Ekonomi AS Lesu: Pengangguran Naik, Penyerapan Kerja Cuma 29 Ribu

Angka pengangguran AS merangkak naik ke 4,2% saat penyerapan kerja cuma capai 29 ribu. Intip sinyal arah kebijakan suku bunga The Fed terbaru.

Diterbitkan 03 Oktober 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat (AS) melambat tajam pada September 2026. Data terbaru ini memotret sinyal lesu yang tak terduga di pasar tenaga kerja sekaligus perekonomian AS secara keseluruhan. 

Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat, penyerapan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) cuma bertambah 29.000 secara bulanan. Di saat bersamaan, angka pengangguran merangkak naik ke level 4,2%. Capaian ini jauh di bawah ekspektasi para ekonom dalam survei Dow Jones yang memproyeksikan lahirnya 84.000 lapangan kerja baru dan tingkat pengangguran di angka 4,1%.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), tak cuma September yang loyo, data penyerapan tenaga kerja Agustus juga direvisi turun menjadi 133.000. Parahnya lagi, data Juli yang awalnya tercatat tumbuh malah berbalik minus 10.000 pekerjaan. Jika ditotal, revisi dua bulan tersebut memangkas 60.000 lapangan kerja dari laporan terdahulu.

Pasar bergerak cepat merespons kabar buruk ini. Namun uniknya, para pelaku pasar justru menyambut dinginnya data tenaga kerja sebagai angin segar. Sebab, kabar ini memperbesar peluang bagi bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk mengerem alias menahan suku bunga pada pertemuan Oktober mendatang.

Pasar saham langsung tancap gas begitu rilis data keluar, sedangkan imbal hasil (yield) obligasi AS melorot setelah sempat melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Berdasarkan data CME Group’s FedWatch tool, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober kini naik hingga 82,8%.

"Bagi The Fed, data ini jadi pengunci keputusan untuk membatalkan kenaikan suku bunga di Oktober," ungkap Kepala Ekonom AS, Thomas Simons di Jefferies,

"Penyerapan tenaga kerja sempat melonjak pada Agustus, dan kami kira momentum itu bakal berlanjut mengingat klaim pengangguran beberapa pekan terakhir sangat rendah. Namun ternyata, lonjakan Agustus kemarin cuma sekadar pemulihan singkat dari lesunya perekrutan di Juni dan Juli."

Rapor Tenaga Kerja Masih Campur Aduk

Di internal The Fed, para pejabat sebenarnya lebih cermat memantau tingkat pengangguran ketimbang angka payrollutama. Hasil survei rumah tangga (household survey) yang dipakai menghitung tingkat pengangguran, ternyata jauh lebih baik ketimbang survei lembaga (establishment survey) yang digunakan untuk menghitung angka payroll.

Dalam survei rumah tangga, jumlah orang yang bekerja melonjak 406.000 sepanjang September. Angkatan kerja ikut naik hingga 485.000, sementara tingkat partisipasi kerja naik 0,2% menjadi 61,8% dan ini merupakan capaian tertinggi sejak Mei.

Indikator pengangguran alternatif yang juga memperhitungkan pekerja pasrah (discouraged workers) serta pekerja paruh waktu akibat keterbatasan ekonomi turun tipis ke 7,6%, terendah sejak Januari 2025.

Data ini datang persis saat para pejabat The Fed sibuk mengukur arah angin ekonomi sebelum menentukan langkah suku bunga berikutnya.

Menyusul sinyal dari para pejabat bank sentral dalam beberapa hari terakhir, pasar pun menggeser ekspektasi. Komite pembuat kebijakan suku bunga (FOMC) diperkirakan baru akan menaikkan suku bunga lagi pada Desember mendatang. Sebelumnya, FOMC sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25% pada September.

Para pembuat kebijakan masih menganggap inflasi sebagai ancaman utama bagi ekonomi, ketimbang pasar tenaga kerja yang dinilai masih punya daya tahan. Kondisi saat ini menggambarkan pola ekonomi yang terkesan 'sepi perekrutan, tapi sepi pemecatan' (low-hire, low-fire), di mana klaim pengangguran mingguan tetap rendah dan angka PHK menyentuh level terendah dalam empat tahun.

Meski begitu, laju inflasi masih tertahan jauh di atas target 2% milik The Fed. Indikator preferensi bank sentral paling gres menunjukkan inflasi inti tahunan berada di tingkat 3%.

Kenaikan Gaji Mulai Loyo

 

Kabar baik bagi penekanan inflasi, kenaikan gaji pekerja mulai memperlihatkan tren melambat. Rata-rata upah per jam cuma naik 0,1% pada September, yang membuat pertumbuhan upah tahunan terlempar ke angka 3%, level terendah sejak Mei 2021. Angka ini berada di bawah proyeksi Wall Street yang mematok kenaikan 0,3% secara bulanan dan 3,1% secara tahunan. Rata-rata jam kerja per minggu juga tak bergeser di angka 34,6 jam. 

"Masyarakat AS makin frustrasi karena makin sulit cari peluang," kata Kepala Ekonom di Navy Federal Credit Union, Heather Long

"Pertumbuhan gaji anjlok ke rekor terendah dalam 5 tahun dan habis tergerus inflasi. Ini situasi yang menyakitkan menjelang musim liburan."

Meski demikian, Long menilai pasar tenaga kerja masih tergolong stabil dan meyakini The Fed masih punya alasan untuk menaikkan suku bunga di bulan Desember.

Dari sisi lapangan kerja, sumbangan terbesar datang dari sektor pelayanan kesehatan yang menyerap 17.000 pekerja, disusul sektor konstruksi (11.000 pekerja), dan industri manufaktur (9.000 pekerja).

Nasib sebaliknya dialami sektor pemerintah yang kehilangan 17.000 pekerjaan, jasa tenaga kerja sementara yang susut 11.000, serta sektor jasa informasi yang berkurang 10.000 pekerjaan akibat bayang-bayang otomatisasi kecerdasan buatan (AI). Sektor aktivitas keuangan juga tergerus 7.000 pekerjaan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6