Cerita Warga Pandeglang Saat Dentuman Anak Krakatau Bikin Jendela Bergetar

Gunung Anak Krakatau erupsi sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

Diterbitkan 05 September 2026, 12:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Warga Carita panik akibat dentuman dan getaran erupsi Gunung Anak Krakatau sejak dini hari.
  • Kepanikan diperparah trauma tsunami 2018, mendorong warga mengungsi dan anak tidak sekolah.
  • Getaran masih terasa sesekali, membuat warga tetap khawatir meski kondisi mulai tenang.

Liputan6.com, Jakarta - Suara dentuman dan getaran imbas erupsi Gunung Anak Krakatau membuat warga di Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, panik sejak Sabtu (5/9/2026) dini hari.

Salah satu warga Carita, Mohd Rizqi Baidullah atau akrab disapa Bang Baid mengaku sempat mengira suara tersebut berasal dari seseorang yang mengetuk jendela rumahnya.

Baid mengatakan suara itu pertama kali terdengar sekitar pukul 02.00 WIB. Saat itu, istrinya membangunkannya karena mendengar suara dari arah jendela seperti ada seseorang yang mengetuk-ngetuk.

Tak hanya suara, kain hordeng di rumah mereka juga terlihat bergoyang. Namun, Baid dan istrinya tidak langsung menyadari penyebabnya karena ketika melihat ke luar jendela, tidak ada seorang pun.

"Kami masih belum tahu itu apa dan membiarkannya saja karena ketika kami melihat di luar jendela tidak ada orang sama sekali," cerita Baid kepada Liputan6.com, Sabtu.

Suara dan getaran kembali terdengar lebih jelas sekitar pukul 05.00 WIB ketika Baid dan keluarganya terbangun. Bahkan, getaran pada jendela terlihat semakin kuat.

Hingga sekitar pukul 06.00 WIB, getaran masih terasa. Meski begitu, Baid mengatakan kondisi tersebut tidak seperti gempa karena tanah tidak terasa bergoyang.

Warga Berhamburan Keluar Rumah

Saat itu, warga mulai panik dan keluar rumah. Mereka baru menyadari suara dan getaran tersebut tidak hanya dirasakan keluarganya, tetapi juga oleh warga lainnya.

"Kami enggak tahu apa penyebab pastinya. Terlebih ketika melihat di media sosial juga belum ada informasi resmi apa pun yang dirilis pemerintah," ujarnya.

Baid mengatakan kepanikan warga semakin meningkat setelah beredar informasi yang mengaitkan suara dan getaran tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kekhawatiran itu semakin besar karena warga masih memiliki trauma akibat tsunami Selat Sunda pada 2018 lalu.

"Kami memang memiliki trauma mendalam akan kejadian tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu," tuturnya.

Getaran bahkan masih dirasakan hingga sekitar pukul 09.00 WIB. Sesekali, terdengar pula dentuman yang lebih keras sebelum suara dan getaran kembali mengecil.

Menurut Baid, kondisi mulai lebih tenang sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, warga masih diliputi kekhawatiran karena getaran terkadang kembali terdengar lebih kuat.

Sebagian warga bahkan memilih mengungsi sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Anak-anak juga tidak berangkat sekolah karena para orang tua khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan.

"Saat ini sudah agak tenang karena getarannya mulai berkurang. Tapi masyarakat masih lumayan panik dan belum tahu harus berbuat apa," kata Baid.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6