Liputan6.com, Jakarta - Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero), Suroso Isnandar, menyampaikan bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) merupakan salah satu fondasi utama dalam transisi energi Indonesia menuju target net zero emission (NZE) pada 2060.
Proyek pembangunan PLTA tersebut telah tercatat secara resmi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
"Kita mempunyai transisi energi menuju net zero emission 2060. Basis kita salah satunya hydropower. Karena itu dalam RUPTL kita 2025–2034, yang merupakan RUPTL paling hijau sepanjang sejarah ini, 76% kapasitas pembangkit baru adalah dari energi baru terbarukan," ujar Suroso saat menyampaikan keynote speech dalam acara Indonesia Hydropower Summit 2026 Powering Indonesia’s Clean Energi Pilar di Auditorium PLN, Rabu (5/8/2026).
Advertisement
Suroso menjelaskan, proyek PLTA ditargetkan dapat menyumbang kapasitas sebesar 11,7 gigawatt (GW) dalam 10 tahun ke depan. Untuk merealisasikannya, dibutuhkan investasi yang sangat besar.
"Untuk merealisasikan target pembangunan PLTA sebesar 11,7 GW, dibutuhkan investasi sekitar USD 35 miliar atau sekitar Rp 627,38 triliun (dalam kurs 1 US$ Rp 17.925). Perhitungan itu didasarkan pada kebutuhan investasi sekitar US$ 3 juta untuk setiap megawatt (MW) kapasitas pembangkit," papar Suroso.
"Karena 11.000 MW (11,7 GW) kita memerlukan kurang lebih, kalau 1 MW nya adalah US$ 3 juta, maka kita memerlukan paling tidak US$Â 35 miliar," sambung dia.
Dukungan Ekosistem Investasi yang Menarik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5274798/original/066437500_1751802590-0d9f9f09-d839-4278-bf54-894c5927d853.jpeg)
Suroso menilai, dengan kebutuhan dana yang sangat besar, proyek ini harus didukung oleh ekosistem investasi yang menarik. Hal itu mencakup penyediaan bentuk kontrak yang stabil dan adil bagi seluruh pihak terkait.
"Kontrak yang stabil Itu prinsipnya hanya simple sebetulnya, fair buat dua pihak. Kalau ada risiko sama-sama kita bagi, kalau ada windfall juga sama-sama kita bagi," tutur dia.
Guna mempercepat pencapaian target tersebut, PLN juga terus melakukan inovasi dalam proses pengadaan proyek pembangkit. Salah satu langkah konkretnya adalah merancang skema pengadaan berbasis gigawatt hydro untuk mengatasi berbagai hambatan dalam proses pengadaan.
Suroso menambahkan, saat ini PLN tengah menjalankan proses lelang proyek Sumatra Peaker berkapasitas 1 GW.
Selain itu, pihak PLN juga berencana meluncurkan lelang Sumatra Base Load dengan total kapasitas 1,8 GW. Pada tahap awal, pengadaan ini akan dibuka secara parsial sebesar 350 MW.
"Minggu depan kita iklankan berbagai kelas di Sumatra Base Load yang akan disusul dengan Sulawesi," jelas Suroso.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316075/original/017563100_1785912131-cek_fakta_-_OJK_pinjaman_online__pinjol_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315947/original/020958800_1785905048-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T114257.981.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5180934/original/084797400_1743849572-20250405-Monas-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4429973/original/076018700_1684229568-26562b3b-bde9-43f5-b1c3-3c57930772fd.jpeg)
