Bursa Saham Asia Hari Ini Tertekan Imbas Lonjakan Harga Minyak

Bursa saham Asia melemah pada Rabu, (2/9/2026) mengikuti wall street yang tertekan dan kekhawatiran kenaikan harga minyak.

Diterbitkan 02 September 2026, 09:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik melemah pada awal perdagangan Rabu, (2/9/2026). Koreksi bursa saham Asia ini terjadi di tengah kekhawatiran mengenai tingginya harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,60%, sementara Topix merosot 1,44%. Indeks Kospiturun 2,87% saat pembukaan, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq melemah 2,51%. Indeks acuan Australia, S&P/ASX 200 turun 1,09%.

Di bursa saham Amerika Serikat, Wwall Street mengalami sesi negatif ketiga berturut-turut yang membuat Dow turun lebih dari 400 poin. Saham-saham teknologi menyeret pasar ke bawah, dengan Nasdaq Composite turun sekitar 1%.

Harga minyak West Texas Intermediate melonjak di atas US$ 90 per barel pada Selasa, mencapai level tertinggi sejak akhir Juli. AS melancarkan serangan militer tambahan terhadap Iran, memicu kekhawatiran konflik dapat kembali memanas.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak awal 2025 pada Selasa. Kenaikan imbal hasil tenor 10 tahun ini menjadi tanda terbaru aksi jual global di pasar obligasi, yang dikhawatirkan sebagian investor akan menyerupai krisis keuangan Asia tahun 1997.

"Imbal hasil yang lebih tinggi terbukti menjadi penyebab kemerosotan pasar saham," ujar ahli strategi valuta asing dan suku bunga global di Macquarie Group, Thierry Wizman.

"Hal ini memaksa analis untuk mendiskon proyeksi laba yang lebih tinggi secara lebih agresif, sehingga menekan angka kelipatan harga terhadap laba (price-to-earnings) ke level yang lebih rendah,” ia menambahkan.

Investor akan menantikan data ketenagakerjaan sektor swasta (ADP payroll) untuk Agustus pada Rabu. Para pelaku pasar juga akan memantau data pendapatan sektor manufaktur serta laporan Beige Book dari Federal Reserve.

Investor juga akan mencermati laporan kinerja keuangan dari Hewlett Packard Enterprise, Snowflake, dan Broadcom yang akan dirilis setelah penutupan perdagangan Rabu.

Penutupan IHSG 1 September 2026

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan kenaikan hingga hampir menyentuh 6.600 pada perdagangan saham Selasa, (1/9/2026). IHSG hari ini menguat di tengah mayoritas sektor saham yang menghijau dan rilis data ekonomi Indonesia antara lain inflasi Agustus 2026 dan neraca dagang.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini ditutup melonjak 1,14% menjadi 6.599,94. Indeks saham LQ45 menanjak 1,64% ke posisi 654,41. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Senior Technical Analyst, Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, pasar menyambut positif publikasi data indikator ekonomi domestik terkini. "Termasuk rilis data inflasi yang terjaga, PMI Manufaktur, serta surplus neraca perdagangan Indonesia yang terus mempertegas solidnya fundamental ekonomi nasional,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Pada Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.608,18 dan level terendah 6.535,79. Sebanyak 407 saham menguat sehingga angkat IHSG. 215 saham melemah dan 169 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan saham 2.653.933 kali dengan volume perdagangan saham 52,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 20,4 triliun. Sementara itu, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di kisaran 17.735.

 

Sektor Saham

Dari 11 sektor saham, dua sektor saham melemah yakni sektor saham basic dan sektor saham infrastruktur. Sektor saham basic turun 0,56% dan sektor saham infrastruktur melemah 0,12%.

Di sisi lain, sektor saham industri melonjak 3,71%, dan catat kenaikan terbesar. Sektor saham teknologi melonjak 2,9% dan sektor saham energi melambung 2,39%.

Selain itu, sektor saham consumer nonsiklikal menguat 0,28%, sektor saham siklikal melambung 0,89%, sektor saham kesehatan bertambah 1,38%. Lalu sektor saham keuangan menguat 1,48%, sektor saham properti terbang 0,46% dan sektor saham transportasi menanjak 0,92%.