Iran Klaim Sita Drone Kapal Selam Canggih AS di Selat Hormuz

Sebuah drone kapal selam canggih milik AS diklaim telah disita oleh pasukan Angkatan Laut IRGC Iran di Selat Hormuz.

Diterbitkan 09 September 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC mengklaim telah menyita sebuah drone kapal selam milik Amerika Serikat (AS) di kawasan strategis Selat Hormuz.

Klaim tersebut disampaikan pada Selasa, 8 September, ketika Iran masih melakukan blokade di jalur pelayaran penting tersebut di tengah perang yang berlangsung selama berbulan-bulan di Timur Tengah.

Dikutip dari Channel News Asia, Rabu (9/9/2026), pasukan Angkatan Laut IRGC mengatakan drone kapal selam itu berhasil mereka tangkap dalam sebuah operasi intelijen dan operasional yang kompleks pada Selasa dini hari.

"Pasukan Angkatan Laut IRGC menangkap salah satu kapal selam tanpa awak dan pintar paling modern milik tentara teroris AS di pintu masuk Selat Hormuz dalam sebuah operasi intelijen dan operasional yang kompleks saat fajar hari ini," demikian pernyataan Garda Revolusi yang disiarkan televisi pemerintah.

IRGC menyebut perangkat tersebut dilengkapi teknologi terbaru di dunia untuk operasi bawah permukaan. Menurut mereka, drone kapal selam itu diserahkan kepada armada militer Amerika Serikat pada 2025.

"Kapal selam pintar ini dilengkapi dengan teknologi terbaru di bidang bawah permukaan di dunia, yang diserahkan kepada armada tentara teroris AS pada 2025," lanjut pernyataan tersebut.

Garda Revolusi juga menyatakan drone kapal selam itu kini berada dalam penguasaan Iran. Mereka mengatakan gambar perangkat tersebut akan dirilis dalam beberapa jam berikutnya.

Media Iran melaporkan kendaraan bawah air tanpa awak tersebut memiliki sejumlah kemampuan utama, antara lain melakukan pengintaian dan pengawasan bawah permukaan, memetakan dasar laut, mendeteksi ranjau, serta memeriksa kabel dan jaringan pipa bawah laut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis dalam perdagangan energi dunia. Iran telah mempertahankan blokade di selat tersebut sejak pecahnya perang pada akhir Februari. Jalur ini biasanya dilalui sekitar seperlima dari ekspor minyak dan gas alam cair dunia.

Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Iran mengatakan pihaknya berencana menarik biaya dari kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Menurut Iran, biaya tersebut akan digunakan untuk membiayai berbagai layanan, termasuk perlindungan lingkungan.

Rencana tersebut mendapat penolakan keras dari Amerika Serikat.