Liputan6.com, Jakarta - Bacaan surah Al-Alaq beserta artinya menjadi salah satu materi penting bagi umat Islam untuk mengenal wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Surah yang terdiri atas 19 ayat ini merupakan surah ke-96 dalam Al-Qur’an dan tergolong surah Makkiyah karena diturunkan di Makkah.
Nama Al-Alaq berarti “segumpal darah” dan diambil dari kata alaq yang terdapat pada ayat kedua. Keistimewaan surah Al-Alaq bukan hanya karena menjadi bagian dari wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW.
Kandungan lima ayat pertamanya memuat pesan mendasar tentang pentingnya membaca dan belajar dengan menyebut nama Allah, sekaligus mengingatkan manusia tentang asal-usul penciptaannya. Menurut mayoritas ulama tafsir, lima ayat pertama surah ini turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang berada di Gua Hira.
Advertisement
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah membaca tersebut memiliki makna yang erat dengan upaya mengenal dan mengagungkan Allah.
Sementara itu, ayat 6-19 berbicara tentang sifat manusia yang dapat melampaui batas ketika merasa dirinya serba cukup, sekaligus memberikan peringatan kepada orang-orang yang menghalangi manusia dari beribadah kepada Allah.
Bacaan Surah Al-Alaq: Arab, Latin, dan Artinya
Berikut bacaan lengkap Surah Al-Alaq ayat 1-19 dalam tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:
Ayat 1
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
Iqra' bismi rabbikallażī khalaq.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"
Ayat 2
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ
Khalaqal-insāna min 'alaq.
"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."
Ayat 3
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ
Iqra' wa rabbukal-akram.
"Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia."
Ayat 4
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
Allażī 'allama bil-qalam.
"Yang mengajar (manusia) dengan pena."
Ayat 5
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
'Allamal-insāna mā lam ya'lam.
"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
Ayat 6
كَلَّآ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَيَطْغٰىٓۙ
Kallā innal-insāna layaṭgā.
"Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas,"
Ayat 7
اَنْ رَّاٰهُ اسْتَغْنٰىۗ
Ar ra'āhustagnā.
"apabila melihat dirinya serba cukup."
Ayat 8
اِنَّ اِلٰى رَبِّكَ الرُّجْعٰىۗ
Inna ilā rabbikar-ruj'ā.
"Sungguh, hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali(mu)."
Ayat 9
اَرَاَيْتَ الَّذِيْ يَنْهٰىۙ
A ra'aitallażī yan-hā.
"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang?"
Ayat 10
عَبْدًا اِذَا صَلّٰىۗ
'Abdan iżā ṣallā.
"seorang hamba ketika dia melaksanakan salat,"
Ayat 11
اَرَاَيْتَ اِنْ كَانَ عَلَى الْهُدٰىٓۙ
A ra'aita ing kāna 'alal-hudā.
"bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang salat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),"
Ayat 12
اَوْ اَمَرَ بِالتَّقْوٰىۗ
Au amara bit-taqwā.
"atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?"
Ayat 13
اَرَاَيْتَ اِنْ كَذَّبَ وَتَوَلّٰىۗ
A ra'aita ing każżaba wa tawallā.
"Bagaimana pendapatmu kalau dia mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari keimanan)?"
Ayat 14
اَلَمْ يَعْلَمْ بِاَنَّ اللّٰهَ يَرٰىۗ
Alam ya'lam bi'annallāha yarā.
"Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?"
Ayat 15
كَلَّا لَىِٕنْ لَّمْ يَنْتَهِ ەۙ لَنَسْفَعًا ۢ بِالنَّاصِيَةِۙ
Kallā la'il lam yantahi lanasfa'am bin-nāṣiyah.
"Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya (ke dalam neraka),"
Ayat 16
نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍۚ
Nāṣiyatin kāżibatin khāṭi'ah.
"(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan (kebenaran) dan durhaka."
Ayat 17
فَلْيَدْعُ نَادِيَهٗۙ
Falyad'u nādiyah.
"Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya)."
Ayat 18
سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَۙ
Sanad'uz-zabāniyah.
"Kelak Kami akan memanggil (Malaikat) Zabaniah (penyiksa orang-orang yang berdosa)."
Ayat 19
كَلَّاۗ لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩
Kallā, lā tuṭi'hu wasjud waqtarib.
"Sekali-kali tidak! Janganlah patuh kepadanya, (tetapi) sujud dan mendekatlah (kepada Allah)."
Tafsir Surah Al-Alaq
Para ulama dari berbagai generasi telah memberikan penafsiran mendalam terhadap setiap ayat dalam surah ini. Berikut tafsir dari sejumlah kitab klasik dan kontemporer:
Tafsir Ayat 1-5: Wahyu Pertama dan Perintah Membaca
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa kelima ayat yang turun sebagai wahyu pertama ini merupakan rahmat dan anugerah dari Allah. Dalam penafsirannya, Ibnu Katsir menyampaikan riwayat panjang dari Aisyah RA tentang proses turunnya wahyu pertama di Gua Hira.
Ia memulai tafsirnya dengan menyebutkan bahwa mula-mula wahyu Al-Qur'an yang diturunkan adalah ayat-ayat ini, yang berbicara tentang rahmat Allah dan pengetahuan-Nya yang Mahasempurna atas segala sesuatu.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menafsirkan firman Allah "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu" sebagai perintah untuk membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang akan diturunkan.
Al-Qurthubi menekankan dimensi spiritual dari membaca, memandangnya sebagai sarana untuk memperkuat keimanan dan memahami kebesaran Allah. Beliau juga menegaskan bahwa pena merupakan nikmat agung dari Allah; tanpa pena, agama tidak akan tegak dan kehidupan tidak akan baik.
Imam Al-Baidhawi (wafat 685 H) dalam kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta'wil menjelaskan bahwa pengulangan kata "iqra'" pada ayat pertama dan ketiga bertujuan menunjukkan makna melebih-lebihkan atau mengoptimalkan aktivitas membaca.
Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan bahwa surat ini berisi tentang hikmah Allah dalam menciptakan manusia dari lemah menjadi kuat, serta perintah bagi manusia berupa keutamaan membaca dan menulis agar mereka berbeda dari makhluk-makhluk lainnya.
Tafsir Ayat 6-19: Peringatan bagi Orang yang Sombong
Bagian kedua surah ini, menurut para ulama, turun dalam konteks perlawanan Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad SAW yang sedang melaksanakan salat.
Syekh Nawawi Banten (wafat 1316 H) dalam tafsirnya Marah Labid menyebutkan riwayat yang menceritakan saat Nabi membaca surat Al-Alaq sampai ayat "lanasfa'am bin-nāṣiyah", Abu Jahal berkata: "Aku akan memanggil kaumku untuk menahanku dari tuhanmu (menarik ubun-ubun)." Kemudian Allah menurunkan ayat 17-19 sebagai ancaman bagi Abu Jahal.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya terhadap ayat 19 menafsirkan "kallā, lā tuṭi'hu wasjud waqtarib" sebagai: "Sekali-kali tidak! Janganlah patuh kepadanya (Abu Jahal) dalam apa pun yang dia serukan kepadamu untuk meninggalkan salat. Dan sujudlah—yakni salatlah untuk Allah—dan mendekatlah kepada Allah—Maha Suci Dia—dengan ketaatan dan ibadah."
Asbabun Nuzul Surah Al-Alaq
Surah Al-Alaq memiliki dua periode turun yang berbeda, mencerminkan dua konteks historis yang terpisah:
Asbabun Nuzul Ayat 1-5
Lima ayat pertama surah ini merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW. Tidak ada asbabun nuzul khusus mengenai ayat ini, melainkan sebagai pertanda diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah kenabian. Peristiwa ini terjadi ketika Nabi sedang ber-tahannus (berdiam diri untuk beribadah) di Gua Hira, di usia 40 tahun.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya meriwayatkan dari Aisyah RA: "Permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah SAW berupa mimpi yang benar dalam tidur... Kemudian beliau datang ke gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam... sampai beliau dikejutkan dengan datangnya wahyu saat di gua Hira.
Malaikat yang membawanya masuk ke dalamnya menemui beliau, lalu berkata, 'Bacalah!'"Nabi menjawab, "Aku bukanlah orang yang pandai membaca." Maka malaikat itu memegang dan mendekapnya hingga tiga kali, kemudian membacakan ayat-ayat pertama surah ini.
Asbabun Nuzul Ayat 6-19
Bagian kedua surah ini turun dalam konteks perlawanan Abu Jahal terhadap Nabi Muhammad SAW yang sedang melaksanakan salat di dekat Ka'bah. Imam Jalaluddin As-Suyuti (wafat 911 H) dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas:
"Saat Nabi Muhammad sedang melaksanakan shalat, Abu Jahal datang, kemudian ia berkata: 'Apakah aku belum melarangmu dari ini?' Nabi pun mencegah Abu Jahal. Kemudian Abu Jahal berkata: 'Engkau telah mengetahui tidak ada di lembah ini yang golongannya melebihi golonganku.' Kemudian Allah menurunkan ayat: 'Falyad'u nādiyah. Sanad'uz-zabāniyah.'"
Riwayat lain dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa pada saat Rasulullah SAW melaksanakan salat, Abu Jahal datang melarangnya, lalu Allah menurunkan ayat 9-16 surat Al-Alaq. Menurut Imam Tirmidzi, hadis ini hasan shahih.
Makna Mendalam Surah Al-Alaq
Surah Al-Alaq mengandung makna-makna fundamental yang menjadi pondasi ajaran Islam:
Pertama, surah ini menegaskan bahwa membaca adalah perintah ilahi yang pertama. Ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam Islam. Perintah membaca tidak terbatas pada teks suci, tetapi mencakup seluruh alam semesta sebagai ayat-ayat Allah yang terbaca. Dalam surah ini, perintah membaca diulang dua kali (ayat 1 dan 3) untuk mengoptimalkan dan menekankan urgensi aktivitas ini.
Kedua, surah ini mengajarkan keseimbangan antara kerendahan hati dan kemuliaan. Manusia diciptakan dari benda yang hina (alaq—segumpal darah), tetapi dimuliakan dengan kemampuan membaca, menulis, dan memperoleh ilmu. Ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada keturunan atau harta, melainkan pada ilmu dan ketakwaan.
Ketiga, surah ini memberikan kritik sosial terhadap kesombongan. Manusia cenderung melampaui batas ketika merasa serba cukup (ayat 6-7). Ini menjadi peringatan bahwa kekayaan dan kekuasaan dapat mendorong manusia melanggar ketentuan Allah. Surah ini mengingatkan kita bahwa kekayaan dan kekuasaan adakalanya dapat mendorong manusia untuk melanggar hukum dan ketentuan Allah.
Keempat, surah ini mengajarkan tauhid dalam setiap aktivitas. Perintah membaca dengan menyebut nama Tuhan (ayat 1) menunjukkan bahwa setiap aktivitas manusia harus dilandasi oleh kesadaran akan kehadiran dan kekuasaan Allah.
Kelima, surah ini menegaskan bahwa ilmu dan ibadah adalah satu kesatuan. Surah diakhiri dengan perintah untuk sujud dan mendekatkan diri kepada Allah (ayat 19), menunjukkan bahwa puncak dari ilmu adalah ketundukan dan kedekatan kepada-Nya.
Kandungan Surah Al-Alaq
Secara tematik, Surah Al-Alaq mengandung beberapa pokok bahasan utama:
1. Perintah Membaca (Ayat 1 dan 3)
Ini adalah tema sentral yang diulang dalam dua ayat, menunjukkan urgensi literasi dalam Islam. Perintah ini bersifat umum—membaca segala sesuatu dengan menyebut nama Tuhan.
2. Penciptaan Manusia (Ayat 2)
Surah ini menjelaskan proses penciptaan manusia dari segumpal darah (alaq), mengingatkan akan asal-usul yang lemah dan ketergantungan manusia kepada Allah.
3. Pengajaran dengan Pena (Ayat 4)
Allah menjadikan pena sebagai alat untuk mengembangkan pengetahuan, menunjukkan bahwa instrumen literasi adalah kunci peradaban.
4. Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (Ayat 5)
Allah mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya, menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama kemajuan.
5. Kedurhakaan Manusia (Ayat 6-7)
Surah ini mengkritik manusia yang melampaui batas karena merasa serba cukup.
6. Tempat Kembali kepada Allah (Ayat 8)
Mengingatkan bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada Allah.
7. Kritik terhadap Penghalang Kebenaran (Ayat 9-16)
Surah ini mengecam mereka yang melarang ibadah dan menghalangi kebenaran.
8. Ancaman bagi Pendurhaka (Ayat 15-18)
Bagian ini berisi ancaman bagi mereka yang mendustakan kebenaran dan merendahkan ibadah.
9. Perintah Ibadah (Ayat 19)
Surah diakhiri dengan perintah untuk sujud dan mendekatkan diri kepada Allah, menunjukkan bahwa puncak dari ilmu adalah ketundukan kepada-Nya.
Hikmah Memahami Makna Surah Al-Alaq
1. Menumbuhkan Semangat Literasi dan Belajar Sepanjang Hayat
Perintah "iqra'" yang diulang dua kali mengajarkan bahwa membaca dan belajar adalah kewajiban seumur hidup. Hikmah ini mendorong umat Islam untuk terus menggali ilmu pengetahuan tanpa henti. Membaca dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada teks tertulis, tetapi juga membaca alam semesta, membaca situasi, dan membaca pelajaran dari setiap kejadian.
2. Menanamkan Kerendahan Hati di Hadapan Allah
Mengingat asal penciptaan dari 'alaq (segumpal darah) mengajarkan kerendahan hati. Manusia tidak boleh sombong karena berasal dari benda yang hina, dan kemuliaan yang dimilikinya adalah pemberian Allah semata. Surat ini berfokus pada penjelasan hikmah Allah dalam penciptaan manusia dari lemah menjadi kuat.
3. Menghargai Pena dan Ilmu Pengetahuan
Pena disebut sebagai instrumen pengajaran Allah. Hikmah ini mengajarkan penghargaan terhadap literasi dan peran ulama dalam menjaga agama. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir, pena merupakan nikmat agung dari Allah yang tanpanya agama tidak akan tegak dan kehidupan tidak akan baik.
4. Menjauhi Sikap Melampaui Batas (Thaghut)
Surah ini mengingatkan bahwa kesombongan dan kelaliman adalah akar kehancuran manusia. Sikap merasa serba cukup dapat menjerumuskan manusia pada pelanggaran terhadap ketentuan Allah. Hikmah ini mengajarkan pentingnya menjaga sikap rendah hati meskipun telah diberi kelimpahan harta dan kekuasaan.
5. Mengintegrasikan Ilmu dan Ibadah
Surah ini ditutup dengan perintah sujud dan mendekat kepada Allah, mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus berujung pada peningkatan ketakwaan dan kedekatan kepada Sang Pencipta. Ilmu tanpa iman akan melahirkan kesombongan, sedangkan iman tanpa ilmu akan melahirkan kebodohan. Inilah pesan utama yang ingin disampaikan oleh surah Al-Alaq: kemuliaan sejati terletak pada perpaduan antara ilmu dan ketundukan kepada Allah.
Pertanyaan Seputar Surat Al-Alaq
1. Apa arti Al-Alaq secara bahasa dan mengapa surah ini dinamakan demikian?
Al-Alaq secara bahasa berarti "segumpal darah" atau "darah beku yang berbentuk ulat kecil" yang melekat pada dinding rahim. Istilah ini merujuk pada fase awal penciptaan manusia dalam kandungan sebelum menjadi janin yang sempurna. Surah ini dinamakan Al-Alaq karena kata tersebut terdapat pada ayat kedua, "Khalaqal-insāna min 'alaq" (Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah).
2. Bagaimana bacaan Surah Al-Alaq ayat 1-5 dan apa artinya?
Ayat 1-5 Surah Al-Alaq berbunyi: "Iqra' bismi rabbikallażī khalaq. Khalaqal-insāna min 'alaq. Iqra' wa rabbukal-akram. Allażī 'allama bil-qalam. 'Allamal-insāna mā lam ya'lam." Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
3. Mengapa Surah Al-Alaq menjadi wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW?
Surah Al-Alaq ayat 1-5 menjadi wahyu pertama karena Allah ingin mengawali risalah kenabian dengan perintah membaca dan menekankan pentingnya ilmu pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa fondasi Islam dibangun di atas literasi dan pendidikan. Peristiwa turunnya wahyu ini terjadi ketika Nabi sedang ber-tahannus di Gua Hira pada usia 40 tahun.
4. Siapa yang melarang Nabi Muhammad SAW salat sehingga turun ayat 6-19 Surah Al-Alaq?
Abu Jahal, paman Nabi dan salah satu pemuka Quraisy yang paling memusuhi dakwah Islam. Ia melarang dan mengancam Nabi yang sedang melaksanakan salat di dekat Ka'bah, sehingga Allah menurunkan ayat 9-19 sebagai peringatan dan ancaman bagi Abu Jahal. Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam Lubabun Nuqul meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata, "Engkau telah mengetahui tidak ada di lembah ini yang golongannya melebihi golonganku," lalu Allah menurunkan ancaman-Nya.
5. Berapa jumlah ayat Surah Al-Alaq dan apa keutamaannya?
Surah Al-Alaq terdiri dari 19 ayat, 72 kalimat, dan 270 huruf. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah karena diturunkan di Mekah. Keutamaannya terletak pada statusnya sebagai wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW, menjadikannya pintu gerbang risalah kenabian dan fondasi peradaban Islam yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan literasi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359126/original/045528800_1758620783-OJK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338215/original/075602300_1788318947-IMG-20260901-WA0042.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338287/original/011095600_1788321644-email-attachment_2026_09_02_dicky-agung-prihanto_gagal-nyolong-motor-tersangka-curanmor-ditelanjangi-warga-depok_IMG-20260902-WA0014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338282/original/011438200_1788321374-images__13_.jpg)