Harga Emas Hari Ini Melejit Setelah Tekanan Minyak Mereda

Harga emas dunia mencatat kenaikan mingguan pertama dalam empat minggu. Hal ini seiring koreksi harga minyak dunia.

Diterbitkan 19 September 2026, 07:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat ke level tertinggi dalam satu minggu pada Jumat, 18 September 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Kenaikan harga emas ini membawa ke jalur kenaikan mingguan pertama dalam empat minggu. Lonjakan harga emas dunia ini seiring koreksi harga minyak meredakan kekhawatiran akan tekanan inflasi yang berkepanjangan meski dolar Amerika Serikat (AS) menguat membatasi kenaikan itu.

Mengutip CNBC, Sabtu (19/9/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.352,39 per ons, setelah sempat menyentuh ke level tertinggi sejak 11 September pada sesi perdagangan sebelumnya. Harga emas telah naik 0,2% pada pekan ini.

Harga emas kontrak berjangka turun tipis 0,2% menjadi US$ 4.390,30.

"Penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi karena minyak telah menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan. Investor logam mulia sebelumnya memperkirakan kenaikan suku bunga (AS) dan mengambil posisi jual (short positions) untuk memanfaatkan potensi penurunan harga emas. Posisi-posisi tersebut kini telah ditutup dengan cepat," ujar Presdent of World Markets EverBank, Chris Gaffney.

Harga minyak mentah Brent kembali turun untuk sesi ketiga berturut-turut karena meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi mengimbangi kecemasan akan meluasnya konflik di Timur Tengah.

Penurunan harga minyak memberikan sedikit kelegaan dari kekhawatiran inflasi, tetapi risiko guncangan pasokan dari Timur Tengah tetap menjadi perhatian utama.

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) naik ke level tertinggi dalam lebih dari tujuh minggu, membuat harga emas yang diperdagangkan dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

 

Peluang Kenaikan Suku Bunga

Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4% pada Rabu dan mengisyaratkan adanya kenaikan lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Para pelaku pasar kini melihat adanya peluang sebesar 58% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya saat para pejabat bank sentral bertemu lagi pada Oktober, menurut perangkat CME FedWatch.

Meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tariknya karena aset yang memberikan imbal hasil (yield) menjadi lebih menarik.

Selain itu, Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun dan mengisyaratkan kesiapannya untuk terus menaikkan biaya pinjaman.

Sementara itu, permintaan emas di India cenderung lesu minggu ini karena pembeli menunda pembelian sembari menantikan harga yang lebih rendah, sedangkan premi harga di China tetap stabil, didukung oleh kuatnya permintaan investasi. "Emas saat ini sedang menguji level resistansi di kisaran US$ 4.400 hingga US$ 4.440, dan pergerakan di atas level resistansi ini dapat membuka jalan bagi kenaikan harga emas lebih lanjut," ujar Gaffney.

Harga perak spot naik 1,8% menjadi US$ 66,37, platinum menguat 1,7% menjadi US$ 1.798,30, dan paladium naik 1% menjadi US$ 1.303,46. Seluruh logam tersebut mencatatkan kenaikan mingguan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6