Bacaan dan Arti Surah At Taubah Ayat 105, Bekerja dalam Perspektif Islam

Arti surah At-Taubah ayat 105 mengandung pesan fundamental tentang etos kerja dan amal perbuatan dalam Islam.

Diterbitkan 03 September 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arti surah At-Taubah ayat 105 mengandung pesan fundamental tentang etos kerja dan amal perbuatan dalam Islam. Allah memerintahkan umat manusia untuk bekerja dan beramal dengan kesungguhan, karena semua amal perbuatan akan diperlihatkan di hadapan-Nya, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin.

Surah At-Taubah merupakan surat ke-9 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 129 ayat dan tergolong surat Madaniyah. Surat ini memiliki arti "Pengampunan" karena kata At-Taubah disebutkan berulang kali di dalamnya.

Surat At-Taubah juga memiliki beberapa nama lain, yakni Bara'ah (berlepas diri), Al-Mukshziyah (melepaskan), Al-Fadikhah (menyingkap), dan Al-Muqasyqisyah (melepaskan). Keistimewaan surat ini adalah tidak diawali dengan bacaan Basmalah karena merupakan pernyataan perang terhadap kaum musyrikin.

Ayat 105 dari surah ini turun dalam konteks pasca-Perang Tabuk yang terjadi pada tahun 9 Hijriah. Dalam buku Fikih Bekerja dalam Islam karya Dr. H. Idris Parakkasi, M.M., disebutkan bahwa ayat ini menjadi dasar penting dalam membangun paradigma kerja sebagai ibadah holistik.

Bekerja dalam Islam bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjalankan tanggung jawab moral dan spiritual sesuai ajaran Islam.

Bacaan Surah At-Taubah Ayat 105

Berikut adalah bacaan Surah At-Taubah ayat 105 lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan terjemahannya:

Arab: وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ

Latin: Wa quli'malụ fa sayarallāhu 'amalakum wa rasụluhụ wal-muminụn, wa saturaddụna ilā 'ālimil-gaibi wasy-syahādati fa yunabbiukum bimā kuntum ta'malụn.

Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

Tafsir Surah At-Taubah Ayat 105 Menurut Para Ulama

1. Tafsir Kementerian Agama RI

Dalam tafsir Kemenag RI, ayat ini mengandung perintah kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin yang bertobat agar bekerja dengan berbagai pekerjaan yang mendatangkan manfaat. Allah akan melihat pekerjaan mereka dan memberi penghargaan atasnya, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin akan menyaksikan dan menilai pekerjaan tersebut.

Manusia akan dikembalikan kepada Allah, yakni meninggal dunia dan pada hari kebangkitan semua makhluk akan kembali kepada-Nya, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya apa yang telah dikerjakan di dunia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Tafsir Kemenag juga menjelaskan bahwa melalui ayat ini, Allah SWT memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada muslim cara bertobat dan membersihkan diri dari dosa-dosa, salah satunya dengan mengerjakan amal saleh seperti bersedekah, mengeluarkan zakat, dan melakukan amal kebajikan sebanyak mungkin.

2. Tafsir As-Sa'di

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H, menafsirkan ayat ini sebagai peringatan keras dan ancaman bagi mereka yang senantiasa melakukan kebatilan, kedurhakaan, dan perbuatan maksiat.

Allah berfirman kepada orang-orang munafik, "Lakukanlah pekerjaanmu sesukamu, dan terus lakukan kebatilan kalian! Jangan kalian mengira bahwa perbuatan itu akan disembunyikan, karena Allah dan rasulnya serta orang mukmin akan melihat pekerjaanmu".

As-Sa'di menegaskan bahwa semua perbuatan akan diungkapkan dengan jelas. Makna dari ayat ini adalah: "Apa yang kamu sekalian kerjakan, entah itu perbuatan baik atau buruk, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat atas perbuatanmu, dan Rasulullah serta hamba-Nya yang beriman akan dapat melihat perbuatanmu walaupun perbuatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi (terselubung)".

Inilah yang dimaksud dengan peringatan keras bagi mereka yang melakukan kebatilan dan ancaman bagi yang senantiasa berbuat maksiat.

3. Tafsir Hamka (Tafsir Al-Azhar)

Menurut pendapat Hamka, ayat ke-105 dari Surat At-Taubah dihubungkan dengan Surat Al-Isra ayat 84 yang berbunyi: "Katakanlah: tiap-tiap orang beramal menurut bakatnya". Setelah dihubungkan dengan ayat tersebut, dapat diketahui bahwa Allah menyuruh manusia untuk bekerja menurut bakat dan bawaan, yaitu manusia diperintahkan untuk bekerja sesuai tenaga dan kemampuannya.

Manusia tidak perlu mengerjakan pekerjaan yang bukan pekerjaannya, supaya umur tidak habis dengan percuma. Dengan demikian, manusia dianjurkan untuk tidak bermalas-malasan dan menghabiskan waktu tanpa ada manfaat, serta mutu pekerjaan harus ditingkatkan dan selalu memohon petunjuk Allah.

4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menerangkan bahwa Surat At-Taubah ayat 105 berisi dorongan kepada manusia agar mawas diri dalam mengawasi amal dan pekerjaannya. Makna mengawasi amal adalah bahwa setiap amal baik atau buruk tak bisa disembunyikan, semuanya bakal dibuka Allah SWT pada hari kiamat.

Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa para Thabathaba'i berpendapat bahwa seseorang akan mengetahui hakikat amal mereka kelak di hari kemudian, dan yang menjadi saksi adalah kaum mukminin yang menjadi syuhada (saksi-saksi amal).

Asbabun Nuzul Surah At-Taubah Ayat 105

Asbabun nuzul adalah peristiwa yang menjadi latar belakang turunnya suatu ayat Al-Qur'an. Mengenai latar belakang turunnya Surat At-Taubah ayat 105, para ulama memiliki pandangan yang perlu dipahami dengan cermat.

Menurut ulama, tidak ada asbabun nuzul atau sebab khusus diturunkannya Surat At-Taubah ayat 105. Sebab, ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 102-104. Ayat 105 merupakan kelanjutan dari pembahasan tentang tobat dan amal saleh yang dimulai dari ayat-ayat sebelumnya.

Meskipun demikian, ayat ini memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa Abu Lubabah. Dalam kitab Lubabun Nuqul fii Asbaabin Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi, dijelaskan bahwa setelah Perang Tabuk, Rasulullah SAW bertanya, "Siapakah orang-orang yang terikat di tiang ini?". Seseorang menjawab, "Mereka adalah Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak ikut berperang. Mereka bersumpah tidak akan melepaskan ikatan tersebut, kecuali Rasulullah sendiri yang melepaskannya". Rasulullah SAW bersabda, "Aku tidak akan melepaskan mereka kecuali jika diperintahkan Allah SWT".

Itulah yang menjadi asbabun nuzul Surat At-Taubah ayat 102. Setelah dibebaskan Rasulullah SAW dari ikatannya, Abu Lubabah dan teman-temannya menghadap Rasulullah dan mengatakan keinginan untuk mengeluarkan sedekah hartanya. Namun, ditolak Rasulullah, kemudian turun Surah At-Taubah ayat 103. Rasulullah lalu menerima sedekah Abu Lubabah. Ayat 105 kemudian turun sebagai kelanjutan perintah untuk beramal saleh setelah tobat diterima.

Makna Mendalam Surah At-Taubah Ayat 105

Surah At-Taubah ayat 105 mengandung makna yang sangat dalam dan multidimensional.

Pertama, ayat ini menegaskan bahwa setiap amal perbuatan manusia——baik maupun buruk——senantiasa dalam pengawasan Allah SWT. Tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengetahuan-Nya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah adalah 'Alimul Ghaibi wasy-Syahadah (Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata), sehingga semua amal manusia, sekecil apa pun, tercatat dengan sempurna.

Kedua, ayat ini mengajarkan bahwa amal perbuatan manusia tidak hanya dilihat oleh Allah, tetapi juga oleh Rasulullah SAW dan orang-orang mukmin. Hal ini mengandung pesan bahwa setiap muslim hidup dalam komunitas yang saling mengawasi dan mengingatkan dalam kebaikan. Amal saleh yang dilakukan akan menjadi teladan bagi sesama, sementara amal buruk akan menjadi peringatan.

Ketiga, ayat ini mengingatkan tentang hari kembali (yaumul ma'ad) ketika semua manusia akan dikembalikan kepada Allah SWT. Pada hari itu, semua amal perbuatan akan diberitakan dan dipertanggungjawabkan. Inilah yang menjadi landasan motivasi bagi setiap muslim untuk senantiasa berbuat baik dan bekerja dengan kesungguhan, karena semua akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Keempat, sebagaimana dijelaskan oleh Hamka, ayat ini juga mengajarkan tentang pentingnya bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Setiap orang memiliki potensi dan keahlian yang berbeda-beda, dan Islam mendorong umatnya untuk mengembangkan potensi tersebut secara maksimal.

Kandungan Surah At-Taubah Ayat 105

Surah At-Taubah ayat 105 mengandung beberapa pokok ajaran penting:

1. Perintah untuk Bekerja dan Beramal Saleh

Ayat ini secara tegas memerintahkan umat Islam untuk bekerja dan beramal saleh. Perintah ini bersifat universal dan mencakup segala bentuk pekerjaan yang bermanfaat, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar mengatakan kepada kaum Muslimin yang bertobat untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dengan cara bersedekah, mengeluarkan zakat, dan melakukan amal saleh sebanyak mungkin.

2. Pengawasan Allah dan Rasul-Nya

Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat dan menilai setiap amal perbuatan. Hal ini mengajarkan bahwa setiap muslim tidak pernah bekerja dalam kesendirian; selalu ada pengawasan ilahi dan sosial yang menyertainya.

3. Pertanggungjawaban di Hari Akhir

Setiap amal perbuatan akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Pada hari kiamat, semua amal akan diberitakan dan mendapat ganjaran setimpal. Amal saleh akan mendapat pahala, sementara amal buruk akan mendapat siksa.

4. Peringatan bagi Pelaku Kemaksiatan

Ayat ini juga berisi peringatan keras bagi orang-orang yang menyalahi perintah agama. Segala perbuatan maksiat akan terbuka di hadapan Allah, Rasul, dan orang-orang mukmin pada hari kiamat. Pada saat itu, semua aib dan perbuatan buruk akan terlihat.

5. Motivasi untuk Terus Beramal

Meskipun tobat telah diterima, manusia tidak boleh berpuas diri. Waktu yang telah diisi dengan kedurhakaan tidak mungkin kembali lagi. Karena itu, manusia perlu giat melakukan kebajikan agar kerugian tidak terlalu besar. Kepada mereka dianjurkan agar tidak hanya merasa cukup dengan taubat, zakat, sedekah, dan shalat semata-mata, melainkan harus mengerjakan semua perintah Allah.

Hikmah Memahami Makna Surah At-Taubah Ayat 105

1. Meningkatkan Etos Kerja dan Produktivitas

Pemahaman bahwa Allah mengawasi setiap amal perbuatan mendorong seorang muslim untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan profesional. Sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Etos Kerja dalam Perspektif Islam, ayat ini menjadi landasan bagi pembentukan mentalitas kerja yang tinggi——rajin, disiplin, jujur, dan tidak mudah menyerah. Keyakinan bahwa Allah melihat setiap usaha akan meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja.

2. Menumbuhkan Kesadaran akan Pertanggungjawaban

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Kesadaran ini menjadikan seorang muslim lebih berhati-hati dalam bertindak, tidak gegabah, dan senantiasa mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan dan perbuatannya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hasyr ayat 18: "Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)".

3. Mendorong Keikhlasan dan Kejujuran dalam Bekerja

Karena Allah Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, tidak ada gunanya berpura-pura atau melakukan kecurangan. Keikhlasan dan kejujuran menjadi modal utama dalam bekerja. Dalam buku Fikih Bekerja dalam Islam, ditegaskan bahwa kejujuran (as-shidq) dan amanah adalah nilai-nilai dasar yang harus dimiliki setiap pekerja muslim.

4. Membangun Kesadaran Sosial (Ukhuwah)

Ayat ini menyebutkan bahwa orang-orang mukmin juga akan melihat amal perbuatan. Hal ini menumbuhkan kesadaran bahwa setiap muslim adalah bagian dari komunitas yang saling mengawasi dan mengingatkan dalam kebaikan. Semangat tolong-menolong (ta'awun) dan solidaritas akan terbangun ketika setiap individu sadar bahwa amalnya menjadi teladan bagi sesama.

5. Menjadikan Bekerja sebagai Ibadah

Pemahaman mendalam tentang ayat ini mengubah paradigma bekerja dari sekadar aktivitas duniawi menjadi ibadah yang bernilai pahala. Ketika seorang muslim bekerja dengan niat mencari ridha Allah, menjaga kehalalan, dan memberikan manfaat bagi sesama, maka pekerjaan tersebut bernilai ibadah. Sebagaimana dijelaskan dalam Fikih Bekerja dalam Islam, bekerja yang dilakukan dengan niat ibadah, cara yang halal, dan etika yang baik akan membawa maslahah dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

 

Pertanyaan Seputar Surat At-Taubah

1. Apa isi kandungan Surat At-Taubah ayat 105?

Surat At-Taubah ayat 105 mengandung perintah untuk bekerja dan beramal saleh, penegasan bahwa Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat amal perbuatan, serta peringatan tentang pertanggungjawaban di hari akhir. Ayat ini juga berisi anjuran untuk bertobat dengan bersedekah, mengeluarkan zakat, dan beramal saleh sebanyak mungkin.

2. Apa tafsir Surat At-Taubah ayat 105 menurut Kemenag?

Menurut Tafsir Kemenag RI, ayat ini memerintahkan Rasulullah untuk menyampaikan kepada kaum Muslimin yang bertobat agar bekerja dengan pekerjaan yang mendatangkan manfaat. Allah akan memberi penghargaan atas pekerjaan mereka, dan kelak semua akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan apa yang telah dikerjakan di dunia.

3. Apa asbabun nuzul Surat At-Taubah ayat 105?

Tidak ada asbabun nuzul khusus untuk Surat At-Taubah ayat 105 karena ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya (102-104). Namun, ayat ini terkait dengan peristiwa Abu Lubabah yang tidak ikut Perang Tabuk kemudian bertobat dan bersedekah. Ayat 105 turun sebagai kelanjutan perintah untuk beramal saleh setelah tobat diterima.

4. Bagaimana hubungan Surat At-Taubah ayat 105 dengan etos kerja?

Surat At-Taubah ayat 105 menjadi landasan utama etos kerja dalam Islam. Ayat ini memerintahkan umat Islam untuk bekerja dengan kesungguhan karena Allah mengawasi setiap amal. Hal ini mendorong sikap profesional, jujur, disiplin, dan produktif dalam bekerja, serta menjadikan pekerjaan sebagai bentuk ibadah.

5. Apa hikmah membaca dan memahami Surat At-Taubah ayat 105?

Hikmahnya antara lain: meningkatkan etos kerja dan produktivitas, menumbuhkan kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah, mendorong keikhlasan dan kejujuran, membangun kesadaran sosial, serta menjadikan bekerja sebagai ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah SWT.