Tung Chee-hwa, Pemimpin Pertama Hong Kong Pasca Kolonial Meninggal

Tung Chee-hwa adalah kepala eksekutif pertama Hong Kong. Dia menjabat dari 1 Juli 1997 hingga 10 Maret 2005.

Diterbitkan 09 September 2026, 09:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Hong Kong - Tung Chee-hwa, pemimpin pertama Hong Kong setelah berakhirnya pemerintahan kolonial Inggris, meninggal dunia pada Selasa (8/9/2026) dalam usia 89 tahun. Semasa memimpin, ia menghadapi krisis keuangan Asia hingga meningkatnya demonstrasi prodemokrasi pada tahun-tahun awal Hong Kong berada di bawah pemerintahan China.

Kantornya seperti dilaporkan Associated Press menyatakan Tung meninggal dengan tenang didampingi keluarganya.

Tung merupakan pengusaha pelayaran yang minim pengalaman politik ketika sebuah komite beranggotakan elite pro-Beijing memilihnya sebagai pemimpin pertama Hong Kong setelah Inggris menyerahkan wilayah di China selatan itu kepada China pada 1997.

Banyak pihak meyakini Beijing ketika itu memandang Tung sebagai sosok loyal yang akan mengikuti keputusan para pemimpin Partai Komunis China. Ia juga dianggap memiliki ketergantungan kepada Beijing karena bank-bank milik pemerintah China pernah membantu menyelamatkan perusahaan pelayaran keluarganya, Orient Overseas Container Line, yang sedang mengalami kesulitan saat industri pelayaran global merosot pada 1980-an.

Tahun-tahun pertama setelah penyerahan Hong Kong kepada China merupakan masa yang sensitif. Konsep "satu negara, dua sistem" ketika itu masih belum teruji.

Dalam sistem tersebut, Hong Kong seharusnya tetap mempertahankan kebebasan sipil dan sejumlah warisan dari masa pemerintahan Inggris. Namun, Beijing memiliki keputusan akhir dalam sejumlah persoalan, termasuk perubahan politik.

Tung sempat dipuji karena etos kerjanya yang tinggi. Ia bahkan dijuluki "7-11" karena dikenal menjalani hari kerja yang sangat panjang.

Namun, kemampuan politiknya dinilai kurang luwes dan ia dianggap sering ragu mengambil keputusan ketika berbagai krisis bermunculan. Popularitasnya pun merosot. Tung kemudian mendapat julukan bernada ejekan, "Old Dumb Tung".

Tak lama setelah Tung mulai menjabat pada 1997, Hong Kong dilanda flu burung. Saat itu, flu burung untuk pertama kalinya diketahui menginfeksi manusia.

Perekonomian Hong Kong yang makmur juga terpukul oleh krisis keuangan yang melanda Asia.

Cara Tung menangani kedua krisis tersebut menuai banyak kritik. Ketidakpercayaannya yang mendalam terhadap media turut menyulitkannya memperbaiki citra di mata publik. Ia beberapa kali melakukan kesalahan dalam mengambil kebijakan hingga menjadi bahan olok-olok.

Meski masa jabatan pertamanya penuh gejolak, Tung kembali terpilih tanpa lawan oleh komite pemilihan pro-Beijing pada 2002.

Setahun kemudian, Tung menghadapi ujian besar lainnya ketika SARS atau sindrom pernapasan akut berat melanda Hong Kong. Wabah tersebut menewaskan hampir 300 orang dan menghantam perekonomian.

Pemerintahan Tung dituding lamban dan tidak tertata dalam menangani wabah tersebut.

Pada 2003, Tung kembali menghadapi gelombang kritik setelah pemerintahannya mengusulkan undang-undang antisubversi yang di Hong Kong dikenal sebagai legislasi Pasal 23.

Banyak warga menganggap aturan tersebut sebagai ancaman terhadap kebebasan sipil. Diperkirakan sekitar setengah juta orang turun ke jalan untuk menentangnya. Pemerintah kemudian membatalkan rencana legislasi tersebut.

Warga Hong Kong kembali menggelar demonstrasi besar pada 2004 untuk menuntut pemilihan langsung bagi pemimpin Hong Kong dan seluruh anggota badan legislatif.

Tung mendukung sikap para pemimpin komunis China yang menolak tuntutan tersebut. Demonstrasi itu kemudian digelar setiap tahun oleh kelompok prodemokrasi selama bertahun-tahun.

Gelombang demonstrasi besar tersebut kemungkinan menjadi tanda bagi Beijing bahwa masyarakat Hong Kong semakin terbelah secara politik dan Tung mulai kehilangan kendali.

Tung mengumumkan pengunduran dirinya pada 10 Maret 2005. Ia bersikeras mundur karena kondisi kesehatannya memburuk, bukan akibat tekanan dari Beijing.

"Jika saya tetap menjadi kepala eksekutif, saya tidak akan mampu menanganinya," kata Tung saat itu.

Namun, banyak pihak meragukan penjelasan tersebut karena tidak terlihat adanya masalah kesehatan pada Tung dalam beberapa bulan sebelum pengunduran dirinya.

 

Tetap Jadi Pendukung Beijing Pasca Mundur dari Pemerintahan

Menurut biografi yang diterbitkan pemerintah pada 2005, Tung lahir di Shanghai pada 29 Mei 1937. Keluarganya pindah ke Hong Kong pada 1947, dua tahun sebelum Partai Komunis mengambil alih kekuasaan di China daratan.

Namun, dalam wawancara dengan media China daratan pada 2017, Tung mengatakan dirinya lahir pada 7 Juli.

Setelah meraih gelar teknik kelautan dari University of Liverpool pada 1960, Tung bekerja di Amerika Serikat, termasuk di General Electric dan bisnis keluarganya, sebelum kembali ke Hong Kong pada 1969.

Setelah mundur dari jabatan tertinggi Hong Kong, Tung mendirikan sebuah lembaga kajian. Ia tetap menjadi pendukung setia Beijing ketika demonstrasi besar prodemokrasi melanda Hong Kong pada 2019.

Demonstrasi tersebut kemudian diikuti penindakan terhadap suara-suara yang menentang pemerintah. Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintah pusat China memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong yang melarang tindakan subversi.

Saat demonstrasi masih berlangsung pada September 2019, Tung termasuk di antara 42 orang yang menerima medali dan penghargaan nasional dari pemimpin China Xi Jinping dalam sebuah upacara di Beijing atas kontribusi mereka kepada negara.

Tung mendapat penghargaan atas dedikasinya dalam menjalankan kebijakan "satu negara, dua sistem".

Setelah undang-undang keamanan nasional diberlakukan pada 2020, demonstrasi besar yang dahulu menjadi tantangan bagi pemerintahan Tung tidak lagi terlihat di Hong Kong.

Hong Kong kemudian memberlakukan undang-undang keamanan lainnya pada 2024 yang dikenal sebagai legislasi Pasal 23.

Tung sendiri sudah beberapa tahun terakhir tidak terlihat menghadiri acara publik.