9 Bulan di Laut, Awak Kapal USS Abraham Lincoln Akhirnya Menginjak Daratan

Ribuan awak USS Abraham Lincoln disambut di Pattaya, Thailand, setelah sembilan bulan di laut.

Diterbitkan 03 September 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Setelah hampir sembilan bulan terus berada di laut, para awak kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya tiba di Pattaya, Thailand. Mereka turun dari bus dengan pakaian sipil, tas disampirkan di bahu, disambut wali kota Pattaya, pejabat kepolisian, serta sejumlah perempuan yang mengenakan pakaian tradisional Thailand.

Dikutip dari The Guardian, Kamis (3/9/2026), sekitar 5.000 awak USS Abraham Lincoln sebelumnya menjalani masa tanpa turun ke daratan selama hampir sembilan bulan, sebuah rekor untuk periode tanpa henti di laut.

Di tengah penyambutan itu, para awak tampaknya telah diminta untuk tidak berbicara kepada wartawan yang berkumpul mengenai laporan tentang kondisi kehidupan di kapal yang disebut-sebut semakin memburuk. Namun, mereka mengaku tidak sabar untuk kembali menginjak daratan, tidur dengan nyaman, dan pulang ke rumah.

Seorang awak kapal bernama Breese, yang tidak bersedia menyebutkan nama belakangnya, menggambarkan suasana saat itu sebagai sesuatu yang terasa seperti “mimpi demam”. Ia mengatakan sangat ingin mencicipi makanan Thailand untuk pertama kalinya sekaligus bertemu dengan orang-orang baru.

Dari Desa Nelayan Jadi Pusat Hiburan Malam

Pattaya dulunya hanyalah sebuah desa nelayan yang tenang. Namun, selama Perang Vietnam, kedatangan pasukan Amerika yang menggunakan pangkalan militer di Thailand mengubah wajah kota tersebut. Pattaya kemudian berkembang menjadi salah satu kawasan lampu merah paling terkenal di dunia.

Pipatpong Fakfare, profesor madya yang mengkhususkan diri pada bidang pariwisata di Bangkok University, mengatakan bahwa pada masa puncaknya, puluhan ribu personel militer Amerika datang ke Pattaya setiap tahun.

Menurut Pipatpong, kehadiran militer Amerika merupakan pengaruh yang sangat penting dalam pembentukan kota tersebut. Dalam waktu sekitar 15 tahun, Pattaya berubah dari desa nelayan yang sunyi menjadi destinasi global sekaligus pusat kehidupan malam dan hiburan internasional.

Pasukan Amerika memang telah meninggalkan Thailand pada pertengahan 1970-an. Namun, infrastruktur industri seks di Pattaya terus berkembang. Setelah itu, wisatawan Eropa mengambil tempat mereka, disusul dalam beberapa tahun terakhir oleh gelombang pengunjung dari China dan Rusia.

Hotel Hard Rock tempat para awak kapal disambut berada tidak jauh dari Soi 6, sebuah gang yang dikenal dengan bar-bar go-go dan menjadi salah satu kawasan yang menopang industri wisata seks Pattaya.

Wali Kota Pattaya, Poramet Ngampichet, mengatakan Soi 6 dan kawasan di sekitarnya akan terlarang bagi para awak kapal setelah matahari terbenam.

Namun, di Walking Street, kawasan hiburan dan distrik lampu merah Pattaya lainnya, sebuah papan neon besar justru menyambut kedatangan mereka. Di pintu masuk kawasan tersebut terpampang tulisan: “Pattaya City is pleased to welcome USS Abraham Lincoln carrier and its personnel.”

 

Keluarga yang Menunggu di Daratan

Para awak USS Abraham Lincoln tidak semuanya dibebaskan turun ke daratan pada waktu yang sama. Mereka keluar dalam beberapa kelompok secara bertahap.

Shakeira Fairfax, yang datang jauh-jauh dari New Jersey, masih harus menunggu satu hari lagi sebelum dapat bertemu kembali dengan putrinya, Jada Fairfax, yang merupakan salah satu awak kapal.

Fairfax mengaku sangat bersemangat menantikan kepulangan putrinya. Ia hanya ingin memeluk dan memutarnya ketika mereka bertemu kembali. Namun, di balik kegembiraan itu, ada satu perasaan yang juga ia rasakan: ia tidak tahu persis siapa yang akan ia sambut pulang.

Jada menyelesaikan pelatihan dasarnya pada Oktober tahun lalu dan sebulan kemudian dikirim bertugas. Dua bulan setelah itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran. Pada Juni, Jada bahkan merayakan ulang tahunnya yang ke-25 di atas kapal.

Menurut Fairfax, komunikasi dengan putrinya sempat terhenti secara mendadak ketika perang pecah. Namun, setelah itu, mereka kembali dapat berkomunikasi secara berkala. Fairfax juga masih bisa mengirimkan paket berisi kebutuhan untuk putrinya.

Kapal Disebut Seperti 'Mobil Kotor'

Kapten kapal, Dan Keeler, juga memberikan tanggapan kepada media mengenai kondisi USS Abraham Lincoln.

Ia mengakui bahwa kapal tersebut kini tampak seperti 'mobil kotor di tempat parkir'. Namun, ketika ditanya mengenai laporan tentang kondisi kehidupan di dalam kapal, Keeler mengatakan ada ketidaksesuaian antara pemberitaan di tanah air dan apa yang sebenarnya terjadi di kapal.

Menurut Keeler, pelaut yang baru pertama kali menjalani kehidupan seperti itu memang cenderung mengeluhkan makanan dan kondisi tempat tinggal. Ia membandingkannya dengan anak-anak yang untuk pertama kalinya dikirim pergi kuliah.

Keeler juga mengatakan bahwa awak kapal sempat terseret dalam siklus pemilu dan diperlakukan seperti bola yang dilempar ke sana kemari.

Kini, setelah berbulan-bulan berada di laut, para awak USS Abraham Lincoln akhirnya kembali menginjak daratan. Bagi sebagian dari mereka, Pattaya bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan kesempatan untuk tidur di daratan, mencoba makanan baru, bertemu orang-orang baru, dan—bagi sebagian keluarga—akhirnya kembali bertemu dengan orang terkasih.