Liputan6.com, Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan, serangkaian reformasi yang tengah digulirkan di pasar modal Indonesia, mulai dari penghapusan batas harga minimum saham hingga pembukaan akses investasi luar negeri, bukan semata-mata untuk memenuhi kriteria dari lembaga penyedia indeks global seperti MSCI.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan, penghapusan batas harga minimum saham dari Rp 50 sebenarnya tidak pernah dimasukkan ke dalam proposal resmi yang disampaikan BEI kepada MSCI.
"Tidak, itu tidak dalam proposal kami ke MSCI," ujar Jeffrey saat ditanya wartawan pada acara penandatanganan MoU di BEI, Selasa (1/9/2026).
Advertisement
Jeffrey menjelaskan, langkah reformasi yang dilakukan BEI saat ini punya cakupan yang lebih luas ketimbang sekadar menjawab catatan atau concern dari MSCI selaku salah satu penyedia indeks global terbesar.
"Saat ini tentu kita melakukan reformasi pasar, sudah tidak hanya menjawab concern dari MSCI, tetapi apa yang baik buat pasar kita. Bagaimana kita menghadirkan tidak hanya transparansi, tidak hanya tata kelola yang baik, tetapi juga kita menghadirkan likuiditas dan tentu price discovery yang baik," kata Jeffrey.
Dengan kata lain, menurut Jeffrey, perbaikan tata kelola, transparansi, likuiditas, hingga pembentukan harga saham yang lebih wajar itu ditujukan untuk kepentingan pasar modal Tanah Air secara keseluruhan, bukan hanya untuk mengejar status atau penilaian dari lembaga pemeringkat indeks tertentu.
Â
Klaim Respons Positif dari Pelaku Pasar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672919/original/054144500_1782713040-IMG-20260629-WA0003.jpg)
Sebagai bagian dari proses reformasi ini, Jeffrey menyebut BEI telah menggelar focus group discussion (FGD) dan sosialisasi kepada para pelaku pasar. Dari situ, ia mengklaim mendapat umpan balik yang sangat positif.
"Mulai dari kami melakukan FGD, kemudian kami melakukan sosialisasi kepada pelaku, feedback yang kami dapat sangat positif," ujarnya.
Bertolak dari respons positif para pelaku pasar domestik itu, Jeffrey berharap sikap serupa juga akan datang dari lembaga penyedia indeks global.
"Artinya, kalau feedback dari pelaku itu sangat positif, tentu besar harapan kami, MSCI, Footsie, dan Global Index Provider lainnya juga akan merespons ini sangat positif," katanya.
MSCI merupakan salah satu penyedia indeks acuan global yang banyak dijadikan rujukan oleh manajer investasi dunia dalam menempatkan portofolio di suatu negara. Status dan bobot suatu bursa di indeks MSCI kerap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besaran arus modal asing yang masuk ke pasar saham suatu negara, termasuk Indonesia.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359126/original/045528800_1758620783-OJK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337309/original/008779100_1788240212-cek_fakta_-_pinjol_ojk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337833/original/032448200_1788259044-Direktur_Utama_BEI_Jeffrey_Hendrik-1_September_2026.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337788/original/082416500_1788257357-1000247086.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2408411/original/021376800_1542192171-Pasar-saham-Indonesia1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4857433/original/009395600_1717852813-WhatsApp_Image_2024-06-08_at_10.14.15.jpeg)