Kepala BGN Ungkap Kronologi Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

Atas kejadian ini, Sudaryono menegaskan masalah ini merupakan kelalaian yang disengaja dan tidak sesuai petunjuk pelaksanaan dan teknis BGN.

Diterbitkan 03 September 2026, 10:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Ratusan santri keracunan MBG akibat kelalaian SPPG Kalitengah.
  • Makanan matang jam 05.00 WIB, dilabeli jam 08.00 WIB, dan dikonsumsi terlambat.
  • BGN menegaskan ini kelalaian disengaja; SPPG ditutup sementara.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan kronologi ratusan santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo keracunan MBG pada Selasa (1/9/2026). Dia mendapatkan laporan kelalaian terkait proses dan waktu penyaluran menu MBG dari SPPG Kalitengah ke para santri.

Sudaryono mengatakan, kepala dapur dan ahli gizi SPPG tersebut tidak melabeli semua ompreng dengan keterangan waktu makanan matang dan batas maksimal konsumsi. Label tersebut hanya ditempel pada bagian atas tumpukan ompreng.

"Ternyata ahli gizi dan juga kepala dapur itu kemudian tidak melabeli semua omprengnya, hanya dikasih label satu untuk satu PIC. Jadi dia ngirim 400 itu labelnya satu," kata Sudaryono dikutip dari akun Instagram pribadinya, Kamis (3/9/2026).

BGN telah melakukan penelusuran mengenai alur dan waktu penyaluran MBG ke Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo. Sudaryono menemukan, makanan sebenarnya telah matang sejak pukul 05.00 WIB.

Sesuai petunjuk pelaksanaan dan teknis, makanan tersebut sudah harus dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WIB. Akan tetapi, kata Sudaryono, SPPG memanipulasi keterangan dengan melabeli MBG tersebut matang pukul 08.00 WIB dan dimakan maksimal pukul 10.00 WIB.

"Namun, dilabeling itu ditulis dilaporkan jam 8 dan dimakan maksimal jam 10. Dan labelnya itu tidak semua ompreng hanya satu ompreng difoto kemudian dimasukan ke dalam POP kemudian dicapture oleh radar MBG," ujar Sudaryono.

Sudaryono melanjutkan, MBG yang telah dilabeli itu lantas dikirim ke Ponpes Manbaul Hikam pukul 11.30 WIB, kemudian baru dimakan santri di atas pukul 12.00 WIB.

"Yang menjadi kenyataannya di lapangan, itu ompreng yang harusnya dimakan sebelum jam 10 dikirim ke sekolah di atas jam 11.00 kalau enggak salah 11.30 apa 11.40, baru dimakan di atas jam 12 oleh para siswa itu sehingga keracunan massal terjadi di sekolah," ungkap dia.

Atas kejadian ini, Sudaryono menegaskan masalah ini merupakan kelalaian yang disengaja dan tidak sesuai petunjuk pelaksanaan dan teknis BGN.

Dia menyatakan BGN tidak bisa membantu bila ditemukan unsur pidana atas kelalaian pihak SPPG.

"Ini namanya kelalaian disengaja, bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat, kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana mohon maaf kami enggak bisa bantu," tutup Sudaryono.

 

SPPG Ditutup Sementara

Pemerintah menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, setelah 500-an santri Ponpes Manbaul Hikam diduga mengalami keracunan.

Keputusan ini diambil sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi penyebab kejadian.

"Operasional SPPG Kalitengah dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi lebih lanjut atas penyebab kejadian tersebut," kata Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak usai mengunjungi korban di RSUD Notopuro Sidoarjo, Rabu (2/9/2026) dini hari.

Dia menegaskan penanganan korban menjadi prioritas, dengan perawatan yang disesuaikan pada kondisi masing-masing pasien.

Korban diduga keracunan usai menyantap makanan program MBG di Sidoarjo kembali bertambah.

Hingga Rabu (2/9/2026), total 566 orang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan program MBG didistribusikan dari SPPG Kalitengah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6