BMKG Deteksi 2 Klaster Abu Anak Krakatau, Ini Peta Sebarannya

Data tersebut mengacu pada informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), VAAC Darwin, serta citra RGB Himawari-9.

Diterbitkan 06 September 2026, 20:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arah pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali berubah seiring dinamika angin di atmosfer. Kondisi tersebut membuat sebaran abu bergerak ke sejumlah wilayah dengan arah yang berbeda pada setiap lapisan ketinggian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Raden Inten Lampung menyebut perubahan pola tersebut terpantau berdasarkan informasi Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta analisis citra satelit Himawari-9.

Forecaster On Duty BMKG Raden Inten Lampung, Pebri Surgiansyah mengatakan, pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau saat ini menunjukkan pola berbeda pada beberapa lapisan ketinggian.

"Berdasarkan informasi SIGMET terbaru yang berlaku pukul 13.39-16.39 WIB, abu vulkanik yang teramati pada pukul 13.10 WIB hingga ketinggian 12.000 kaki bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 5 knot," kata Pebri, Minggu (6/9/2026).

Sementara pada lapisan hingga ketinggian 50.000 kaki, abu vulkanik bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan sekitar 10 knot. Intensitas sebaran abu pada kedua lapisan tersebut masih dilaporkan tetap.

"Teramati sebaran debu abu vulkanik Gunung Krakatau pada ketinggian hingga 12.000 feet bergerak ke arah barat dengan kecepatan 5 knots. Sedangkan pada ketinggian hingga 50.000 feet bergerak ke arah barat daya dengan kecepatan 10 knots," jelasnya.

 

2 Klaster Sebaran

Analisis terbaru BMKG juga menemukan dua klaster sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Data tersebut mengacu pada informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), VAAC Darwin, serta citra RGB Himawari-9 pada pukul 16.00 WIB.

"Klaster pertama terpantau mulai dari permukaan hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki. Abu pada lapisan ini bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya," ungkapnya.

Sedangkan klaster kedua terpantau dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Sebaran abu pada lapisan ini bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

"Jalur sebaran klaster kedua mencakup sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Selat Sunda, hingga perairan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten," sebutnya.

Perubahan arah angin membuat pola sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi dinamis. Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat yang berada di jalur sebaran abu serta sektor penerbangan.

BMKG hingga kini masih melakukan pemantauan terhadap perubahan arah angin dan pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dengan memanfaatkan data atmosfer serta citra satelit terbaru.