Banjir Bandang Nepal-Tibet: Korban Tewas 797 Orang, Lebih dari 3.000 Hilang

Besarnya skala bencana banjir bandang membuat operasi penyelamatan di medan Himalaya yang terjal semakin sulit.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 10:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kathmandu - Tim penyelamat di Nepal dan China berpacu dengan waktu untuk mencari ribuan orang yang masih hilang akibat banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya. Upaya pencarian menghadapi hambatan cuaca buruk dan kenaikan permukaan air.

Otoritas Nepal mengatakan jumlah korban tewas hingga Minggu (30/8/2026) telah mencapai 781 orang, sementara 2.502 lainnya masih hilang. 

Sebelumnya, media pemerintah China mengonfirmasi 16 orang tewas di Tibet dan 546 lainnya hilang akibat bencana banjir bandang yang terjadi pada Rabu (26/8). Dengan demikian, secara keseluruhan sedikitnya 797 orang tewas dan 3.048 lainnya belum ditemukan.

Federasi Internasional Palang Merah (IFRC) memperkirakan lebih dari 90.000 orang kemungkinan terdampak bencana tersebut. 

Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Nepal pada Sabtu (29/8), menyebut longsoran lumpur tersebut sebagai "bencana lintas batas paling parah" yang dialami kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan stasiun televisi pemerintah China, CCTV, Wang mengatakan operasi penyelamatan kali ini menghadapi tingkat kesulitan dan kompleksitas yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dari 546 orang yang masih hilang di Tibet, Beijing menyebut 261 di antaranya merupakan warga negara asing dari 23 negara. Mereka dilaporkan hilang di sekitar salah satu jalur perbatasan utama dengan Nepal.

Polisi setempat di Nepal mengatakan kepada Reuters bahwa warga dan tim penyelamat telah berpindah ke tempat yang lebih tinggi setelah permukaan Sungai Trishuli meningkat dalam beberapa jam terakhir akibat hujan baru. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran akan banjir susulan.

Operasi penyelamatan telah beberapa kali dihentikan sejak Jumat (28/8) karena cuaca buruk. Tim penyelamat juga mewaspadai sebuah danau yang terbentuk akibat bencana di kawasan perbatasan Nepal-China karena dikhawatirkan dapat memicu banjir susulan.

Kekhawatiran muncul setelah air dari danau tersebut mulai meluap dan mengalir ke Sungai Lhende Khola dan Trishuli di Nepal.

CCTV melaporkan bahwa hingga Sabtu malam, sebagian besar air di danau tersebut sudah berkurang. Namun, pada malam yang sama, drone mendeteksi longsor baru sekitar 2,8 kilometer di hilir danau.

Longsor itu membendung aliran air dan membentuk genangan baru.

Di Nepal, operasi penyelamatan kini semakin difokuskan pada ratusan orang yang diyakini terperangkap di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air yang rusak akibat banjir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal Lok Bahadur Chhetri menuturkan negaranya membutuhkan bantuan internasional untuk sejumlah kebutuhan khusus, termasuk operasi penyelamatan di terowongan, pemeriksaan DNA, fasilitas penyimpanan jenazah berpendingin, serta identifikasi forensik terhadap jenazah yang telah membusuk.

Menurut Chhetri, para ahli dari India dan China telah membantu membuka akses ke terowongan serta mendukung operasi penyelamatan.

 

Pemakaman Massal Jenazah yang Mulai Membusuk

Setelah berhari-hari keluarga korban mendatangi rumah sakit, kamar jenazah, dan pusat-pusat bantuan untuk mencari kerabat mereka, pihak berwenang Nepal mulai melakukan pemakaman massal terhadap ratusan korban tak dikenal yang jenazahnya mulai membusuk.

Distrik Chitwan tidak terdampak langsung oleh bencana. Namun, sejumlah jenazah korban dari wilayah Rasuwa yang dilanda banjir terbawa aliran sungai hingga ke Sungai Narayani di Chitwan.

Pihak berwenang memotret jenazah, mengambil sampel DNA, serta mencatat berbagai ciri yang dapat membantu proses identifikasi. Langkah itu dilakukan agar keluarga masih memiliki kemungkinan mengenali kerabat mereka meski jenazah telah dimakamkan.

"Dari jenazah yang telah kami temukan sejauh ini, lebih dari separuhnya sudah tidak dapat dikenali," tutur petugas kepolisian Anil Thapa kepada Reuters.

"Banyak yang wajahnya sudah tidak terlihat. Dalam beberapa kasus, hanya tangan atau kaki yang tersisa. Dalam kasus lain, yang ditemukan hanya bagian tubuh. Pada banyak jenazah, lebih dari separuh bagian kepala sudah tidak ada."

Setelah memakamkan lebih dari 100 jenazah yang belum teridentifikasi pada Sabtu, pihak berwenang kembali menggali makam tambahan pada Minggu untuk ratusan jenazah lainnya.

 

Dampak Jangka Panjang Perubahan Iklim

CCTV melaporkan banjir tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan gletser akibat dampak jangka panjang pemanasan global.

Media itu menyebut peristiwa tersebut sebagai bentuk bencana baru yang semakin menonjol di wilayah es dan gletser Dataran Tinggi Tibet.

Menurut temuan para ilmuwan China yang dikutip CCTV, longsoran lumpur dari sisi Nepal hanya membutuhkan waktu sekitar enam hingga tujuh menit untuk mencapai perlintasan Gyirong di perbatasan Nepal dan Tibet.

CCTV melaporkan China telah mengerahkan lebih dari 2.100 personel penyelamat dan mengalokasikan sedikitnya 220 juta yuan untuk mendukung operasi penanganan bencana.

China juga mengirimkan peralatan dan pasokan melalui udara kepada tim penyelamat di lapangan, sementara personel militernya menggunakan peralatan pendeteksi tanda-tanda kehidupan untuk mencari korban yang masih hilang.