Anak Krakatau Erupsi, Penyeberangan Bakauheni-Merak Masih Normal

Operasional penyeberangan masih berjalan normal hingga Sabtu pagi.

Diterbitkan 05 September 2026, 13:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari. Aktivitas vulkanik tersebut sempat memicu kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran di perairan Selat Sunda.

Namun, kondisi tersebut sejauh ini belum berdampak terhadap aktivitas penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni, Lampung, menuju Pelabuhan Merak, Banten.

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Bakauheni, Capt. Suratno memastikan operasional penyeberangan masih berjalan normal hingga Sabtu pagi.

"Untuk di penyeberangan dari Bakauheni sampai saat ini belum ada efek sama sekali," kata Suratno, Sabtu (5/9/2026) pagi.

Menurut Suratno, Pelabuhan Bakauheni berjarak sekitar 30 nautical mile atau lebih dari 50 kilometer dari Gunung Anak Krakatau. Jarak tersebut menjadi salah satu faktor aktivitas pelabuhan belum merasakan dampak langsung erupsi.

"Jarak Bakauheni itu kurang lebih sekitar 30 nautical mile, atau hampir 50 kilometer lebih ke Anak Krakatau," jelasnya.

Suratno memastikan tidak ada pengurangan armada kapal yang melayani lintasan Bakauheni-Merak akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Sebanyak 28 kapal masih beroperasi melayani pengguna jasa penyeberangan.

"Kalau kapal, jumlahnya tetap beroperasi 28," kata dia.

Sementara itu, jumlah perjalanan atau trip penyeberangan masih menunggu penghitungan operasional. Data tersebut akan dihitung setelah periode layanan ditutup pada pukul 08.00 WIB.

ASDP dijadwalkan merilis jumlah trip penyeberangan sekitar pukul 10.00 WIB.

"Kalau trip nanti jam 10.00 rilisnya, karena baru mau tutup jam 08.00. Nanti dihitung totalnya," ujarnya.

Pemantauan Selat Sunda

KSOP Bakauheni juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi perairan Selat Sunda. Tim ditempatkan di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Sebesi yang lokasinya relatif lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau.

Hingga Sabtu pagi, tim tersebut belum melaporkan adanya dampak erupsi yang mengganggu aktivitas pelabuhan maupun penyeberangan.

"Tim kami yang berada di area terdekat, yaitu Pulau Sebesi, sementara ini masih belum ada efek," kata Suratno.

Suratno juga menanggapi informasi yang beredar mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang disebut berdampak hingga wilayah Merak dan kawasan lainnya.

Dia meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi tersebut sebelum terdapat laporan resmi dari instansi berwenang.

"Kalau versi saya, itu isunya seperti itu. Saya enggak bilang itu informasi," ujar Suratno.

Dia menjelaskan, informasi mengenai aktivitas vulkanik dan dampak erupsi merupakan kewenangan instansi teknis terkait. KSOP, kata dia, berfokus pada aspek keselamatan dan operasional pelayaran.

"Kalau rilis resmi tentang gunungnya sebaiknya dari ESDM. Kami tidak ada kewenangan itu," katanya.

Potensi abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau juga menjadi perhatian petugas. Namun, hingga laporan tim diterima pada Sabtu dini hari, belum terlihat adanya abu vulkanik yang mengganggu aktivitas penyeberangan dari sisi Bakauheni.

"Kalau abu mungkin akan ada efek, tapi laporan tim tadi dini hari masih belum kelihatan," ujarnya.

Erupsi Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam. Erupsi pertama tercatat sekitar pukul 22.03 WIB dan berlanjut hingga Sabtu dini hari.

Pada pukul 23.07 WIB, erupsi masih berlangsung. Aktivitas tersebut kemudian tercatat dalam laporan pengamatan periode 00.00-06.00 WIB.

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau diinterpretasikan sebagai lava fountain atau air mancur lava. Dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau (GAK) Pasauran juga terdengar suara dentuman dan gemuruh.

Meski aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung, kondisi penyeberangan Bakauheni-Merak hingga Sabtu pagi tetap normal.

"Kapal tetap beroperasi. Sementara ini belum ada gangguan terkait penyeberangannya," kata Suratno.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6