China Peringatkan Dampak Kehadiran Taiwan di Forum Kepulauan Pasifik

Ketegangan antara China dan Taiwan menjadi salah satu isu dalam Forum Kepulauan Pasifik, yang digelar untuk menunjukkan persatuan negara-negara di Pasifik.

Diterbitkan 01 September 2026, 17:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - China menyatakan sangat keberatan dengan kehadiran Taiwan dalam pertemuan tahunan Forum Kepulauan Pasifik di Palau. Beijing bahkan memperingatkan akan ada "konsekuensi" setelah perwakilan Taiwan menghadiri upacara pembukaan forum tersebut pada Senin (31/8/2026).

China menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Ketegangan antara China dan Taiwan menjadi salah satu isu yang menonjol dalam pertemuan tersebut, yang digelar untuk menunjukkan persatuan negara-negara di kawasan Pasifik.

"Akan selalu ada konsekuensi," kata utusan khusus China untuk urusan Kepulauan Pasifik Qian Bo seusai upacara pembukaan di Palau pada Senin ketika ditanya mengenai kehadiran Taiwan dalam acara tersebut seperti dilaporkan CNA. 

"Ini bukan ancaman," ujarnya tanpa menjelaskan konsekuensi yang dimaksud.

Ia menambahkan, "Hal ini ditentang semua pihak, jadi seharusnya tidak terjadi. Kami menilai tindakan tersebut sangat tidak pantas."

Palau merupakan negara kepulauan yang terdiri atas lebih dari 500 pulau dan masih menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menegaskan bahwa keputusan mengenai forum tersebut berada di tangan negara-negara anggotanya.

"Forum Kepulauan Pasifik yang menentukan apa yang terjadi di sini, bukan negara lain," tegas Albanese ketika ditanya wartawan mengenai pernyataan utusan China.

"Ini pada dasarnya merupakan pertemuan keluarga Pasifik ... dan saya menantikan keterlibatan dalam forum ini," ujarnya pada Selasa.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan Forum Kepulauan Pasifik tidak menerima arahan dari negara-negara di luar kelompok tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-lung mengatakan Taiwan merasa terhormat dapat menjadi mitra negara-negara di kawasan Pasifik.

"Taiwan merasa terhormat dapat menjadi mitra di Pasifik, terus berdiri bersama semua pihak dan bekerja sama untuk menjadikan kawasan Pasifik lebih makmur dan damai," kata Lin pada Senin.

Lin diundang untuk menghadiri sejumlah pertemuan dan acara pendamping yang digelar bersamaan dengan forum.

Taiwan bukan mitra dialog resmi Forum Kepulauan Pasifik seperti China, melainkan berstatus sebagai mitra pembangunan. Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Inggris, Kanada, India, dan Jepang termasuk di antara 21 mitra dialog forum tersebut.

 

Persaingan Pengaruh di Pasifik

China secara bertahap mengurangi jumlah negara Kepulauan Pasifik yang memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan. Kini hanya tiga negara yang masih mempertahankan hubungan tersebut, yakni Palau, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall.

Para pemimpin Fiji, Vanuatu, Samoa, Kepulauan Solomon, dan Kiribati tidak menghadiri pertemuan kelompok yang beranggotakan 18 negara tersebut. Negara-negara itu mengirimkan menteri sebagai perwakilan.

Forum Kepulauan Pasifik beranggotakan Australia, Selandia Baru, serta negara-negara kepulauan di kawasan Pasifik.

Meski China merupakan mitra dagang terbesar Australia, Canberra tetap mewaspadai pengaruh Beijing yang semakin besar di kawasan Pasifik.

Australia pun meningkatkan kerja sama keamanan dan pembangunan dengan negara-negara kepulauan di kawasan tersebut sebagai upaya mencegah adanya kehadiran militer permanen China di Pasifik.

Australia, Selandia Baru, dan AS sejak lama memandang Pasifik Selatan sebagai kawasan yang berada dalam lingkup pengaruh mereka.

Upaya tersebut kembali terlihat pada Selasa. Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan di sela-sela pertemuan, Selandia Baru dan AS mengatakan akan bersama-sama mendanai proyek besar untuk meningkatkan fasilitas sebuah pelabuhan era Perang Dunia II di salah satu atol di Kepulauan Cook.