Liputan6.com, Jakarta - Arti Surah Al-Mujadilah ayat 11 mengandung dua pesan, anjuran etika sosial dalam majelis sekaligus penegasan tentang kemuliaan ilmu dan orang-orang berilmu. Surat Al-Mujadilah sendiri merupakan surat ke-58 dalam mushaf Al-Qur'an yang terdiri dari 22 ayat.
Ayat ini turun di Madinah dan tergolong dalam surat Madaniyah, yang berarti memiliki kaitan erat dengan konteks sosial kemasyarakatan umat Islam saat itu. Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menyimpulkan bahwa ayat ini memerintahkan setiap mukmin untuk melakukan tindakan yang mencerminkan kasih sayang.
Lebih dari itu, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu. Ini menjadi fondasi teologis tentang kemuliaan ilmu dalam Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Misbah, ayat ini menegaskan bahwa mereka yang beriman dan menghiasi diri dengan pengetahuan memiliki kedudukan yang lebih tinggi.
Advertisement
Bacaan Surah Al-Mujadilah Ayat 11: Arab, Latin, dan Artinya
Berikut adalah bacaan lengkap Surah Al-Mujadilah ayat 11 dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:
Arab: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
Latin: Yā ayyuhalladzīna āmanū idzā qīla lakum tafassaḥū fil-majālisi fafsaḥū yafsaḥillāhu lakum, wa idzā qīlansyuzū fansyuzū yarfa‘illāhulladzīna āmanū mingkum walladzīna ūtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu 'Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,' lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, 'Berdirilah,' (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
Tafsir Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Para mufassir dari berbagai generasi telah memberikan penafsiran mendalam terhadap ayat ini. Berikut adalah beberapa tafsir utama:
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan pendidikan yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya serta anjuran agar mereka berperilaku baik terhadap sesamanya dalam majelis.
Menurut tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan keutamaan orang berilmu yang dipadukan dengan keimanan, Allah menjanjikan bahwa derajat mereka lebih tinggi, baik di dunia maupun di akhirat. Penyebutan iman dan ilmu secara berdampingan menunjukkan bahwa kedudukan ilmu yang sejati harus diiringi dengan keimanan yang kuat.
2. Tafsir Al-Misbah (M. Quraish Shihab)
Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa kata tafassahu dan ifsahu terambil dari kata fasaha yang berarti lapang. Perintah berlapang-lapang dalam majelis pada mulanya bermakna memberi tempat yang berhak serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau yang lemah.
Salah satu poin penting dalam tafsir Al-Misbah adalah penjelasan bahwa ayat ini tidak menyebut secara tegas "Allah akan meninggikan" derajat orang berilmu, melainkan menyatakan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yang lebih tinggi. Hal ini sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikilah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di luar ilmu itu.
M. Quraish Shihab juga menegaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam ayat ini bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apa pun yang bermanfaat. Ayat ini membagi kaum beriman menjadi dua kelompok besar: pertama, hanya beriman dan beramal saleh; kedua, beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua lebih tinggi, bukan hanya karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga karena amal dan pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan, tulisan, maupun keteladanan.
3. Tafsir Al-Azhar (Buya Hamka)
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa surat Al-Mujadilah ayat 11 membahas tentang pentingnya menuntut ilmu. Dalam Islam, orang yang berilmu memiliki derajat yang lebih tinggi di mata Allah SWT.
Buya Hamka menuliskan ungkapan yang indah: "Iman memberi cahaya pada jiwa, disebut juga pada moral. Sedang ilmu pengetahuan memberi sinar pada mata". Beliau juga menekankan bahwa pokok hidup yang utama adalah iman, sementara ilmu sebagai pokok pengiringnya. Jika iman tidak disertai ilmu, seseorang dapat terjerumus ke dalam perbuatan yang mendurhakai Allah. Sebaliknya, ilmu tanpa iman dapat membahayakan bagi diri sendiri maupun sesama manusia.
4. Tafsir Al-Wajiz (Wahbah az-Zuhaili)
Syekh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bahwa kandungan ayat ini adalah perintah untuk memberikan keluasan di dalam tempat duduk (majelis) bagi orang lain. Allah akan meluaskan rahmat-Nya berupa keluasan tempat, jiwa, rezeki, surga, dan sebagainya kepada mereka yang melapangkan.
Asbabun Nuzul Surah Al-Mujadilah Ayat 11
Asbabun nuzul atau sebab-sebab turunnya ayat ini memiliki beberapa riwayat yang saling melengkapi. Pemahaman tentang latar belakang turunnya ayat sangat penting untuk menangkap pesan yang ingin disampaikan.
Riwayat dari Muqatil bin Hayyan
Al-Qurthubi dalam tafsirnya, dari Muqatil bin Hayyan, menyebutkan asbabun nuzul ayat ini sebagai berikut: "Rasulullah biasa memberikan tempat khusus kepada para sahabat ahli Badar. Pada hari Jumat di serambi suffah, ketika majelis sedang berlangsung, datang beberapa sahabat ahli Badar.
Mereka datang terlambat lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah dan beliau menjawabnya. Mereka mengucapkan salam kepada orang-orang di majelis itu dan mereka menjawabnya pula. Namun, tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya sehingga para ahli Badar itu berdiri. Rasulullah memerintahkan kepada sahabat-sahabatnya yang lain, yang tidak ikut perang Badar, untuk mengambil tempat lain agar para ahli Badar bisa duduk di dekat beliau".
Para sahabat yang diperintahkan berdiri itu menampakkan ketidaksenangan atas perintah Rasulullah SAW. Orang-orang munafik memanfaatkan kesempatan itu dengan menuduh Rasulullah tidak adil, bermaksud memecah belah para sahabat.
Ketika tuduhan itu sampai di telinga Rasulullah, beliau menjelaskan bahwa siapa yang memberi kelapangan untuk saudaranya, ia akan mendapatkan rahmat Allah. Sejak saat itu para sahabat menyambut seruan Rasulullah SAW dengan senang hati dan Allah pun menurunkan ayat tersebut.
Riwayat dari Kitab Tafsir Fathul Bayan
Dalam kitab Tafsir Fathul Bayan fi Maqasid Al-Qur'an karya Siddiq Hasan Khan Al-Qonuji, dijelaskan bahwa ayat ini diturunkan pada hari Jumat di tempat yang sempit. Saat itu orang-orang Badar dari kalangan Muhajirin dan Anshar mendatangi majelis Nabi Muhammad SAW.
Mereka berdiri di hadapan Nabi, menyampaikan salam, dan menunggu sampai diberi ruang atau tempat untuk mereka. Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan orang-orang di sekitarnya—dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang bukan orang-orang Badar—untuk berdiri, sampai jumlahnya sama dengan orang-orang Badar yang berdiri sehingga ada celah atau ruang yang leluasa dalam majelis itu. Kemudian turunlah ayat 11 Surat Al-Mujadalah.
Dari riwayat-riwayat di atas, dapat dipetik beberapa pelajaran penting. Pertama, ayat ini mengajarkan adab menghadiri majelis, terutama majelis ilmu dan majelis Rasulullah SAW. Kedua, ayat ini menjadi bantahan terhadap tuduhan ketidakadilan yang dilontarkan oleh orang-orang munafik.
Ketiga, ayat ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada para pejuang dan orang-orang yang berjasa (ahlul Badar) adalah bagian dari ajaran Islam. Keempat, ayat ini mengajarkan bahwa setiap mukmin harus siap memberi kelapangan bagi saudaranya, baik secara fisik maupun spiritual.
Makna Mendalam Arti Surah Al-Mujadilah Ayat 11
1. Kelapangan Fisik dan Spiritual
Kata tafassahu dan ifsahu dalam ayat ini mengandung makna kelapangan yang tidak terbatas pada dimensi fisik semata. Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menyimpulkan bahwa ayat ini memerintahkan setiap mukmin untuk melakukan tindakan yang mencerminkan kasih sayang. Kelapangan yang dimaksud mencakup kelapangan tempat duduk, kelapangan hati, kelapangan pikiran, hingga kelapangan dalam menerima perbedaan.
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan bahwa Allah akan meluaskan rahmat-Nya berupa keluasan tempat, jiwa, rezeki, surga, dan sebagainya kepada mereka yang memberi kelapangan. Ini menunjukkan bahwa kelapangan yang diberikan kepada sesama akan berbalas dengan kelapangan dari Allah dalam berbagai aspek kehidupan.
2. Penghormatan dan Kerendahan Hati
Perintah "Berdirilah" ( insyuzu ) dalam ayat ini mengandung makna penghormatan. Kata insyuzu terambil dari kata nusyuz yang berarti tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi, atau bangkit melakukan aktivitas positif. Ini mengajarkan bahwa dalam interaksi sosial, seorang mukmin harus memiliki sikap hormat kepada sesama, terutama kepada mereka yang memiliki keutamaan, tanpa merasa terhina atau direndahkan.
3. Iman dan Ilmu
Salah satu makna paling mendalam dari ayat ini adalah penggabungan antara iman dan ilmu dalam satu kalimat. Allah berfirman: "Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memberikan penafsiran yang tajam: ayat ini tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu, tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yang lebih tinggi. Tidak disebutnya kata "meninggikan" itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menambahkan bahwa iman memberi cahaya pada jiwa dan moral, sedangkan ilmu memberi sinar pada mata. Iman dan ilmu harus berjalan beriringan—iman tanpa ilmu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan, sedangkan ilmu tanpa iman dapat membahayakan.
4. Ilmu yang Bermanfaat
M. Quraish Shihab menegaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam ayat ini bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apa pun yang bermanfaat. Ilmu yang dapat menimbulkan rasa takut dan kagum kepada Allah, yang dapat mengantarkan seseorang untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk. Ini memberikan pandangan yang inklusif tentang ilmu—setiap ilmu yang bermanfaat bagi kemanusiaan memiliki nilai di sisi Allah.
5. Allah Mahateliti terhadap Amal
Penutup ayat ini— "Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan" —mengandung pesan bahwa setiap amal perbuatan manusia, sekecil apa pun, berada dalam pengawasan Allah. Baik persoalan dunia maupun akhirat, semuanya diketahui dan dinilai oleh Allah. Ini menjadi pengingat bahwa kelapangan yang diberikan kepada sesama, penghormatan yang ditunjukkan, serta ilmu yang diamalkan, semuanya akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah.
Hikmah Memahami Arti Surah Al-Mujadilah Ayat 11
1. Menumbuhkan Sikap Toleransi dan Empati Sosial
Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk selalu memberi ruang bagi orang lain, baik secara fisik dalam majelis maupun secara sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap berlapang-lapang mencerminkan empati dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan modern di mana ruang dan kesempatan sering menjadi sumber konflik. Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim dilatih untuk mengutamakan kepentingan orang lain dan tidak egois dalam menempati posisi atau kesempatan.
2. Mendorong Semangat Menuntut Ilmu
Janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang berilmu menjadi motivasi kuat bagi setiap Muslim untuk terus menuntut ilmu. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki nilai spiritual yang tinggi dan dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dalam konteks pendidikan, ayat ini menjadi landasan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dan jalan menuju kemuliaan.
3. Mengajarkan Adab dalam Majelis Ilmu
Ayat ini menjadi panduan etika dalam menghadiri majelis ilmu. Seorang penuntut ilmu harus memiliki adab: tidak memaksakan diri untuk duduk di tempat yang bukan haknya, memberi kelapangan bagi yang datang belakangan, dan siap berdiri jika diminta untuk memberi kesempatan kepada yang lebih berhak.
Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa perintah berlapang-lapang dalam majelis merupakan tuntunan akhlak yang memberikan gambaran bagaimana menjalin hubungan harmonis dalam suatu majelis.
4. Menyeimbangkan Iman dan Ilmu
Ayat ini mengajarkan bahwa iman dan ilmu adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa ilmu dapat menyebabkan kesesatan, sedangkan ilmu tanpa iman dapat membahayakan. Seorang Muslim dituntut untuk memiliki hati yang baik (iman) dan keilmuan yang kuat (ilmu).
Niat baik tanpa pengetahuan yang tepat bisa memicu dampak negatif, sedangkan niat baik yang diwujudkan dengan ilmu akan menghasilkan kebaikan universal yang manfaatnya meluas tanpa batas.
5. Meningkatkan Kesadaran akan Pengawasan Allah
Penutup ayat yang menyatakan bahwa Allah Mahateliti terhadap apa yang dikerjakan menjadi pengingat bahwa setiap amal perbuatan manusia tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Ini mendorong seorang Muslim untuk selalu berbuat baik, memberi kelapangan, dan menuntut ilmu dengan niat yang tulus karena Allah. Kesadaran ini akan membentuk pribadi yang bertanggung jawab dan istikamah dalam beramal saleh.
Pertanyaan Terkait Arti Surah Al-Mujadilah Ayat 11
1. Apa keutamaan orang yang berilmu dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11?
Surah Al-Mujadilah ayat 11 menegaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Para mufassir seperti Ibnu Katsir, Buya Hamka, dan M. Quraish Shihab sepakat bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan orang-orang berilmu di sisi Allah. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa iman memberi cahaya pada jiwa, sedangkan ilmu memberi sinar pada mata.
2. Bagaimana asbabun nuzul Surah Al-Mujadilah ayat 11?
Asbabun nuzul ayat ini berkaitan dengan peristiwa ketika para sahabat ahli Badar datang ke majelis Rasulullah SAW pada hari Jumat. Majelis saat itu penuh sesak dan tidak ada yang memberi tempat kepada mereka. Rasulullah kemudian memerintahkan sebagian sahabat untuk berdiri agar para ahli Badar bisa duduk. Perintah ini menimbulkan ketidaksenangan dan tuduhan dari orang-orang munafik, lalu turunlah ayat ini sebagai penegasan. Riwayat ini disebutkan dalam Tafsir Fathul Bayan karya Siddiq Hasan Khan Al-Qonuji dan tafsir Al-Qurthubi dari Muqatil bin Hayyan.
3. Apa perbedaan tafsir Surah Al-Mujadilah ayat 11 menurut Ibnu Katsir dan Quraish Shihab?
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menekankan bahwa ayat ini adalah pendidikan dari Allah agar hamba-Nya berperilaku baik dalam majelis dan menegaskan keutamaan orang berilmu yang dipadukan dengan keimanan. Sementara M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah memberikan penekanan pada aspek bahasa—bahwa kata tafassahu dan ifsahu berarti lapang, dan kata insyuzu berarti pindah ke tempat yang lebih tinggi. Quraish Shihab juga menyoroti bahwa ayat ini tidak secara tegas menyebut "Allah meninggikan" derajat orang berilmu, tetapi menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat yang lebih tinggi sebagai isyarat bahwa ilmu itulah yang berperan besar.
4. Apa makna kata "tafassahu" dan "insyuzu" dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11?
Kata tafassahu (berlapang-lapanglah) dan ifsahu (lapangkanlah) terambil dari kata fasaha yang berarti lapang. Perintah ini mencakup kelapangan fisik dalam majelis maupun kelapangan hati dan pikiran. Kata insyuzu (berdirilah) terambil dari kata nusyuz yang berarti tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi, atau bangkit melakukan aktivitas positif. Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menyimpulkan bahwa ayat ini memerintahkan setiap mukmin untuk melakukan tindakan yang mencerminkan kasih sayang.
5. Bagaimana relevansi Surah Al-Mujadilah ayat 11 dengan kehidupan modern?
Surah Al-Mujadilah ayat 11 memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan modern. Pertama, ayat ini mengajarkan etika sosial dalam berbagai forum dan pertemuan, mengingatkan untuk tidak egois dan selalu memberi ruang bagi orang lain. Kedua, ayat ini menjadi motivasi untuk terus menuntut ilmu dalam berbagai bidang, karena Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang berilmu. Ketiga, ayat ini mengajarkan keseimbangan antara iman dan ilmu—keduanya harus berjalan beriringan agar tidak menimbulkan kerusakan. Keempat, ayat ini mengingatkan bahwa setiap amal perbuatan berada dalam pengawasan Allah, mendorong manusia untuk senantiasa berbuat baik dan bertanggung jawab.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1462305/original/017836600_1483611820-20170105-BBM-Naik-AY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302223/original/051263400_1784536914-cek_fakta_-_Ahok_kaesang_PSI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303115/original/003143700_1784619310-mahfud_md_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3108176/original/099514400_1587459746-close-up-of-text-on-paper-318451__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339059/original/080807800_1788373387-1000625222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339076/original/047630400_1788396190-kades-penipu-768x512.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8987637/original/034103100_1782988884-1000574151.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339070/original/066759800_1788390008-IMG_20260903_041948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339066/original/096937800_1788388503-IMG_20260902_164125.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339065/original/078750200_1788387660-IMG-20260902-WA0109.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339047/original/057357200_1788370733-1090310.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306503/original/053726500_1784881133-WhatsApp_Image_2026-07-23_at_21.25.34.jpg)