Kondisi Udara Bandar Lampung di Tengah Erupsi Anak Krakatau

Aktivitas Anak Krakatau masih memengaruhi kualitas udara Bandar Lampung yang masuk kategori tidak sehat.

Diterbitkan 08 September 2026, 20:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik cukup tinggi. Hingga Selasa sore (8/9/2026), gunung api yang berada di perairan Selat Sunda itu tercatat telah mengalami lima kali erupsi sejak dini hari.

Erupsi terbaru terjadi pada pukul 17.56 WIB. Berdasarkan laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau, letusan tersebut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan berlangsung selama 31 detik.

Namun, tinggi kolom erupsi dan visual letusan belum dapat diamati karena kawasan Gunung Anak Krakatau masih tertutup kabut.

Di sisi lain, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga masih berdampak terhadap kualitas udara di Lampung. Konsentrasi sulfur dioksida atau SOâ‚‚ di Bandar Lampung dilaporkan masih berada dalam kategori tidak sehat.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengungkapkan, hasil pemantauan kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya menunjukkan parameter PM10 dan PM2,5 berada dalam kategori sedang. Namun, konsentrasi SOâ‚‚ masih menjadi perhatian karena berada dalam kategori tidak sehat.

"Konsentrasi SOâ‚‚ di Bandar Lampung berada pada kategori tidak sehat dengan kisaran 210-223 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut telah bertahan lebih dari 72 jam tanpa penurunan berarti," jelasnya.

Jihan bilang, kondisi debu di Bandar Lampung sebenarnya telah kembali membaik. Namun, sumber pencemaran udara utama saat ini masih berasal dari sebaran gas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kondisi berbeda terjadi di Lampung Selatan. Konsentrasi SOâ‚‚ di wilayah tersebut terpantau sangat rendah dan masih berada dalam kategori aman, yakni sekitar 39,6 mikrogram per meter kubik.

 

Konsentrasi Abu

Meski demikian, konsentrasi debu di Lampung Selatan masih mengalami fluktuasi pada kategori sedang dan sempat meningkat hingga kategori tidak sehat pada dini hari.

"Kondisi tersebut bersifat lokal dan tidak disebabkan oleh gas vulkanik," ujar Jihan.

Ia menambahkan, perbedaan kualitas udara di Bandar Lampung dan Lampung Selatan dipengaruhi oleh arah angin serta posisi wilayah terhadap sumber gas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Pemantauan tetap dilakukan karena arah angin dapat berubah sewaktu-waktu dan berpengaruh terhadap sebaran abu maupun gas vulkanik," lanjutnya.

 

Erupsi Anak Krakatau

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau sepanjang Selasa, erupsi pertama terjadi pada pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 15 detik.

Erupsi kembali terjadi pada pukul 05.34 WIB dengan amplitudo maksimum 44 milimeter selama 10 detik.

Aktivitas vulkanik kemudian berlanjut pada pukul 07.49 WIB. Erupsi kali ini terekam dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan berlangsung selama 19 detik.

Selanjutnya, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada pukul 11.34 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter selama 17 detik.

Erupsi kelima sekaligus yang terakhir hingga Selasa sore terjadi pada pukul 17.56 WIB. Letusan tersebut memiliki amplitudo maksimum mencapai 54 milimeter dengan durasi 31 detik.

Meski terjadi secara berulang, seluruh erupsi tersebut belum dapat diamati secara visual akibat kondisi cuaca dan kabut yang menutupi kawasan gunung.