Kementerian ESDM Terbitkan Izin Panas Bumi Gunung Ungaran untuk PLN

Menteri ESDM menerbitkan izin WKP Gunung Ungaran untuk PLN. Di tengah momen satu abad panas bumi, potensi besar 23 GW dinilai siap menyaingi energi fosil.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menerbitkan izin pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, kepada PT PLN (Persero). Selain Gunung Ungaran, beberapa lokasi Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) lain juga diserahkan kepada badan usaha lainnya.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa penyerahan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Izin Panas Bumi yang ditandatangani langsung oleh Menteri ESDM.

"Kami berterima kasih kepada Bapak Menteri karena telah menerbitkan SK Izin Panas Bumi untuk Wilayah Kerja Panas Bumi Gunung Ungaran yang nantinya diberikan kepada PLN," ujar Eniya dalam acara Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Selain PLN, izin untuk WKP Telaga Ranu diberikan kepada PT Telaga Ranu Geothermal. Eniya menambahkan, pemerintah tengah menyiapkan penawaran lima WKP serta tujuh wilayah penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi untuk tahun 2026.

Dalam skema ini, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mendapat penugasan survei pendahuluan di Cubadak Panti, sementara wilayah Bituang digarap oleh PT Cakrawala Bituang Geothermal.

"Kami juga melaporkan saat ini sedang membahas revisi Peraturan Pemerintah Nomor 7. Atas arahan Pak Menteri, ada terobosan proses lelang yang disederhanakan menjadi satu tahap," tutur Eniya.

Eniya menyoroti potensi panas bumi nasional yang mencapai 23.202,77 megawatt (MW), sementara kapasitas terpasang saat ini baru menyentuh 2.776,39 MW. Hal ini menandakan masih luasnya ruang pengembangan yang belum dimanfaatkan.

"Panas bumi yang kita kenal ini nantinya sangat bisa bersaing dengan energi fosil seperti batu bara maupun diesel, karena mampu menghadirkan listrik secara stabil selama 24 jam penuh," tegasnya.

 

Satu Abad Panas Bumi Indonesia

Kementerian ESDM mencatat bahwa rekam jejak pengembangan panas bumi di Indonesia kini telah menginjak usia 100 tahun. Selama satu abad, sumber energi ini terbukti konsisten dan berpotensi kuat menjadi penopang utama transisi energi dari bahan bakar fosil.

Eniya menceritakan, sumur panas bumi pertama di Kamojang, Jawa Barat, yang mulai dibor pada tahun 1926, hingga kini masih terus menghasilkan uap.

"Hari ini tepat peringatan 100 tahun sejak tajak sumur pengeboran panas bumi pertama dicanangkan di Kamojang pada tahun 1926. Bahkan setelah satu abad, uapnya masih terus mengalir. Ini adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa; sangat rugi jika potensi sebesar ini tidak kita manfaatkan secara optimal," ungkapnya.

 

Perlu Pemanfaatan Lebih Lanjut

Pemanfaatan panas bumi menjadi krusial dalam mengurangi ketergantungan nasional terhadap energi fosil. Pada sektor kelistrikan, keandalan panas bumi dinilai mampu menyaingi pembangkit listrik berbasis batu bara maupun solar.

Saat ini, kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Indonesia menempati peringkat kedua terbesar di dunia, dengan target utama menjadi yang nomor satu pada tahun 2030 mendatang.

"Panas bumi adalah salah satu energi terbarukan yang sangat kita andalkan, dan Indonesia memiliki potensi terbesar. Kapasitas terpasang kita saat ini sudah nomor dua di dunia dan akan terus kita dorong optimasinya," tutup Eniya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6