Abu Anak Krakatau, Kampus Diminta Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Kemendiktisaintek meminta perguruan tinggi di wilayah terdampak mengurangi aktivitas luar ruangan, mengaktifkan posko siaga, dan menyiapkan pembelajaran daring

Diterbitkan 06 September 2026, 20:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Kemendiktisaintek imbau PT kurangi aktivitas luring, alihkan ke daring/hybrid karena abu vulkanik.
  • PT diminta aktifkan posko siaga, mobilisasi bantuan, dan kerahkan pakar pantau erupsi.
  • Koordinasi lintas sektor dilakukan; belum ada korban atau infrastruktur kampus terdampak.

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) meminta perguruan tinggi di wilayah terdampak abu erupsi Gunung Anak Krakatau mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Proses pembelajaran dan kegiatan akademik juga dapat dialihkan ke sistem daring atau hybrid untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mengatakan Kemendiktisaintek terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta pemerintah daerah di wilayah terdampak.

"Hingga saat ini, atas dasar koordinasi kami dengan terutama Kepala LL Dikti di wilayah terdampak, tidak terdapat korban yang menimpa warga kampus atau termasuk juga infrastruktur," ujar Fauzan dalam konferensi pers daring bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Minggu (6/9/2026).

Untuk melindungi mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika dari paparan abu vulkanik, Kemendiktisaintek mengeluarkan sejumlah imbauan kepada perguruan tinggi negeri maupun swasta.

"Aktivitas layanan kantor maupun proses pembelajaran dan aktivitas akademik yang lain dapat dilakukan secara daring atau hybrid, atau cara yang dianggap lebih efektif dalam rangka untuk mengurangi terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh debu erupsi itu," papar Fauzan.

 

Kampus Diminta Aktifkan Posko Siaga

Selain mengurangi aktivitas luring, pimpinan perguruan tinggi diminta mengaktifkan posko siaga di lingkungan kampus. Posko tersebut diharapkan menjadi pusat informasi dan bantuan yang terhubung dengan pemerintah daerah.

"Kami juga mengimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk mengaktifkan posko siaga di lingkungan masing-masing dan selalu berkoordinasi dengan kepala daerah setempat," tutur Fauzan.

Perguruan tinggi juga didorong memobilisasi bantuan untuk memenuhi kebutuhan sivitas akademika maupun masyarakat yang terdampak erupsi.

"Kemudian kami mengimbau kepada seluruh pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi bantuan yang diperlukan oleh masyarakat maupun sivitas akademika, terutama adalah bantuan yang terkait dengan adanya kejadian erupsi ini," papar Fauzan.

 

Pakar Kampus Dikerahkan

Kemendiktisaintek juga meminta perguruan tinggi mengerahkan para pakar dari berbagai bidang untuk membantu memantau perkembangan erupsi secara ilmiah.

"Kami mengimbau kepada pimpinan perguruan tinggi untuk memobilisasi para pakar, baik pakar kesehatan, teknik, lingkungan, kebencanaan, psikologi, dan lain-lain untuk selalu terlibat dan memantau perkembangan erupsi ini," kata dia.

Fauzan menegaskan langkah penanganan akan dilakukan berdasarkan data dan koordinasi lintas sektor.

"Hal-hal lain yang terkait penanganan akibat erupsi ini, kami akan selalu koordinasi dengan para pihak termasuk pemerintah daerah setempat. Sehingga apa yang dilakukan oleh Kemendiktisaintek ini dapat terukur karena memang selalu berkoordinasi dengan para stakeholder," pungkas Fauzan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6