7 Penyebab Sering Lupa Alasan Masuk ke Sebuah Ruangan, Bukan Selalu karena Pelupa

Masuk kamar mendadak lupa mau mengambil apa? Simak penyebab sering lupa alasan masuk ke sebuah ruangan dan kaitannya dengan cara kerja otak.

Diterbitkan 05 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah masuk ke sebuah ruangan dengan tujuan tertentu, tetapi begitu sampai justru lupa ingin melakukan apa? Misalnya, awalnya ingin mengambil sesuatu di kamar, mencari barang di dapur, atau mengambil dokumen di ruang kerja, tetapi sesampainya di sana malah berdiri sambil berusaha mengingat tujuan awal. Fenomena seperti ini cukup sering dialami dalam kehidupan sehari-hari dan bisa membuat seseorang bertanya-tanya, apa penyebab sering lupa alasan masuk ke sebuah ruangan?

Kondisi tersebut memang terasa seperti otak tiba-tiba “menghapus” informasi yang baru saja ada di kepala. Namun, lupa sesaat seperti ini tidak selalu berarti seseorang memiliki daya ingat yang buruk. Perhatian yang teralihkan, terlalu banyak memikirkan sesuatu, terburu-buru, hingga perubahan konteks ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain dapat memengaruhi bagaimana otak mempertahankan informasi yang sedang digunakan. Bahkan, tujuan sederhana yang baru saja terpikirkan bisa menjadi sulit diingat ketika perhatian beralih pada hal lain.

Menariknya, fenomena ini menunjukkan bahwa proses mengingat tidak hanya bergantung pada seberapa kuat seseorang memiliki memori, tetapi juga pada fokus dan situasi ketika informasi tersebut diproses. Karena itu, jika sesekali masuk ruangan lalu lupa tujuan awal, tidak perlu langsung menganggap diri sebagai orang yang pelupa. Lantas apa penyebab sering lupa alasan masuk ke sebuah ruangan? Melansir dari berbagai sumber, Sabtu (5/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Perpindahan Ruangan Dapat Mengubah Konteks yang Sedang Diproses Otak

Salah satu penyebab paling menarik mengapa seseorang tiba-tiba lupa alasan masuk ke sebuah ruangan adalah perubahan konteks ketika berpindah tempat. Misalnya, seseorang sedang berada di ruang tamu lalu teringat ingin mengambil charger di kamar. Ia berjalan menuju kamar dengan tujuan yang masih jelas di kepalanya. Namun, begitu melewati pintu dan sampai di kamar, tiba-tiba ia tidak lagi ingat apa yang hendak dilakukan. Fenomena ini dikenal dalam psikologi kognitif sebagai “doorway effect”, yaitu kecenderungan informasi tertentu menjadi lebih sulit diingat setelah seseorang berpindah dari satu lingkungan atau konteks ke lingkungan lainnya.

Penelitian Gabriel A. Radvansky, Ph.D., dari University of Notre Dame, bersama David E. Copeland menunjukkan bahwa perpindahan lokasi dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengingat informasi yang baru saja diproses. Dalam eksperimen mereka, peserta mengalami penurunan akses terhadap informasi ketika berpindah ke ruang yang berbeda. Penjelasan yang diajukan berkaitan dengan bagaimana otak membentuk model situasi atau event model untuk memahami apa yang sedang terjadi di lingkungan tertentu. Ketika seseorang berpindah lokasi, otak dapat memperbarui model tersebut sehingga informasi yang berkaitan dengan situasi sebelumnya menjadi lebih sulit diakses.

Namun, fenomena ini tidak berarti bahwa pintu secara harfiah “menghapus” ingatan dari otak. Istilah doorway effect lebih tepat dipahami sebagai perubahan dalam akses atau pengambilan kembali informasi, bukan hilangnya memori secara permanen. Bahkan penelitian lanjutan menunjukkan bahwa efek tersebut berkaitan dengan perubahan model peristiwa dan adanya interferensi ketika otak harus mengelola beberapa konteks. Jadi, ketika masuk ke ruangan lalu lupa tujuan, masalahnya bisa saja bukan karena daya ingat buruk, melainkan karena otak sedang memperbarui konteks yang sedang aktif.

2. Perhatian Terpecah Membuat Tujuan yang Baru Dipikirkan Tidak Tersimpan dengan Kuat

Alasan berikutnya adalah perhatian yang tidak sepenuhnya tertuju pada tujuan yang ingin dilakukan. Ketika seseorang berpikir, “Saya harus mengambil kunci di kamar,” informasi tersebut memang muncul dalam pikiran, tetapi belum tentu mendapatkan perhatian yang cukup untuk dipertahankan dengan kuat. Jika dalam perjalanan menuju kamar ia memikirkan pekerjaan, membalas pesan di ponsel, mendengar suara televisi, atau memikirkan percakapan sebelumnya, perhatian dapat berpindah. Akibatnya, tujuan awal yang sederhana tersebut menjadi lebih sulit dipanggil kembali.

Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi ini sangat umum karena manusia jarang melakukan satu aktivitas dengan perhatian yang benar-benar penuh. Seseorang bisa berjalan sambil memikirkan daftar pekerjaan, merencanakan agenda berikutnya, atau memperhatikan sesuatu yang menarik di sepanjang jalan. Ketika sampai di ruangan tujuan, informasi yang sebelumnya berada di dalam fokus perhatian mungkin sudah tergeser oleh informasi baru. Inilah sebabnya seseorang terkadang merasa, “Tadi saya mau mengambil sesuatu, tapi apa, ya?” Padahal beberapa detik sebelumnya tujuan tersebut masih terasa jelas.

Kondisi tersebut juga memperlihatkan perbedaan antara memiliki informasi di dalam pikiran dan mampu mengambilnya kembali ketika dibutuhkan. Informasi yang tidak mendapatkan perhatian memadai lebih rentan terganggu oleh informasi lain. Karena itu, lupa sesaat setelah masuk ruangan tidak selalu menunjukkan masalah memori. Bisa saja seseorang sebenarnya memiliki kapasitas mengingat yang normal, tetapi tujuan tersebut tidak mendapatkan cukup perhatian sejak awal sehingga menjadi lebih mudah tergeser ketika ada stimulus atau pikiran lain.

3. Otak Dapat Memprioritaskan Informasi Baru Ketika Memasuki Lingkungan Berbeda

Ketika seseorang berpindah ruangan, otak tidak hanya membawa informasi dari tempat sebelumnya, tetapi juga harus memproses lingkungan baru. Begitu masuk ke kamar, misalnya, seseorang langsung melihat tempat tidur, pakaian, meja, ponsel, buku, atau barang lain yang ada di sekitarnya. Masing-masing dapat menjadi stimulus yang menarik perhatian. Pada saat yang sama, otak perlu menyesuaikan diri dengan konteks baru tersebut sehingga tujuan yang sebelumnya ada di pikiran dapat kehilangan prioritas.

Radvansky dan rekan-rekannya menjelaskan fenomena ini melalui konsep event models, yaitu cara manusia mengorganisasi pengalaman menjadi bagian-bagian peristiwa yang berbeda. Penelitian mereka menemukan adanya penurunan kemampuan mengingat ketika seseorang mengalami perpindahan lokasi. Dalam studi 2015 yang melibatkan orang dewasa muda dan lebih tua, efek perpindahan melalui pintu kembali diamati, menunjukkan bahwa perubahan lokasi dapat berhubungan dengan proses pembaruan informasi dalam memori.

Dengan demikian, seseorang yang lupa setelah memasuki ruangan bukan berarti otaknya berhenti bekerja. Justru sebaliknya, otak sedang melakukan pekerjaan normal untuk menyesuaikan diri dengan konteks baru. Masalahnya, tujuan yang tadi dibawa dari ruangan sebelumnya bisa menjadi kurang mudah diakses ketika konteks berubah. Karena itulah terkadang seseorang perlu melihat benda tertentu, kembali ke lokasi sebelumnya, atau memikirkan aktivitas terakhir untuk memancing kembali ingatan yang sempat hilang dari kesadaran.

4. Distraksi Kecil Bisa Menggeser Tujuan dari Ingatan Aktif

Hal lain yang sering menjadi penyebab adalah distraksi kecil yang terjadi tanpa disadari. Seseorang mungkin awalnya masuk ke dapur untuk mengambil gelas. Namun, di tengah perjalanan ia melihat ponsel, mendengar suara notifikasi, melihat makanan di meja, atau teringat bahwa ada sesuatu yang harus dilakukan. Meskipun gangguan tersebut terlihat sepele, perhatian manusia memiliki kapasitas yang terbatas. Ketika perhatian berpindah, tujuan awal bisa menjadi lebih sulit dipertahankan dalam pikiran.

Situasi ini sangat berkaitan dengan working memory atau memori kerja, yaitu sistem mental yang membantu seseorang mempertahankan dan menggunakan informasi dalam waktu singkat. Tujuan sederhana seperti “ambil kunci” atau “ambil charger” perlu tetap aktif sampai tindakan tersebut selesai. Jika perhatian terus berpindah, informasi tersebut dapat mengalami gangguan dari pikiran atau stimulus lain. Akhirnya, ketika sampai di tempat tujuan, seseorang masih tahu bahwa ia datang untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak lagi dapat mengingat detail apa yang seharusnya dilakukan.

Karena itu, kebiasaan melakukan banyak hal secara bersamaan dapat membuat pengalaman lupa seperti ini lebih sering terjadi. Bukan berarti multitasking selalu menyebabkan seseorang kehilangan ingatan, tetapi berpindah perhatian secara cepat membuat tujuan yang sedang dikerjakan lebih mudah terganggu. Cara sederhana untuk menguranginya adalah berhenti sejenak sebelum berpindah ruangan dan mengulang tujuan di dalam hati, misalnya “ambil charger, ambil charger.” Pengulangan tersebut membantu menjaga tujuan tetap menjadi bagian dari fokus perhatian sampai tindakan selesai.

5. Kita Bisa Lupa karena Tujuan Awalnya Tidak Diproses sebagai Informasi yang Penting

Tidak semua informasi yang muncul di dalam pikiran mendapatkan tingkat pemrosesan yang sama. Ada tujuan yang kita pikirkan secara sekilas, kemudian langsung dikerjakan. Misalnya, seseorang melihat baterai ponselnya hampir habis lalu spontan berpikir untuk mengambil charger. Karena tujuan tersebut dianggap sederhana dan tidak membutuhkan banyak perencanaan, otak mungkin tidak memberikan perhatian mendalam terhadap informasi tersebut. Jika kemudian ada gangguan kecil, tujuan itu dapat lebih mudah terlupakan.

Hal tersebut berbeda dengan informasi yang dianggap penting atau memiliki konsekuensi besar. Seseorang biasanya akan lebih berusaha mengingat janji dokter, jadwal penerbangan, tanggal ujian, atau tugas pekerjaan karena informasi tersebut memiliki nilai penting yang lebih tinggi. Sebaliknya, tujuan seperti mengambil sendok atau memindahkan barang mungkin hanya dipertahankan secara singkat. Ketika konteks berubah, informasi yang kurang diprioritaskan tersebut dapat lebih mudah kalah oleh informasi baru.

Inilah mengapa pengalaman lupa tujuan setelah masuk ruangan sering terasa aneh. Kita mungkin berpikir, “Bagaimana bisa saya lupa sesuatu yang baru saja saya pikirkan?” Padahal, baru saja memikirkan sesuatu tidak selalu berarti informasi tersebut tersimpan secara kuat. Ingatan dipengaruhi oleh perhatian, konteks, interferensi, serta bagaimana informasi tersebut diproses. Jadi, durasi beberapa detik sejak tujuan muncul sampai kita tiba di ruangan tidak menjamin bahwa tujuan tersebut akan selalu mudah diingat.

6. Kembali ke Ruangan Sebelumnya Kadang Membantu Memunculkan Ingatan

Pernah mengalami lupa tujuan setelah masuk ruangan, kemudian kembali ke tempat semula dan tiba-tiba teringat? Hal ini dapat terjadi karena lingkungan tempat tujuan awal terbentuk dapat berfungsi sebagai petunjuk untuk mengambil kembali informasi. Misalnya, seseorang sedang berada di ruang kerja dan tiba-tiba berpikir untuk mengambil dokumen di kamar. Setelah masuk kamar, ia lupa. Ketika kembali ke ruang kerja dan melihat meja tempat ia sebelumnya bekerja, tujuan mengambil dokumen tersebut dapat muncul kembali.

Artikel Psychology Today yang ditulis Ira E. Hyman, Jr., Ph.D., profesor psikologi di Western Washington University, membahas fenomena ini dalam artikel “Doorways Cause Forgetting.” Hyman menjelaskan bahwa kita dapat mengalami kesulitan mengingat alasan memasuki ruangan karena perpindahan tempat mengubah konteks atau model situasi yang sedang aktif. Artikel tersebut juga membahas penelitian Radvansky dan kolega mengenai bagaimana perpindahan melalui pintu berkaitan dengan penurunan akses terhadap informasi yang baru saja diproses.

Meski demikian, kembali ke ruangan sebelumnya tidak selalu otomatis mengembalikan ingatan. Penelitian lanjutan Radvansky, Krawietz, dan Tamplin menemukan bahwa kembali ke konteks awal tidak selalu membuat informasi kembali lebih mudah diingat. Artinya, lingkungan memang dapat menjadi petunjuk penting, tetapi ingatan manusia tidak bekerja seperti rekaman video yang dapat diputar ulang secara sempurna. Banyak faktor lain, seperti interferensi dan perubahan fokus perhatian, tetap dapat menentukan apakah tujuan awal berhasil ditemukan kembali.

7. Sering Lupa Sesaat Tidak Otomatis Berarti Daya Ingat Menurun

Hal yang tidak kalah penting, sesekali lupa alasan masuk ke sebuah ruangan tidak otomatis berarti seseorang mengalami penurunan daya ingat. Fenomena ini dapat terjadi pada orang yang sebenarnya memiliki fungsi memori normal. Penelitian tentang doorway effect bahkan menemukan fenomena perpindahan konteks pada berbagai kelompok peserta. Karena itu, pengalaman seperti masuk kamar lalu lupa ingin mengambil apa sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda bahwa otak mengalami masalah serius.

Frekuensi dan konteksnya tetap perlu diperhatikan. Jika lupa hanya terjadi sesekali, terutama ketika sedang terburu-buru, banyak pikiran, kurang fokus, atau melakukan beberapa aktivitas sekaligus, kemungkinan besar ada faktor perhatian dan konteks yang berperan. Sebaliknya, apabila seseorang mengalami masalah memori yang semakin sering dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, misalnya berulang kali lupa informasi penting, kesulitan menjalankan rutinitas yang sebelumnya dikuasai, atau mengalami kebingungan yang tidak biasa, kondisi tersebut tentu berbeda dan layak diperhatikan lebih lanjut.

Jadi, penyebab sering lupa alasan masuk ke sebuah ruangan bukan selalu karena pelupa. Perubahan konteks, perpindahan lokasi, perhatian yang terpecah, distraksi, dan interferensi informasi semuanya dapat membuat tujuan yang baru saja terpikirkan menjadi sulit diakses. Fenomena ini justru menunjukkan betapa kompleksnya cara otak mengatur perhatian dan memori dalam kehidupan sehari-hari. Jika sesekali mengalami “masuk ruangan lalu lupa mau apa”, tidak perlu langsung panik—bisa jadi otak hanya sedang berpindah dari satu konteks ke konteks lainnya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Penyebab Sering Lupa Alasan Masuk ke Sebuah Ruangan

1. Kenapa kita sering lupa alasan masuk ke sebuah ruangan?

Lupa tujuan setelah masuk ruangan dapat terjadi karena perubahan konteks, perhatian yang terpecah, distraksi, atau informasi baru yang mengganggu tujuan awal. Fenomena ini sering dikaitkan dengan doorway effect.

2. Apakah lupa mau melakukan sesuatu setelah masuk ruangan berarti pikun?

Tidak selalu. Lupa sesaat seperti masuk kamar lalu lupa mau mengambil sesuatu dapat dialami orang dengan daya ingat normal. Kondisi tersebut bisa terjadi karena perhatian berpindah atau otak sedang menyesuaikan diri dengan konteks baru.

3. Apa itu doorway effect?

Doorway effect adalah fenomena ketika seseorang mengalami kesulitan mengingat informasi tertentu setelah berpindah dari satu lingkungan atau konteks ke lingkungan lainnya. Perpindahan melalui pintu menjadi salah satu situasi yang dapat memicu perubahan konteks tersebut.

4. Mengapa kita bisa langsung ingat setelah kembali ke ruangan sebelumnya?

Ruangan sebelumnya dapat memberikan petunjuk yang membantu memunculkan kembali informasi yang berkaitan dengan tujuan awal. Namun, kembali ke tempat semula tidak selalu otomatis membuat seseorang mengingat apa yang sebelumnya ingin dilakukan.

5. Apakah stres dan banyak pikiran bisa membuat kita lebih sering lupa?

Bisa. Ketika perhatian terbagi karena banyak pikiran, pekerjaan, atau kekhawatiran, tujuan sederhana yang sedang dipertahankan dalam pikiran dapat lebih mudah terganggu. Akibatnya, seseorang bisa lupa apa yang baru saja hendak dilakukan.