Liputan6.com, Kyiv - Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina atau dalam bahasa Ukraina Sluzhba Zovnishnoyi Rozvidky Ukrayiny (SZRU) mengungkap identitas delapan warga negara Indonesia (WNI) yang direkrut Rusia untuk berperang melawan Ukraina.
Seperti dilaporkan UNN, delapan WNI yang teridentifikasi dalam dokumen yang diperoleh SZRU adalah:
- Erwanda, lahir 5 Agustus 1988
- Muhammad Syaripudin, lahir 3 Agustus 1994
- Putra Pratama Yuda, lahir 9 Agustus 1997
- Hudri Fadli Ngangun, lahir 17 September 1978
- M. Hadi Maulana, lahir 7 April 1987
- Dwi Kencana Haryanto, lahir 14 Juli 1983
- Wahyu Oktavian Iskandar, lahir 22 Oktober 1985
- Helmi Hakim Nugraha, lahir 27 November 1983
Dalam pernyataannya, SZRU mengatakan Rusia terus merekrut warga asing untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina. Indonesia menjadi negara terbaru yang menjadi sasaran perekrutan tersebut.
Advertisement
"Kremlin kini mencari orang-orang dari Indonesia untuk dikirim ke medan perang. Rusia terus secara sistematis melibatkan warga negara asing dalam perang melawan Ukraina," bunyi pernyataan itu.
Menurut intelijen Ukraina, perekrutan warga asing dilakukan untuk menambah personel di garis depan sekaligus dimanfaatkan Rusia untuk kepentingan propaganda. Kehadiran mereka dalam pasukan Rusia digunakan untuk membangun kesan seolah-olah apa yang Rusia sebut sebagai "operasi militer khusus" mendapat dukungan dari berbagai negara.
Perekrutan itu juga dikaitkan dengan meningkatnya ketidakpuasan di Rusia terhadap kondisi sosial-ekonomi, perang, serta rencana gelombang mobilisasi baru. Tingkat ketidakpuasan mencapai 69 persen. Pada saat yang sama, jumlah warga Rusia yang bersedia secara sukarela menandatangani kontrak militer terus menurun.
"Indonesia menjadi contoh terbaru dari pola tersebut," bunyi pernyataan itu.
Pola serupa sebelumnya telah diterapkan di puluhan negara. Tawaran bayaran tinggi, pekerjaan yang tidak melibatkan pertempuran, percepatan memperoleh kewarganegaraan Rusia, serta jaminan sosial digunakan untuk menarik warga asing yang kerap tidak mengetahui ke mana mereka sebenarnya akan dikirim.
Warga Nepal, Kuba, Kenya, dan India termasuk yang sebelumnya direkrut dengan pola tersebut. Sebagian besar dari mereka akhirnya dikirim ke garis depan tanpa pelatihan, sementara sebagian lainnya tewas hanya dalam beberapa pekan pertama.
"Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dan berpenduduk lebih dari 280 juta jiwa, kini masuk dalam daftar negara yang menjadi sumber tenaga murah bagi perang Kremlin," bunyi pernyataan tersebut.
Sebelumnya, Rusia diberitakan merekrut warga Afrika melalui iklan lowongan pekerjaan. Paspor mereka disita, lalu mereka dipaksa ikut berperang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333506/original/017979900_1787792443-ev9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573660/original/028626000_1777948829-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-05-05T093819.531.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336134/original/003861200_1788139537-WhatsApp_Image_2026-08-31_at_08.20.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4308521/original/001589900_1675144952-20230131-TvBoy-Perang-Ukraina-AP-7.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8133451/original/029203800_1780985455-AC71B8A2-01A6-456E-8CDA-FBE01AEEC42A.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1679084/original/064714700_1502716829-20170814-Retno-Marsudi-CMS-GM5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5512283/original/093403400_1771938746-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335381/original/035169200_1787975471-IMG_9045.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7661452/original/041089100_1780454870-shawn-rQQIz-5godo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5512283/original/093403400_1771938746-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5388852/original/008597000_1761138914-chris-hardy-BPsHlVTZKAk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5171073/original/017393600_1742616072-cf71bdc0-40d7-4107-8895-8a9533bc0854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333506/original/017979900_1787792443-ev9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4729325/original/021423500_1706521231-20240129-Houthi-Yaman-AFP-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327186/original/008754800_1787056582-WhatsApp_Image_2026-08-18_at_00.34.29.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7767979/original/011455400_1780578714-IMG_3908__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5480373/original/066146800_1769054891-1.jpg)