Warga Beralih ke Pertalite, Bahlil Hitung Potensi Kelebihan Kuota Subsidi

Imbas migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite, Bahlil menghitung potensi kelebihan kuota BBM subsidi, namun memastikan harga Pertalite aman hingga akhir 2026.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa pemerintah masih menghitung potensi kelebihan (oversupply) penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite sepanjang 2026. Bahlil tak menampik adanya fenomena migrasi atau peralihan konsumsi masyarakat dari Pertamax ke Pertalite.

Kementerian ESDM dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengidentifikasi potensi penyaluran Pertalite melampaui kuota tahunan yang ditetapkan. BPH Migas mencatat rata-rata konsumsi Pertalite sempat tembus 85.589 kiloliter (KL) per hari pada Juli 2026.

"Kami masih terus menghitung potensi kelebihannya berapa," ujar Bahlil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Bahlil memaparkan bahwa fenomena beralihnya konsumen BBM non-subsidi (Pertamax series) ke Pertalite memuncak saat harga BBM nonsubsidi melonjak mengikuti tren harga minyak dunia.

"Ketika harga BBM dunia naik, sebagian pengguna RON 92 (Pertamax) beralih mengisi RON 90 (Pertalite), sehingga terjadi peningkatan konsumsi. Namun, angka pasti kenaikannya masih kami hitung," jelasnya.

Data BPH Migas mencatat lonjakan konsumsi Pertalite hingga 12% pada Juli 2026 dibandingkan periode sebelum kenaikan harga Pertamax.

 

Pemerintah Pastikan Harga Pertalite Tak Naik Hingga Akhir 2026

Di tengah lonjakan konsumsi ini, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga harga Pertalite tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan hingga Desember 2026.

"Apa pun yang terjadi, harga BBM subsidi—khususnya subsidi—tidak akan kami naikkan sampai Desember 2026, sambil terus memantau dinamika global," tuturnya.

"Namun untuk harga BBM non-subsidi, kami serahkan ke mekanisme harga pasar. Penyesuaian akan dilakukan mengikuti dinamika yang ada," lanjut Bahlil.

 

Disparitas Harga Memicu Migrasi Konsumen

Secara terpisah, Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengungkapkan bahwa rentang harga (disparitas) yang terlampau lebar antara BBM subsidi dan non-subsidi menjadi pemicu utama masyarakat beralih menggunakan Pertalite maupun Biosolar.

"Walaupun pada akhir Agustus 2026 terjadi penurunan harga pada kategori Pertamax dan Dex series, disparitas harganya masih tergolong lebar. Hal ini mendorong banyak masyarakat melakukan shifting ke BBM subsidi dan kompensasi negara," kata Wahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI.

Rincian Kenaikan Konsumsi

Wahyudi menerangkan bahwa tren kenaikan konsumsi Pertalite mulai terlihat sejak penyesuaian harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026. Saat itu, harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter, Pertamax Green Rp 17.000 per liter, dan Pertamax Turbo Rp 20.750 per liter, sedangkan Pertalite bertahan di harga Rp 10.000 per liter.

  • Juni 2026: Konsumsi Pertalite naik rata-rata 9,19% menjadi 82.760 KL per hari (dari sebelumnya 75.795 KL per hari).
  • Juli 2026: Konsumsi melonjak 12,92% menjadi 85.589 KL per hari, meski harga Pertamax Turbo sempat turun ke Rp 19.300 per liter.
  • Agustus 2026: Konsumsi berada pada level tinggi dengan kenaikan rata-rata 11,31% menjadi 84.368 KL per hari. Pada periode ini, Pertamax disesuaikan turun ke Rp 15.950 per liter, Pertamax Green Rp 16.600 per liter, dan Pertamax Turbo Rp 18.300 per liter.

"Konsumsi Pertalite tercatat naik lumayan tinggi pasca-kenaikan harga BBM non-subsidi," tambahnya.

 

Konsumsi Melebihi Alokasi Daerah

BPH Migas mencatat sejumlah wilayah mengalami lonjakan konsumsi Pertalite di atas alokasi rata-rata harian yang ditetapkan, meliputi wilayah Sumatra, Jawa-Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku dan Papua. Meski demikian, stok nasional dipastikan dalam kondisi aman.

"Beberapa provinsi memang mencatatkan kenaikan konsumsi, tetapi terkait alokasi kuota yang diberikan, insyaallah masih mencukupi untuk disalurkan kepada masyarakat," tutup Wahyudi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6