Anak Krakatau Erupsi 5 Kali Hari Ini

Erupsi Anak Krakatau terbaru terjadi pada pukul 17.56 WIB.

Diterbitkan 08 September 2026, 20:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Hingga Selasa (8/9/2026) sore, gunung api di perairan Selat Sunda itu tercatat mengalami lima kali erupsi sejak dini hari.

Erupsi terbaru terjadi pada pukul 17.56 WIB. Berdasarkan laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau, letusan tersebut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan berlangsung selama 31 detik.

Namun, visual letusan maupun tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara langsung karena gunung tertutup kabut.

Selain faktor cuaca, pemantauan dari sisi Lampung juga belum optimal lantaran CCTV Gunung Anak Krakatau masih mengalami kerusakan sejak erupsi besar pada Sabtu (5/9/2026).

Berdasarkan laporan aktivitas sepanjang Selasa, erupsi pertama terjadi pada pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 15 detik.

Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 05.34 WIB dengan amplitudo maksimum 44 milimeter selama 10 detik. Aktivitas kembali terjadi pada pukul 07.49 WIB dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.

Selanjutnya, erupsi keempat berlangsung pada pukul 11.34 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter selama 17 detik. Erupsi kelima terjadi pada pukul 17.56 WIB dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan durasi 31 detik.

Meski terjadi berulang kali, seluruh erupsi tersebut tidak dapat diamati secara visual.

 

Kabut dan CCTV Rusak Jadi Kendala Pemantauan

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, kondisi di sekitar pos kerap tertutup kabut sehingga menyulitkan petugas melakukan pengamatan visual.

"Kalau dari sini enggak nampak letusannya karena tertutup kabut, selalu di sini," kata Suwarno.

Menurut dia, pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini banyak mengacu pada data dari Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

Data aktivitas kegempaan tersebut kemudian diteruskan ke Pos Hargo Pancuran untuk disampaikan kepada pemangku kepentingan dan pemerintah daerah di Lampung.

"Memang di sini selalu tertutup kabut. Keduanya itu kan yang paling akurat di sana," jelasnya.

Suwarno juga membenarkan CCTV pemantau Gunung Anak Krakatau di sisi Lampung masih mengalami kerusakan. Perangkat pemantauan di kawasan Sertung juga dilaporkan mengalami kondisi serupa.

"Belum, belum," kata Suwarno saat ditanya terkait rencana perbaikan CCTV pemantau tersebut.

Dengan kondisi itu, pemantauan langsung aktivitas Gunung Anak Krakatau dari sisi Lampung belum dapat mengandalkan tampilan CCTV. Petugas saat ini mengacu pada data kegempaan dan laporan dari Pos Pasauran.

 

Puluhan Gempa Vulkanik Terekam

Pada periode pengamatan Selasa pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga masih cukup tinggi.

Petugas mencatat satu kali gempa letusan dengan amplitudo 54 milimeter selama 31 detik. Selain itu, terjadi satu kali gempa hembusan dengan amplitudo 15 milimeter dan durasi 27 detik.

Kemudian, tercatat 29 kali gempa low frequency dengan amplitudo antara 8 hingga 35 milimeter serta durasi 4 sampai 13 detik.

Aktivitas lainnya berupa 53 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 8 hingga 40 milimeter dan durasi 6 hingga 16 detik.

Petugas juga merekam satu kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, serta tremor menerus dengan amplitudo 1 hingga 8 milimeter.

Selama periode pengamatan, Gunung Anak Krakatau tertutup kabut dengan intensitas 0 hingga III. Asap kawah tidak teramati. Cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan angin lemah hingga sedang yang bertiup ke arah utara dan barat laut.

Suhu udara berkisar antara 28,3 hingga 29,7 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 63 hingga 71 persen.

 

Warga Dilarang Mendekat

Di tengah aktivitas vulkanik yang masih berlangsung, masyarakat, wisatawan, pengunjung, maupun pendaki diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan.

Masyarakat dilarang mendekati Gunung Anak Krakatau maupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Suwarno meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Kalau aktivitasnya masih ada, masyarakat tetap harus waspada dan jangan mendekati kawasan gunung," ujarnya.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada status Level III atau Siaga. Masyarakat juga diimbau tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, khususnya kabar yang beredar di media sosial.

Hingga Selasa sore, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau melalui data kegempaan. Sementara itu, kondisi visual gunung dari Pos Hargo Pancuran masih terkendala kabut dan CCTV pemantau yang rusak belum diketahui kapan akan diperbaiki.