Liputan6.com, Kathmandu - Perdana Menteri (PM) Nepal Balendra Shah mengatakan perubahan iklim turut menjadi faktor di balik banjir bandang bak tsunami yang melanda negaranya pada 26 Agustus 2026.
Dalam unggahan di media sosial, Balendra menyebut suhu di kawasan Himalaya telah meningkat hingga 1,8 derajat Celsius akibat perubahan iklim.
"Tidak ada keraguan bahwa perubahan iklim menjadi salah satu faktor di balik bencana ini," kata Balendra.
Advertisement
Balendra menggarisbawahi para ahli menduga bencana tersebut berkaitan dengan runtuhnya massa es dan salju. Ia pun mempertanyakan apa yang menyebabkan es dan bebatuan runtuh hingga memicu datangnya air dalam jumlah besar.
"Sudah saatnya bukan hanya kawasan ini meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga bagi kita untuk menyampaikan dengan tegas kepada masyarakat internasional berbagai bencana yang harus kita hadapi akibat perubahan iklim. Mengapa es dan bebatuan runtuh? Dari mana datangnya air sebanyak itu? Peradaban manusia harus menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut," ujarnya.
Menurut laporan CNN, kontribusi Nepal terhadap emisi yang menyebabkan pemanasan global sangat kecil, yakni kurang dari 0,1 persen dari total emisi dunia. Bencana ini menjadi pengingat bahwa negara-negara yang paling sedikit menyumbang terhadap krisis iklim justru dapat menghadapi dampak yang sangat besar.
Banjir bandang membuat rencana kehadiran PMÂ Balendra dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York dipertimbangkan kembali.
Menurut kantor perdana menteri, Balendra kini disarankan untuk hadir langsung dalam sidang tersebut. Sebelumnya, delegasi Nepal direncanakan dipimpin oleh menteri luar negeri.
"Dengan mempertimbangkan perkembangan situasi di dalam negeri, terutama setelah banjir, perdana menteri disarankan menghadiri Sidang Majelis Umum," demikian pernyataan kantornya.
Namun, belum ada keputusan resmi mengenai kehadiran Balendra dalam sidang tersebut.
Korban Tewas Meningkat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337656/original/001681700_1788252337-nep1.jpg)
Runtuhnya gletser pada 26 Agustus memicu terjangan air yang membawa es, bebatuan, dan lumpur ke kawasan perbatasan Nepal dengan China.
Badan penanggulangan bencana Nepal pada Selasa (1/9/2026) mengatakan sedikitnya 639 orang masih terjebak di sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang rusak parah. Lokasi-lokasi tersebut kini menjadi fokus operasi penyelamatan.
Jumlah korban tewas telah mencapai 1.050 orang, sementara sekitar 4.000 lainnya masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 583 merupakan warga negara asing.
Berdasarkan perkiraan awal Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), bencana itu meninggalkan sedikitnya 2,2 juta ton puing dan material, termasuk bagian bangunan, bebatuan, serta endapan lumpur.
"Jumlah material yang tersisa menunjukkan besarnya kerusakan sekaligus beratnya tantangan yang dihadapi warga untuk membersihkan rumah, jalan, dan ruang publik sebelum mulai membangun kembali," kata UNDP.
PMÂ Balendra mengatakan lebih dari 11.000 orang telah diselamatkan. Aliran listrik dan jaringan komunikasi sudah kembali berfungsi di sejumlah daerah.
Keterangan itu disampaikan Balendra melalui unggahan di media sosial pada Senin (31/8).
Seorang warga Distrik Rasuwa, salah satu wilayah yang terdampak paling parah, mengatakan tidak sempat membawa apa pun ketika menyelamatkan diri. Ia berjalan menuju Nuwakot bersama puluhan korban lainnya.
"Kami tidak sempat mengambil apa pun sebelum melarikan diri," katanya. "Pakaian yang kami kenakan ini satu-satunya yang kami punya. Itu pun basah karena hujan."
Di China, tim penyelamat bekerja sepanjang malam untuk membuka kembali akses menuju perbatasan Nepal. Medan yang harus dilalui berupa ngarai pegunungan yang curam, dengan tebing yang rawan runtuh dan aliran sungai yang deras.
Kementerian Luar Negeri China mengatakan Beijing akan mengirim ahli pemeriksaan DNA ke daerah terdampak bencana. China juga akan mengirim bantuan tahap kedua, termasuk drone dan peralatan pemurnian air.
Korea Selatan turut mengirim tim bantuan darurat beranggotakan 44 orang untuk membantu pencarian dan penyelamatan di Rasuwa. Sembilan warga Korea Selatan yang bekerja di sebuah proyek PLTA di daerah tersebut masih dinyatakan hilang.
Pekan lalu, Nepal menolak keterlibatan asing dalam operasi pencarian dan penyelamatan secara umum. Namun, pemerintah mengatakan tetap membutuhkan bantuan khusus dan dukungan teknologi canggih, seperti alat pendeteksi tanda-tanda kehidupan, lemari pendingin berukuran besar, serta jembatan prefabrikasi.
Menurut Balendra, bantuan senilai lebih dari US$ 42 juta telah masuk ke Nepal sejak bencana terjadi. Nilainya diperkirakan masih akan bertambah.
Ia mengatakan 279 pekerja telah diselamatkan dari sejumlah proyek PLTA. Tim gabungan dari Nepal, India, dan China terlibat dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Upaya penyelamatan di sejumlah PLTA masih menghadapi kendala berat. Seorang sumber militer mengatakan terowongan yang ambruk dan air banjir menyulitkan petugas mencapai beberapa lokasi yang diyakini menjadi tempat terjebaknya banyak orang.
Asish Gurung, pemandu gunung yang membantu operasi penyelamatan di terowongan, mengatakan kondisi di PLTA Trishuli membuat petugas tidak dapat masuk.
"Dari pengamatan awal kami, tidak mungkin bagi manusia untuk masuk ke dalam terowongan," kata Gurung dari Desa Haku di Distrik Rasuwa.
"Kami membutuhkan alat berat seperti buldoser dan ekskavator. Mungkin ada sekitar 500 orang yang terjebak di dalam."
Pembangunan PLTA berkembang pesat di Nepal sejak awal abad ini. Negara yang sebagian besar wilayahnya berupa pegunungan itu berupaya memanfaatkan sumber daya air Himalaya untuk mengatasi kekurangan listrik berkepanjangan di dalam negeri sekaligus meningkatkan ekspor listrik ke India.
Â
Asisten Sekretaris Jenderal PBB Kanni Wignaraja mengatakan Nepal, yang bergantung pada gletser sebagai sumber pendapatan sekaligus pasokan air, kini menghadapi pilihan-pilihan yang sangat sulit.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359126/original/045528800_1758620783-OJK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337309/original/008779100_1788240212-cek_fakta_-_pinjol_ojk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540335/original/036052500_1774706090-Untitled.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5274798/original/066437500_1751802590-0d9f9f09-d839-4278-bf54-894c5927d853.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4429973/original/076018700_1684229568-26562b3b-bde9-43f5-b1c3-3c57930772fd.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316015/original/054006600_1785908189-IMG_2697.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5345823/original/061462700_1757574354-1000016136.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/737309/original/052660400_1410772785-HASHIM-DJOJOHADIKUSUMO-20140915-Johan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317691/original/033742700_1755400953-WhatsApp_Image_2025-08-17_at_10.20.37_5c23d9e3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571647/original/031336500_1777682659-246a588b-8959-4b3e-b4f0-f599bd0e6201.jpg)