung dalam hubungan interpersonal. Mereka mungkin merasa nyaman ketika mendapatkan pelukan, duduk berdekatan bersama orang terkasih, atau menunjukkan perhatian melalui sentuhan fisik. Bagi kelompok ini, kontak fisik dapat menjadi salah satu cara untuk merasakan keakraban dan membangun rasa nyaman bersama orang lain.

Kebiasaan memeluk guling terkadang dikaitkan pada kebutuhan tersebut, terutama sebab posisi memeluk dapat memberikan sensasi kedekatan meskipun dilakukan saat sedang tidur. Akan tetapi, hal ini tidak berarti setiap orang yang suka memeluk guling pasti membutuhkan hubungan romantis atau mempunyai karakter tertentu. Preferensi tidur sangat individual dan dapat terbentuk melalui pengalaman, kebiasaan, kondisi fisik, maupun sekadar rasa nyaman.

3. Memiliki Sisi Penyayang

Memeluk merupakan salah satu bentuk kontak fisik yang sering diasosiasikan pada kasih sayang, kehangatan, dan rasa nyaman. Tidak mengherankan apabila kebiasaan tidur sambil memeluk guling terkadang dianggap mencerminkan adanya sisi penyayang dalam diri seseorang. Individu tersebut mungkin juga senang memberikan perhatian, menunjukkan kepedulian, atau memastikan orang-orang terdekat merasa diperhatikan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sifat penyayang dapat terlihat melalui berbagai tindakan sederhana, seperti membantu keluarga, mendengarkan cerita teman, memberikan dukungan kepada pasangan, atau hadir ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Meski demikian, hubungan antara kebiasaan tidur dan sifat penyayang tidak dapat dijadikan kesimpulan psikologis secara mutlak. Karakter seseorang jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan sebelum tidur.

4. Senang Menenangkan Diri Sebelum Tidur

Memeluk guling dapat menjadi bagian dari rutinitas pribadi untuk membuat tubuh dan pikiran terasa lebih santai menjelang tidur. Seseorang mungkin merasa lebih mudah mengantuk setelah menemukan posisi tertentu, termasuk berbaring menyamping sambil memeluk guling. Sensasi tersebut dapat menciptakan suasana familiar sehingga tubuh lebih siap memasuki waktu istirahat.

Bagi orang yang mudah memikirkan banyak hal sebelum tidur, rutinitas sederhana seperti memeluk guling dapat memberikan rasa nyaman dan membantu mengalihkan perhatian dari aktivitas sepanjang hari. Kebiasaan berulang juga dapat menjadi sinyal bagi tubuh bahwa waktu untuk beristirahat sudah tiba. Meski demikian, apabila seseorang mengalami gangguan tidur berkepanjangan, kecemasan berat, atau pikiran terus-menerus mengganggu waktu istirahat, penyebabnya sebaiknya tidak hanya dikaitkan pada kebiasaan tidur.

5. Bisa Memiliki Empati yang Tinggi

Orang berempati tinggi biasanya lebih peka terhadap perasaan orang lain dan mampu memberikan perhatian ketika seseorang sedang membutuhkan dukungan. Mereka cenderung berusaha memahami sudut pandang orang lain, mendengarkan secara aktif, serta memberikan respons sesuai situasi. Dari sinilah muncul anggapan bahwa seseorang yang menyukai sensasi pelukan mungkin juga mempunyai kebutuhan terhadap kehangatan emosional.

Meski begitu, penting untuk tidak menganggap kebiasaan memeluk guling sebagai bukti seseorang mempunyai empati tinggi. Empati lebih tepat dinilai melalui perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti kemampuan mendengarkan tanpa menghakimi, memahami perspektif berbeda, menghargai perasaan orang lain, dan memberikan dukungan secara tulus. Jadi, memeluk guling hanya dapat dianggap sebagai kebiasaan tidur, bukan alat untuk menentukan tingkat empati seseorang.

6. Cenderung Menghargai Waktu Istirahat

Orang yang memiliki kebiasaan tidur sambil memeluk guling mungkin mempunyai rutinitas tertentu agar tubuh terasa nyaman sebelum beristirahat. Mereka bisa saja lebih memperhatikan posisi tidur, jenis bantal, tingkat kelembutan kasur, suhu kamar, pencahayaan, hingga suasana lingkungan sebelum memejamkan mata. Kebiasaan tersebut menunjukkan adanya preferensi pribadi terhadap kondisi tidur tertentu.

Seseorang mungkin membutuhkan suasana kamar tenang, selimut tertentu, bantal favorit, atau guling sebagai bagian dari ritual sebelum tidur. Hal ini sebenarnya cukup wajar sebab setiap individu mempunyai cara berbeda untuk menciptakan kondisi istirahat ideal. Jadi, kebiasaan memeluk guling lebih tepat dipahami sebagai bentuk preferensi kenyamanan daripada indikator kepribadian tertentu.

7. Memiliki Kebiasaan yang Terbentuk Sejak Kecil

Kebiasaan memeluk guling dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak dan terus terbawa hingga seseorang memasuki usia dewasa. Ada individu sejak kecil merasa lebih nyaman tidur sambil memeluk bantal, boneka, selimut, atau guling. Kebiasaan tersebut kemudian dilakukan berulang kali hingga menjadi bagian alami dari rutinitas tidur.

Ketika suatu perilaku dilakukan selama bertahun-tahun, tubuh dapat menganggapnya sebagai posisi tidur familiar. Akibatnya, seseorang mungkin merasa ada sesuatu yang kurang ketika harus tidur tanpa guling kesayangan. Jadi, tidak selalu terdapat makna emosional mendalam di balik kebiasaan tersebut. Bisa saja penyebabnya sangat sederhana, yaitu tubuh sudah terbiasa merasa nyaman melalui posisi tidur tersebut.

8. Menyukai Sensasi Tekanan pada Tubuh

Selain faktor psikologis, alasan seseorang memeluk guling bisa sangat sederhana, yaitu menyukai kenyamanan fisik. Guling dapat membantu menyangga lengan, kaki, pinggul, atau bagian tubuh tertentu ketika seseorang tidur dalam posisi menyamping. Posisi tersebut bagi sebagian individu terasa lebih stabil dibandingkan tidur tanpa penyangga tambahan.

Sensasi tekanan lembut saat memeluk guling juga dapat membuat tubuh terasa lebih tertopang selama beristirahat. Bagi sebagian orang, hal tersebut membantu menemukan posisi tidur favorit tanpa perlu mengubah posisi terlalu sering. Jadi, kebiasaan memeluk guling tidak harus selalu dikaitkan pada sifat, kebutuhan emosional, atau kondisi psikologis tertentu. Bisa saja seseorang melakukannya semata-mata sebab posisi tersebut paling nyaman bagi tubuhnya.

Pertanyaan Seputar Kepribadian Orang Suka Peluk Guling Saat Tidur

Apakah suka memeluk guling saat tidur menunjukkan kepribadian tertentu?

Belum tentu. Kebiasaan memeluk guling dapat dipengaruhi kenyamanan fisik, posisi tidur, kebiasaan sejak kecil, atau kebutuhan untuk merasa lebih rileks. Jadi, karakter seseorang tidak bisa ditentukan hanya dari cara tidurnya.

Orang yang suka peluk guling biasanya memiliki sifat seperti apa?

Secara umum, kebiasaan ini sering dikaitkan dengan pribadi yang menyukai kenyamanan, rasa aman, dan kedekatan emosional. Meski begitu, anggapan tersebut tidak berlaku untuk semua orang dan bukan merupakan penilaian psikologis pasti.

Benarkah orang suka peluk guling memiliki sifat penyayang?

Bisa saja, tetapi tidak ada hubungan pasti antara kebiasaan memeluk guling dan sifat penyayang. Karakter penyayang lebih tepat dilihat dari cara seseorang memperlakukan pasangan, keluarga, teman, maupun orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah memeluk guling saat tidur merupakan tanda seseorang merasa kesepian?

Tidak selalu. Banyak orang memeluk guling hanya sebab merasa posisi tersebut nyaman. Rasa kesepian tidak dapat disimpulkan hanya melalui kebiasaan tidur.