Bimbel di Yogyakarta Diserbu, Dampak Tes Akademik Jadi Sorotan

Pengamat khawatir pembelajaran bergeser menjadi sekadar mengejar skor.

Diterbitkan 03 September 2026, 06:37 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Antrean bimbel viral akibat TKA, menggeser fokus belajar ke persiapan tes.
  • Tujuan TKA dipertanyakan, apakah tingkatkan pendidikan atau hanya skor tes.
  • Pakar sarankan TKA dihapus, fokus pada kebutuhan siswa dan asesmen sekolah.

Liputan6.com, Jakarta - Tempat bimbingan belajar (bimbel) Exist Gayam di Yogyakarta belum lama ini viral di media sosial. Sebuah video menampilkan antrean orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya untuk meningkatkan kemampuan akademik.

Pengamat pendidikan Ina Liem menilai fenomena tersebut menjadi salah satu konsekuensi dari adanya Tes Kemampuan Akademik (TKA). Menurut dia, orang tua berlomba meningkatkan kemampuan akademik anak, salah satunya dengan mengikuti program bimbel.

"Ini salah satu konsekuensi yang sejak awal saya khawatirkan dari kembalinya 'teaching to the test' dengan adanya TKA. Begitu hasil sebuah tes mempunyai konsekuensi terhadap masa depan anak, masyarakat akan beradaptasi," ujar Ina kepada Liputan6.com, Rabu (2/9/2026).

Ina memandang pemberlakuan TKA menggeser orientasi belajar. Materi yang sebelumnya dianggap penting untuk dipelajari anak berpotensi bergeser menjadi materi yang dianggap kemungkinan keluar dalam ujian.

"Orang tua mencari bimbel, anak mulai drilling, dan pembelajaran perlahan bergeser dari 'apa yang penting dipelajari anak' menjadi 'apa yang kemungkinan keluar di tes'," sambung dia.

Menurut Ina, apabila keberhasilan sebuah asesmen melahirkan industri persiapan tes yang semakin besar, tujuan dari asesmen tersebut perlu dipertanyakan kembali.

"Kita perlu bertanya: asesmen ini sedang memperbaiki kualitas pendidikan, atau hanya memperbaiki kemampuan anak mengerjakan tes?" ucap dia.

Ina menilai fenomena orang tua yang rela mengantre sejak subuh untuk mendapatkan tempat bimbel pada tahun ajaran berikutnya sebenarnya sudah dapat diprediksi.

"Ya, mau bagaimana lagi kalau dari pembuat kebijakannya sendiri menurut saya kurang memahami apa yang akan dibutuhkan generasi muda untuk survive di zamannya nanti," kata dia.

 

Rancangan Kebijakan Pendidikan

Menurut Ina, perspektif dunia kerja dan industri penting dalam merancang kebijakan pendidikan.

"Menteri kita sepanjang perjalanan profesionalnya memang sangat banyak berada di ekosistem pendidikan. Karena itu pertanyaan saya bukan soal pribadi beliau, tetapi seberapa kuat perspektif industri dan masa depan pekerjaan benar-benar masuk dalam desain kebijakan pendidikan kita?" kata dia.

"Kita sekarang bicara soal critical thinking, creativity, problem solving, adaptability, kemampuan-kemampuan yang justru semakin penting ketika AI bisa mengerjakan semakin banyak pekerjaan kognitif rutin. Tetapi insentif dalam sistem pendidikan kita malah kembali diarahkan ke skor tes," sambung Ina.

Ina pun mengingatkan para pembuat kebijakan agar kembali berfokus pada siswa dan hal-hal yang benar-benar mereka butuhkan untuk menghadapi masa depan.

"Saya sejak awal konsisten: TKA sebaiknya dihapuskan. Bukan karena saya menolak asesmen. Asesmen tetap diperlukan, tetapi tidak perlu diselenggarakan secara nasional dan serentak," kata dia.

"Biarkan masing-masing sekolah melakukan evaluasi berdasarkan kriteria yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka. Untuk pemetaan secara nasional, kita toh sudah memiliki Asesmen Nasional (AN)," jelas Ina.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6