AS Siap Sanksi Bank Lagi demi Menekan Iran

Pada pertemuan G20, Menteri Keuangan Scott Bessent juga akan mengajak kerja sama anggota negara G20 untuk melawan Iran.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (ASDonald Trump berencana memberi sanksi bank lain pekan ini seiring upaya meningkatkan dalam mengisolasi ekonomi Iran.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Associated Press, Minggu, 30 Agustus 2026, dikutip Senin, (31/8/2027).

"Ini akan menjadi kekerasan finansial jika memang harus terjadi,” kata Bessent dalam wawancara tersebut.

"Kami menunjukkan kepada orang-orang bahwa kami tahu siapa Anda, Anda tahu siapa Anda, dan ini harus dihentikan," ia menambahkan.

Bessent menyampaikan kepada AP menjelang pertemuan G20 di Asheville, Carolina Utara, di mana ia hendak berdiskusi secara individual dengan anggota kelompok dari negara ekonomi maju dan berkembang di dunia demi bekerja sama melawan Iran.

Bessent berencana fokus mendorong pertumbuhan ekonomi dalam pertemuannya yang berlangsung di tengah pengawasan ketat terkait program pembelian kembali obligasi yang tidak biasa, pendekatan terhadap utang AS senilai US$ 40 triliun atau Rp 708.600 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.730), serta bagaimana ia membela keputusan Departemen Keuangan untuk mengecualikan wartawan tertentu dari peliputan acara tersebut.

Bessent tidak menyebutkan nama bank yang akan diberi sanksi pekan ini. Komentar Bessent muncul setelah pemerintahan Trump memberi sinyal untuk beralih dari serangan militer ke tekanan ekonomi selama perang enam bulan ini, menjanjikan apa yang disebutnya sebagai “economic D-Day” terhadap Iran.

 

China sebagai Mitra Dagang Terbesar Iran, Akankah Trump Beri Sanksi?

Saat ini, AS berupaya menekan Iran dengan permusuhan yang kembali memanas pada Minggu. Pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Selat Hormuz dalam aksi militer pertama mereka dalam sebulan, mengakhiri jeda pertempuran. Merespons hal tersebut, Iran bersumpah akan membalas ‘serangan mematikan’ AS.

Pemerintahan Trump sebagian besar juga mengandalkan peringatan daripada sanksi baru terhadap mitra dagang Iran. Muncul sejumlah pertanyaan mengenai sikap Trump terhadap Cina, yang merupakan mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama minyaknya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6