Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan penurunan. Namun jejak abu vulkanik masih dirasakan warga di sejumlah wilayah di Lampung, Senin (7/9/2026).
Di Kota Bandar Lampung, abu vulkanik yang terbawa angin dari arah Selat Sunda masih terlihat menempel di berbagai sudut rumah. Warga harus membersihkan teras, kendaraan hingga perabotan yang terkena material vulkanik.
Agus (30), warga Way Halim, Bandar Lampung, mengaku menghabiskan waktu untuk membersihkan rumah. Abu berwarna abu-abu kehitaman terlihat cukup tebal di bagian depan rumahnya.
Advertisement
"Debunya begitu tebal, hampir di seluruh depan rumah. Abu juga masuk ke dalam rumah, jadi perabotan ikut kotor," kata Agus.
Untuk mencegah abu kembali beterbangan, Agus memilih menggunakan air saat membersihkan teras dan halaman rumah. Sementara bagian dalam rumah serta perabotan dibersihkan menggunakan kain basah.
"Kalau bagian depan rumah kami siram dan pel. Kalau perabotan dilap pakai kain basah. Kalau terpaksa keluar rumah, kami pakai masker dan kacamata, karena kalau engga pakai kacamata debunya terasa pedih," tuturnya.
Â
Pertama Kali Rasakan Abu Krakatau
Pengalaman serupa dirasakan Anggi (26), warga Kemiling, Bandar Lampung. Dia mengaku baru mengetahui bahwa debu yang dirasakannya sejak Sabtu malam merupakan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
"Seumur hidup tinggal di Bandar Lampung, baru kali ini merasakan ada debu Krakatau. Selama ini cuma dengar cerita," kata Anggi.
Menurut Anggi, abu yang menempel di rumahnya tampak seperti pasir berwarna hitam. Dia bersama anak-anaknya kemudian membersihkan rumah pada Minggu pagi.
Kondisi tersebut juga sempat membuat Anggi cemas. Dia mengaku sulit tidur karena khawatir terjadi gempa atau erupsi yang lebih besar.
"Semalam susah tidur. Namanya tidak tahu, takut gempa atau takut gunungnya meletus besar. Tapi alhamdulillah hari ini kelihatannya aman. Mudah-mudahan tidak ada debu seperti ini lagi," tuturnya.
Â
Advertisement
Abu Vulkanik Tersebar di Enam Wilayah
Pemerintah Provinsi Lampung mencatat laporan sebaran abu vulkanik telah muncul di enam wilayah. Keenam daerah tersebut yakni Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus dan Pesisir Barat.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Lampung, Ganjar Jatiyono, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kondisi sekaligus melakukan koordinasi lintas instansi.
"Pemprov Lampung terus melakukan pemantauan dan koordinasi. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta mengikuti informasi yang disampaikan melalui kanal resmi pemerintah," kata Ganjar.
Dia juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu vulkanik.
"Jangan menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat perlu mengacu pada data dan informasi resmi dari instansi yang berwenang," ujarnya.
Pemprov Lampung turut mengingatkan warga untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama masih terdapat paparan abu vulkanik.
Jika harus keluar rumah, warga disarankan menggunakan masker dan pelindung mata. Abu yang menempel di rumah juga dianjurkan dibersihkan dengan metode basah agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.
Ganjar memastikan pemantauan dan koordinasi lintas instansi akan terus dilakukan mengikuti perkembangan kondisi di lapangan.
"Prinsipnya, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan menggunakan masker apabila terdapat paparan abu vulkanik," pungkas Ganjar.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342121/original/053138400_1788753122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-07T104558.832.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339925/original/070710100_1788435101-HOAX__10_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302730/original/042892700_1784605254-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-21T103804.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9262464/original/038832300_1783158897-1001427620.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342280/original/001331000_1788763444-1001639599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372267/original/057016700_1476292020-Bandar_Lampung.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339518/original/085405700_1788419716-1001625693.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338902/original/070488100_1788348898-1001623344.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337526/original/023561600_1788248731-1001619371.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335832/original/070009100_1788068045-1001612690.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336559/original/025260400_1788165532-1001616673.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336382/original/059164000_1788159223-1001616284.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335861/original/035882200_1788072595-1001612849.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332888/original/016475500_1787722012-1001600460.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332679/original/018510200_1787715407-1001598445.jpg)