Liputan6.com, Washington, DC - Teleskop luar angkasa terbaru NASA meluncur pada Minggu untuk mencari eksoplanet atau planet di luar Tata Surya, menyelidiki energi gelap, dan memetakan alam semesta dalam cakupan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
SpaceX meluncurkan Roman Space Telescope senilai US$ 4,3 miliar tak lama setelah Matahari terbit menggunakan roket Falcon Heavy. Teleskop itu kini melaju menuju titik pengamatan sekitar 1,6 juta kilometer dari Bumi, lokasi yang juga menjadi tempat beroperasinya James Webb Space Telescope.
Roman membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan untuk mencapai lokasi pengamatannya.
Advertisement
Setelah tiba, Roman akan mengamati bagian-bagian alam semesta yang selama ini sulit dijangkau dengan bidang pandang yang sangat luas. Kemampuan itu memungkinkan Roman menemukan berbagai objek di alam semesta dalam jumlah sangat besar dan dengan kecepatan yang belum pernah dicapai sebelumnya.
"Roman akan menemukan ribuan supernova atau ledakan bintang, puluhan ribu planet, miliaran galaksi, dan puluhan miliar bintang," kata Direktur Misi Sains NASA Nicky Fox seperti dilaporkan Associated Press.
"Dengan bidang pandangnya yang sangat luas, Roman akan mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah bisa kami lakukan."
Peluncuran Sukses dan Telepon dari Trump
Beberapa menit setelah meluncur dari Kennedy Space Center, dua roket pendorong samping Falcon Heavy yang dapat digunakan kembali turun dengan bagian ekor menghadap ke bawah.
Keduanya kemudian mendarat kembali di Cape Canaveral. Pendaratan itu disertai dentuman sonik yang terdengar keras.
Tak lama kemudian, Roman berhasil memisahkan diri dari bagian atas roket. Keberhasilan tersebut disambut tepuk tangan para pengendali misi di darat.
Fox menangis haru saat menyaksikan proses peluncuran.
"Ini hari yang sangat menyenangkan!" katanya.
Sekitar dua jam kemudian, Administrator NASA Jared Isaacman tengah memberikan keterangan dalam konferensi pers ketika telepon genggamnya berdering. Saat itu, ia baru saja mengatakan bahwa Roman Space Telescope dalam waktu dekat akan menjadi nama yang dikenal luas.
Peneleponnya adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menghubungi Isaacman untuk menyampaikan ucapan selamat.
"Wah, terlihat sangat indah di televisi," ungkap Trump.
Trump sebelumnya mengunjungi Johnson Space Center di Houston pada Jumat (28/8) untuk memberikan penghormatan kepada awak misi Bulan Artemis II.
"Kalian sedang menjadi yang terdepan di bidang antariksa," ujarnya.
Advertisement
Roman Akan Melihat Alam Semesta dengan Cakupan Lebih Luas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336414/original/012726900_1788160547-Untitled.jpg)
Bidang pandang Roman lebih dari 100 kali lebih luas daripada Hubble Space Telescope milik NASA, yang masih menghasilkan berbagai gambar objek luar angkasa setelah 36 tahun berada di orbit.
James Webb Space Telescope bergabung dalam pengamatan alam semesta beberapa tahun lalu. Bidang pandang Webb memang lebih sempit, tetapi teleskop itu mampu mengamati objek dengan sangat tajam, termasuk objek yang terbentuk pada masa awal alam semesta setelah Big Bang.
Roman, Hubble, dan Webb nantinya akan saling melengkapi. Ketiganya akan bekerja bersama wahana Euclid milik Badan Antariksa Eropa dan Observatorium Vera C. Rubin milik National Science Foundation di Chile untuk membantu mengungkap sejumlah misteri terbesar alam semesta.
Di antara begitu banyak galaksi yang akan diamati Roman terdapat bintang-bintang yang memiliki planet.
Setelah Roman menemukan planet-planet baru tersebut, Webb yang lebih kuat dan sensitif dapat mengamatinya lebih dekat untuk mendapatkan informasi yang lebih terperinci.
"Jangkauan Roman yang sangat luas memungkinkan kami menemukan sesuatu yang aneh, langka, dan tidak biasa," kata ilmuwan senior proyek Roman, Julie McEnery, sehari sebelum peluncuran.
"Roman akan membuat kami jauh lebih mampu menemukan objek-objek langka di tengah luasnya alam semesta."
Para astronom juga berharap Roman dapat membantu mengungkap misteri materi gelap dan energi gelap. Keduanya menyusun sebagian besar alam semesta, tetapi hingga kini masih menjadi sesuatu yang tidak terlihat dan belum sepenuhnya dipahami.
Roman akan membuat katalog galaksi dalam jumlah besar. Data tersebut akan membantu para ilmuwan mengetahui seberapa cepat alam semesta mengembang akibat pengaruh dua kekuatan tak terlihat yang masih menjadi misteri tersebut.
Roman Memindai Langit 1.000 Kali Lebih Cepat dari Hubble
Salah satu keunggulan utama Roman adalah kecepatannya dalam melakukan pengamatan.
Menurut ilmuwan senior proyek Roman, Julie McEnery, pengamatan Bima Sakti yang dapat diselesaikan Roman dalam satu bulan akan membutuhkan waktu sekitar satu abad jika dilakukan menggunakan Hubble.
Roman juga diperkirakan mampu memindai bagian pusat Bima Sakti dengan cepat. Pengamatan itu diharapkan memberikan gambaran terdalam sejauh ini tentang jantung galaksi kita.
Kemampuan tersebut didukung kamera inframerah dengan bidang pandang luas. Tingkat sensitivitasnya setara dengan Hubble, tetapi Roman mampu memindai langit hingga 1.000 kali lebih cepat.
Selain kamera tersebut, Roman dilengkapi koronagraf, yaitu alat yang berfungsi menghalangi cahaya terang dari sebuah bintang.
Instrumen eksperimental itu menciptakan efek seperti gerhana. Dengan cahaya bintang yang tertutup, Roman dapat melihat dan mengambil gambar langsung planet yang jauh lebih redup di sekitarnya.
Meski demikian, Roman tidak dirancang khusus untuk mencari kehidupan di luar Bumi. Fox mengatakan teleskop tersebut akan membuka jalan bagi observatorium masa depan untuk menjawab salah satu pertanyaan terbesar NASA.
“Apakah kita sendirian? Apakah ada Bumi 2.0 di luar sana yang sedang melihat kembali ke arah saya?”
Roman juga dirancang agar dapat diisi ulang bahan bakarnya. Jika dalam satu dekade mendatang tersedia wahana robotik yang mampu melakukan pengisian bahan bakar di luar angkasa, masa operasional teleskop itu dapat diperpanjang.
Advertisement
Cermin Roman Berasal dari Satelit Pengintai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336417/original/070581800_1788160672-Untitled.jpg)
Roman diluncurkan hampir satu tahun lebih cepat dari jadwal dan tetap sesuai anggaran. Teleskop ini juga menjadi teleskop luar angkasa pertama NASA yang diberi nama seorang perempuan.
Mantan ilmuwan NASA Ed Weiler mengatakan penghargaan untuk Nancy Grace Roman tersebut sudah lama layak diberikan.
Weiler adalah orang yang menjuluki Roman sebagai "Mother of Hubble" atau "Ibu Hubble". Roman merekrutnya pada 1978.
Roman bergabung dengan NASA pada 1959, ketika badan antariksa itu baru berdiri. Ia meyakini observatorium yang ditempatkan di luar atmosfer Bumi dapat melihat lebih jauh dan lebih jelas karena pengamatannya tidak terhalang atmosfer.
Roman meninggal pada 2018 dalam usia 93 tahun.
"Ini sangat, sangat tepat. Saya kira Nancy akan sangat bangga," kata Weiler.
Menurut dia, teleskop yang menyandang nama Roman akan berupaya menjawab sejumlah pertanyaan besar tentang alam semesta yang hingga kini belum terpecahkan, termasuk mengenai energi gelap.
Hubble diluncurkan pada 1990 dengan cermin yang ternyata bermasalah. Cermin tersebut kemudian harus diperbaiki melalui sebuah misi yang mengharuskan astronaut bekerja di luar pesawat antariksa.
Cermin utama Roman berukuran sama dengan milik Hubble, yakni berdiameter hampir 8 kaki atau 2,4 meter. Namun, cermin Roman memiliki asal-usul yang tidak biasa karena awalnya dibuat sebagai cadangan untuk satelit pengintai.
Lebih dari satu dekade lalu, National Reconnaissance Office (NRO), badan intelijen AS yang mengoperasikan satelit pengintai, menyumbangkan dua cermin yang tidak terpakai kepada NASA.
Salah satu cermin tersebut kini digunakan pada Roman, sedangkan satu lainnya masih disimpan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3335299/original/093154300_1788148519-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-31T105456.620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336194/original/011453800_1788145793-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-31T100906.764.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5481050/original/073182400_1769075263-Gubernur_Jawa_Barat_Dedi_Mulyadi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299928/original/085453400_1784279402-cek_fakta_dana_hibah_prabowo_-_purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336403/original/035631800_1788159870-Untitled.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)