Hujan Abu Anak Krakatau, Warga Serang Keluhkan Mata Perih dan Ganggu Sekolah

Abu vulkanik Anak Krakatau mulai terasa semakin tebal di sekitar permukiman sejak pukul 17.00 WIB.

Diterbitkan 06 September 2026, 05:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Hujan abu vulkanik Anak Krakatau melanda pesisir Serang, Banten sejak Sabtu malam.
  • Abu vulkanik sebabkan mata perih, tidak nyaman, dan ganggu aktivitas sekolah.
  • Warga cemas, sebagian mengungsi meski sebagian lain sudah terbiasa dengan erupsi.

Liputan6.com, Jakarta - Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mulai melanda kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, pada Sabtu (5/9/2026) malam.

Sebaran abu tersebut membuat warga mengeluhkan mata perih dan mengganggu aktivitas belajar mengajar di sejumlah sekolah.

Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, mengatakan abu vulkanik mulai terasa semakin tebal di sekitar permukiman sejak pukul 17.00 WIB.

"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," katanya saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang. 

Sanan mendatangi pos pemantauan tersebut untuk memastikan kondisi Gunung Anak Krakatau setelah suara gemuruh dan getaran terus terdengar sejak Jumat (4/9) malam.

Dia mengatakan, paparan abu vulkanik membuat warga merasa tidak nyaman saat beraktivitas di luar rumah. Debu juga terlihat menempel di sejumlah permukaan di sekitar permukiman.

 

Ganggu Aktivitas Sekolah

Keluhan serupa disampaikan Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat. Dia sengaja datang ke Pos PGA Anak Krakatau untuk memperoleh informasi langsung mengenai status dan kondisi gunung.

Informasi tersebut, menurut Ajat, diperlukan agar pihak sekolah dapat menyampaikan penjelasan yang valid kepada siswa dan wali murid.

Ajat membenarkan bahwa sebaran abu vulkanik mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.

"Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," ujarnya.

Menurut Ajat, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah memicu kecemasan di tengah masyarakat. Kondisi tersebut turut berdampak pada kehadiran siswa di sekolah yang menjadi lebih sepi.

Meski sebagian besar warga Pasauran menganggap suara gemuruh dan dentuman erupsi sebagai fenomena yang sudah biasa terjadi, Ajat menyebut sejumlah warga tetap memilih mengamankan diri.

"Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6