Amalan dan Doa Memohon Hujan yang Diajarkan dalam Islam, Tata Cara dan Bacaannya

Salat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang diajarkan dalam syariat Islam.

Diterbitkan 01 September 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kemarau panjang berdampak ke nyaris semua sendi kehidupan masyarakat. Krisis air bersih, ancaman ketahanan pangan, hingga memicu kebakaran hutan serta lahan. Di tengah berbagai krisis ini, amalan dan doa memohon hujan yang diajarkan dalam islam menjadi ikhtiar yang sangat dianjurkan.

Salat Istisqa merupakan salah satu bentuk ikhtiar spiritual yang diajarkan dalam syariat Islam. Istisqa secara bahasa berarti meminta hujan, dan secara istilah adalah salat sunnah yang dikerjakan untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan ketika suatu wilayah mengalami kekeringan.

Ibadah ini telah menjadi tuntunan dalam syariat Islam dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya. Pelaksanaannya tidak hanya berfokus pada salat, tetapi juga mencakup persiapan spiritual, khutbah, istigfar, dan doa memohon hujan.

Rasulullah SAW pernah melakukan Istisqa dan memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan. Dalam sebuah riwayat, beliau keluar bersama para sahabat menuju tempat terbuka, kemudian melaksanakan salat dan memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Merangkum berbagai literatur, berikut ini adalah amalan dan doa memohon hujan yang diajarkan dalam Islam.

Shalat Istisqa, Amalan Memohon Hujan

Shalat Istisqa adalah salat sunnah yang dilaksanakan untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT saat terjadi kekeringan atau kemarau panjang. Pelaksanaan shalat ini dilakukan secara berjamaah dan diikuti dengan khutbah yang berisi ajakan untuk memperbanyak istighfar, bertaubat, serta memohon ampunan kepada Allah SWT.

Hukum dan Waktu Pelaksanaan

Shalat Istisqa hukumnya sunnah ketika masyarakat mengalami kekeringan atau membutuhkan hujan. Pelaksanaannya biasanya dilakukan di tempat terbuka dan diikuti masyarakat secara berjamaah. Waktu pelaksanaannya pada pagi hari, sebagaimana pelaksanaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Persiapan Sebelum Shalat Istisqa

Sebelum pelaksanaan shalat Istisqa, terdapat beberapa amalan yang sangat dianjurkan:

1. Puasa Tiga Hari

Umat Islam dianjurkan berpuasa selama tiga hari sebelum pelaksanaan Shalat Istisqa sebagai bagian dari persiapan dan bentuk introspeksi diri. Puasa tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperbanyak doa dan permohonan agar hujan segera diturunkan. Setelah tiga hari berpuasa, seluruh masyarakat berkumpul pada hari keempat untuk melaksanakan shalat Istisqa secara berjamaah.

2. Taubat dan Istighfar

Imam mengajak masyarakat untuk bertobat, memperbanyak istighfar, bersedekah, menghentikan maksiat dan kezaliman, serta berdamai dengan Muslim lain yang dimusuhi. Sebelum dan selama pelaksanaan, umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar, bertobat, bersedekah, serta melakukan berbagai amal kebajikan. Hal ini menunjukkan bahwa Istisqa menjadi momentum bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memohon agar kesulitan yang dihadapi segera diberikan jalan keluar.

3. Bersedekah dan Beramal Saleh

Sebelum memulai salat, imam atau pemimpin suatu kaum dianjurkan untuk bertobat yang sungguh-sungguh, bersedekah kepada mereka yang fakir, serta tidak lagi berbuat zalim. Sebaiknya jamaah memperbanyak amalan berupa amal saleh, sedekah, berdamai, saling memaafkan, juga puasa.

4. Mengenakan Pakaian Sederhana

Imam beserta masyarakat keluar menuju lapangan untuk shalat dengan menggunakan pakaian reguler yang dipakai bekerja setiap harinya, bukan pakaian bagus. Orang tua, anak kecil, serta orang-orang yang lemah secara fisik dibawa serta untuk ikut shalat.

5. Membawa Ternak

Bagi yang mempunyai ternak, dianjurkan membawa serta ternaknya ke lokasi shalat dan ditempatkan di tempat yang sekiranya tidak mengganggu jamaah.

Tata Cara Shalat Istisqa

1. Niat Shalat Istisqa

Sebelum memulai shalat, jamaah membaca niat shalat Istisqa sebagai berikut:

Tulisan Arab: أُصَلِّي سُنَّةَ الإِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا/مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Ushallī sunnatal-istisqā’i rak‘ataini mustaqbilal-qiblati imāman/makmūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya: "Aku niat shalat sunnah Istisqa dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."

2. Pelaksanaan Shalat

Shalat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan tata cara yang sama seperti shalat Id. Secara rinci, tata caranya adalah:

• Rakaat pertama: Setelah takbiratul ihram, imam melakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali sebelum membaca Surat Al-Fatihah.

• Rakaat kedua: Imam melakukan takbir tambahan sebanyak lima kali sebelum membaca Surat Al-Fatihah.

Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca surah, rukuk, sujud, duduk tahiyat, hingga salam seperti pelaksanaan shalat pada umumnya.

3. Khutbah Shalat Istisqa

Khutbah dalam shalat Istisqa memiliki kekhususan:

• Khutbah dilakukan setelah shalat (lebih utama) atau boleh sebelum shalat.

• Khutbah terdiri dari dua khutbah (boleh juga sekali) yang dipisahkan dengan duduk sejenak di antara keduanya.

• Mengawali khutbah pertama, khatib membaca istighfar sembilan kali. Mengawali khutbah kedua, khatib membaca istighfar tujuh kali.

• Khatib mengganti lafal takbir dengan lafal istighfar karena lafal ini lebih sesuai dalam konteks meminta hujan.

• Khatib memperbanyak bacaan doa dan istighfar dalam khutbah.

• Pada perkiraan dua pertiga khutbah kedua, khatib disunnahkan menghadap kiblat lalu membalik posisi selendang atau sorbannya dari bahu kanan ke bahu kiri, diikuti oleh jamaah.

• Ketika khatib berdoa, makmum mengangkat tangan sambil mengucap amin.

• Khatib meningkatkan kesungguhan berdoa secara sirr (rahasia) dan jahar (lantang).

Bacaan Doa Meminta Hujan Lengkap

Berikut adalah kumpulan doa meminta hujan yang diajarkan dalam Islam, lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya:

1. Doa Memohon Hujan yang Bermanfaat (Doa Utama)

Doa ini adalah yang paling masyhur dan diajarkan dalam hadis:

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ أَسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا سَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ

Latin: Allāhumma asqinā ghaithan mughīthan marī’an sarī‘an, nāfi‘an ghayra dhārrin, ‘ājilan ghayra ājil.

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan deras yang penuh ketentraman, menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan, yang segera datang dan tidak terlambat."

2. Doa Memohon Hujan yang Lebat, Merata, dan Abadi

Doa ini diriwayatkan oleh Imam As-Syafi'i dan para perawi lainnya:

Tulisan Arab: اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا هَنِيئًا مَرِيعًا غَدَقًا مُجَلَّلًا عَامَّا طَبَقًا سَحًّا دَائِمًا

Latin: Allāhumma-sqinā ghaithan mughīthan marī'an hanī'an marī'an ghadaqan mujallalan 'āmmā thabaqan saḥḥan dā'imā.

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah kepada kami air hujan yang menolong, menyegarkan, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi."

3. Doa Memohon Hujan dengan Pengulangan Tiga Kali

Doa ini sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW yang mengulang doa sebanyak tiga kali:

Tulisan Arab: اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

Latin: Allāhumma aghitsnā, allāhumma aghitsnā, allāhumma aghitsnā.

Artinya: "Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan."

4. Doa Memohon Hujan untuk Seluruh Makhluk

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Malik:

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ

Latin: Allāhumma-sqi 'ibādaka wa bahā'imaka, wansyur rahmataka, wa ahyi baladakal mayyit(a).

Artinya: "Ya Allah, siramilah hamba-hamba-Mu, binatang-binatang ternak-Mu, tebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah kembali bumi-Mu yang mati."

5. Doa Memohon Hujan sebagai Rahmat, Bukan Azab

Tulisan Arab: اَللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيًّا وَسَيِّبًا نَافِعًا

Latin: Allāhumma shayyiban haniyyā wa sayyiban nāfi‘ā.

Artinya: "Wahai Tuhanku, jadikan ini hujan terpuji kesudahannya dan menjadi aliran air yang bermanfaat."

6. Doa Kurab (Doa dalam Kesusahan) sebagai Pembuka Istisqa

Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

Tulisan Arab: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ العَظِيمُ الحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ

Latin: Lā ilāha illallāhul ‘azhīmul ḥalīmu, lā ilāha illallāhu rabbul ‘arsyil ‘azhīmi, lā ilāha illallāhu rabbus samāwāti wa rabbul arḍi wa rabbul ‘arsyil karīmi.

Artinya: "Tiada Tuhan selain Allah yang agung dan santun. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Arasy yang megah. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan langit, bumi, dan Arasy yang mulia."

7. Doa Memohon Pertolongan dengan Rahmat Allah

Tulisan Arab: يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

Latin: Yā ḥayyu, yā qayyūmu, bi rahmatika astaghītsu.

Artinya: "Wahai Zat yang Maha Hidup dan Maha Tegak, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan."

Hikmah Amalan dan Doa Memohon Hujan

1. Mengakui Kekuasaan Mutlak Allah atas Alam

Doa Istisqa mengajarkan bahwa hanya Allah-lah yang berkuasa menurunkan hujan dan menghidupkan bumi yang tandus. Tradisi ini bukan sekadar ritual meminta air turun dari langit, melainkan juga sarana untuk mengakui bahwa segala urusan alam semesta berada di tangan-Nya. Sebagaimana firman Allah: "Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah" (QS. Qaf: 9).

2. Sarana Introspeksi dan Taubat

Kemarau panjang seringkali dipandang sebagai ujian dan peringatan dari Allah. KH Ma'ruf Amin dalam khutbah Istisqa menyatakan: "Kita datang untuk menyesali semua dosa yang telah diperbuat lalu memohon ampun kepada Allah dan berharap agar Allah menghilangkan kekeringan dengan diberkahi turunnya hujan. Sebagai hamba, banyak ajaran Allah yang kita abaikan". Istisqa menjadi momentum bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memohon agar kesulitan yang dihadapi segera diberikan jalan keluar.

3. Menumbuhkan Solidaritas dan Kepedulian Sosial

Salat Istisqa yang dilakukan secara berjamaah di lapangan terbuka menjadi momen kebersamaan umat dalam menghadapi musibah. Ini mengajarkan bahwa krisis yang melanda tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan doa dan kepedulian bersama.

4. Memperkuat Tawakal dan Optimisme

Di tengah krisis, doa Istisqa mengajarkan umat Islam untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ini adalah bentuk optimisme spiritual—keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba yang bersabar dan berdoa. Istisqa sendiri maknanya adalah memohon hujan kepada Allah ketika membutuhkan.

5. Memohon Hujan yang Membawa Keberkahan, Bukan Bencana

Doa-doa Istisqa menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan permohonan hujan semata, tetapi juga memohon agar hujan yang turun membawa keberkahan dan manfaat, bukan bencana. Dalam doa-doa tersebut terkandung permohonan agar hujan yang turun menyuburkan, bermanfaat, dan tidak membahayakan—sebuah keseimbangan antara harapan dan rasa takut seorang hamba kepada Allah.

 

Pertanyaan Seputar Doa Istisqa

1. Apa itu doa Istisqa dan kapan dibaca?

Doa Istisqa adalah doa meminta hujan yang dibaca ketika terjadi kemarau panjang atau kekeringan. Doa ini dapat dibaca secara individu atau dalam salat Istisqa berjamaah. Istisqa sendiri maknanya adalah memohon hujan kepada Allah ketika membutuhkan.

2. Bagaimana tata cara shalat Istisqa yang benar?

Shalat Istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjamaah di tempat terbuka. Rakaat pertama: takbir tujuh kali setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah. Rakaat kedua: takbir lima kali sebelum membaca Al-Fatihah. Setelah shalat, dilanjutkan dengan khutbah dua kali.

3. Apakah doa meminta hujan harus disertai salat Istisqa?

Tidak harus. Ada tiga cara meminta hujan: (1) cara paling minimalis adalah hanya berdoa baik sendirian atau secara berjamaah; (2) cara pertengahan adalah dengan berdoa setelah salat fardhu atau sunnah; (3) cara paling sempurna adalah dengan melaksanakan salat Istisqa.

4. Apa amalan sunnah sebelum shalat Istisqa?

Amalan sunnah sebelum shalat Istisqa antara lain: berpuasa selama tiga hari, memperbanyak istighfar dan taubat, bersedekah, menghentikan maksiat dan kezaliman, serta berdamai dengan sesama Muslim. Jamaah juga dianjurkan memakai pakaian sederhana dan membawa ternak ke lokasi shalat.

5. Apa hukum shalat Istisqa?

Shalat Istisqa hukumnya sunah muakkad (sangat dianjurkan) ketika masyarakat mengalami kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan. Pelaksanaan shalat ini merupakan bagian dari tuntunan Nabi Muhammad SAW