Gempa Besar dari Sesar Sagaing Ancam Ibu Kota Thailand

Sesar Sagaing adalah patahan aktif utama di Myanmar yang dipicu pergerakan Lempeng India-Sunda dan dapat memicu gempa besar.

Diterbitkan 06 September 2026, 21:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Pakar teknik dan kebencanaan Thailand memperingatkan Bangkok menghadapi risiko serius jika terjadi gempa besar di segmen selatan Sesar Sagaing, Myanmar. Bagian sesar tersebut kini mendekati akhir siklus gempa besar yang diperkirakan berulang sekitar 100 tahun sekali.

Peringatan itu disampaikan sejumlah peneliti dalam simposium lintas disiplin bertajuk "Designing Resilience: Technology Solutions for Disaster Preparedness in an Era of Climate Uncertainty" yang digelar Universitas Thammasat pada Jumat (4/9/2026) seperti dilaporkan The Nation Thailand.

Para peneliti mengingatkan masyarakat dan pemerintah Bangkok agar tidak lengah setelah sejumlah guncangan gempa yang pernah terjadi sebelumnya.

Gempa besar terakhir di segmen selatan Sesar Sagaing terjadi sekitar 96 tahun lalu, pada masa pemerintahan Raja Rama VII. Karena sudah mendekati perkiraan siklus 100 tahunan, para ilmuwan menilai gempa besar berikutnya bisa terjadi dalam waktu dekat.

Jika gempa terjadi di bagian selatan sesar tersebut, pusat gempanya akan berada jauh lebih dekat dengan Bangkok dibandingkan gempa-gempa sebelumnya. Akibatnya, guncangan yang mencapai ibu kota berpotensi jauh lebih kuat.

Risiko itu semakin besar karena Bangkok berada di atas lapisan tanah lunak yang dapat memperkuat guncangan gempa.

Ketahanan Bangunan Ikut Menentukan Dampak

Prof Dr Nakhorn Poovarodom dari Fakultas Teknik Universitas Thammasat mengatakan kuat atau lemahnya guncangan bukan satu-satunya faktor yang menentukan besarnya dampak gempa. Kesiapan sebuah kota dan ketahanan struktur bangunan juga sangat menentukan.

Ia membandingkan dua kejadian gempa untuk menunjukkan pentingnya ketahanan infrastruktur.

Gempa di Kumamoto, Jepang, pada Juli 2026 mencatat percepatan tanah maksimum atau peak ground acceleration (PGA) sebesar 2,4. PGA merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambarkan seberapa kuat gerakan tanah akibat gempa.

Meski angka PGA di Kumamoto sangat tinggi, gempa tersebut hanya menimbulkan puluhan korban karena didukung infrastruktur yang kuat.

Sebaliknya, gempa pada 28 Maret 2025 yang berpusat di dekat Mandalay hanya menghasilkan PGA sekitar 0,02 di Bangkok, atau lebih dari 100 kali lebih rendah dibandingkan gempa Kumamoto. Namun, gempa itu menyebabkan ratusan orang meninggal di kawasan metropolitan Bangkok.

"Masyarakat tidak boleh menganggap gempa tahun lalu sebagai kejadian yang hanya terjadi sekali dalam satu generasi dan tidak akan terulang," kata Nakhorn.

"Sesar Sagaing merupakan salah satu sistem sesar paling aktif di dunia. Thailand sebenarnya sudah memiliki standar teknik dan hasil penelitian mengenai desain bangunan yang mampu menghadapi gempa besar, tetapi masih ada kesenjangan yang berbahaya antara aturan dan penerapannya di lapangan."

Nakhorn meminta aturan bangunan tahan gempa ditegakkan secara ketat. Ia juga meminta masyarakat yang hendak membeli atau menyewa properti untuk memastikan keamanan struktur bangunan dengan meminta dokumen terkait sebelum menempati gedung bertingkat.

Teknologi untuk Memperkuat Peringatan Dini

Selain memperkuat ketahanan bangunan, para pakar kebencanaan menilai sistem peringatan dini perlu ditingkatkan dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), penginderaan jauh, dan data pergerakan masyarakat secara langsung.

Assoc Prof Dr Teerayut Horanont dari Sirindhorn International Institute of Technology (SIIT) mencontohkan Bangladesh untuk menunjukkan pentingnya sistem peringatan bencana yang baik.

Menurut dia, perkembangan sistem peringatan telah membantu Bangladesh menekan jumlah korban akibat siklon secara drastis. Sekitar 500.000 orang meninggal akibat siklon pada 1970, sementara badai dengan karakteristik serupa pada 2020 menewaskan hanya 26 orang.

Teerayut mengatakan data kondisi alam, seperti aliran air, dapat dipadukan dengan pola pergerakan perangkat seluler yang identitas penggunanya telah disamarkan.

Gabungan data tersebut dapat membantu lembaga penanggulangan bencana menentukan lokasi yang paling membutuhkan bantuan dan mengerahkan sumber daya dengan lebih tepat.

Sementara itu, Asst Prof Dr Amornthep Jiraksasakjamroensri dari Fakultas Sains dan Teknologi mengatakan tim akademisi tengah memasang jaringan sensor getaran tanah buatan dalam negeri di sejumlah provinsi berisiko tinggi.

Pemasangan sensor itu ditujukan untuk mengatasi kekurangan data sekaligus memastikan hasil penelitian dapat digunakan langsung dalam penyusunan kebijakan pemerintah daerah.

Data yang dikumpulkan nantinya juga dapat menjadi acuan bagi insinyur sipil dan perencana penanggulangan bencana karena disesuaikan dengan kondisi geografis Thailand.