Liputan6.com, Jakarta - Spons cuci piring yang selalu basah bukan cuma bikin dapur terlihat kurang rapi. Kondisi lembap yang menetap justru menjadi rumah nyaman bagi bakteri, bahkan sebelum sponsnya terlihat kotor sekali pun.
Penelitian mikrobiologi dari Jerman pernah membedah lapisan dalam spons dapur dan menemukan kepadatan bakteri yang jauh lebih tinggi daripada dugaan banyak orang. Artinya, tempat menyimpan spons ternyata sama pentingnya dengan spons itu sendiri.
Kabar baiknya, cara membuat tempat spons cuci piring agar tidak selalu basah tidak butuh alat mahal atau bahan sulit dicari. Cukup memahami prinsip sederhana soal sirkulasi udara dan pemilihan bahan, dapur bisa jauh lebih higienis setiap hari.
Advertisement
Berikut adalah cara membuat tempat spons cuci piring agar tidak selalu basah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (1/9/2026).
Kenapa Spons yang Terus Basah Jadi Masalah Serius
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314308/original/076241700_1785742858-efb7ddca-7d30-4f2e-8a8c-ca604aa2752c.jpg)
Spons yang lembap sepanjang hari bukan sekadar tidak nyaman dipegang. Struktur pori-porinya yang rapat justru menciptakan kondisi ideal bagi mikroorganisme untuk berkembang biak dengan cepat.
Tim peneliti dari Justus-Liebig-University Giessen dan Furtwangen University, Jerman, meneliti empat belas spons dapur rumah tangga dan mempublikasikan hasilnya dalam jurnal Scientific Reports pada 2017. Massimiliano Cardinale dan koleganya menemukan bahwa kepadatan bakteri di dalam jaringan spons bisa mencapai puluhan miliar sel per sentimeter kubik, dengan pola pertumbuhan menyerupai lapisan biofilm di permukaan maupun rongga dalam spons.
Yang menarik, penelitian yang sama menemukan spons yang rutin "dibersihkan" oleh penggunanya justru menunjukkan proporsi jenis bakteri tertentu yang lebih tinggi, bukan lebih rendah. Artinya, sekadar membilas atau mencuci spons dengan sabun cuci piring biasa tidak cukup selama kondisi lembapnya tidak berubah. Selama air masih terperangkap di dalam pori-pori, siklus pertumbuhan mikroba akan terus berulang setiap hari.
Kelembapan, Bukan Kotoran, yang Jadi Akar Masalah
Banyak orang mengira spons kotor karena sisa makanan yang menempel. Padahal, faktor yang jauh lebih menentukan pertumbuhan bakteri adalah seberapa lama spons tetap basah setelah dipakai.
Studi yang dipublikasikan di jurnal International Journal of Food Microbiology pada 2021 oleh Trond Møretrø dan tim dari Norwegian Institute of Food, Fisheries and Aquaculture Research (Nofima) meneliti kebiasaan hampir sepuluh ribu konsumen di sepuluh negara Eropa sekaligus menguji laju pengeringan berbagai jenis spons di laboratorium. Hasilnya, bakteri Salmonella bertahan hidup lebih dari tujuh hari pada dua dari tiga jenis spons yang diuji, dan justru berkembang biak paling cepat pada spons dengan laju pengeringan paling lambat.
Temuan ini menegaskan satu hal penting: memeras spons hingga kering setelah dipakai saja belum cukup jika tempat penyimpanannya tidak mendukung proses pengeringan lanjutan. Spons yang diperas kuat memang bisa kehilangan sebagian besar kandungan airnya dalam hitungan jam, tetapi sisa kelembapan di bagian dalam tetap butuh sirkulasi udara agar benar-benar kering, bukan sekadar "tidak menetes".
Advertisement
Prinsip Dasar Tempat Spons yang Cepat Kering
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337552/original/013650100_1788249876-2.jpg)
Ada tiga prinsip yang perlu dipegang saat membuat atau memilih tempat spons: elevasi, drainase, dan sirkulasi udara. Ketiganya bekerja bersamaan untuk memastikan air tidak menggenang di sekitar atau di bawah spons.
Elevasi berarti spons tidak boleh menempel langsung pada permukaan datar yang basah, seperti cekungan wastafel atau piring keramik polos. Permukaan datar cenderung menahan lapisan air tipis di bagian bawah spons sehingga bagian tersebut tetap lembap meski permukaan atasnya sudah terlihat kering. Dokumen paten desain tempat penyimpanan alat pembersih dari Amerika Serikat bahkan mencatat bahwa wadah berbahan sangat menyerap air pun masih meninggalkan sisa kelembapan yang cukup untuk mendukung pertumbuhan bakteri, sehingga desain yang benar-benar efektif harus mengalirkan air menjauh dari spons, bukan hanya menyerapnya.
Drainase memastikan air yang menetes dari spons langsung mengalir pergi, bukan tertahan di dasar wadah. Sirkulasi udara memastikan seluruh permukaan spons, termasuk bagian bawah, tetap terpapar udara terbuka sehingga proses penguapan berlangsung merata, bukan hanya di bagian atas yang menghadap langit-langit dapur.
Cara Membuat Sendiri Tempat Spons Anti-Basah di Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337553/original/024480800_1788249876-2.jpg)
Membuat tempat spons yang mendukung pengeringan cepat sebenarnya bisa dilakukan tanpa membeli produk khusus. Berikut langkah-langkah yang bisa dicoba di dapur sendiri.
Pertama, pilih atau buat dudukan berlubang, bukan wadah tertutup rapat. Wadah kecil berbahan plastik atau stainless dengan beberapa lubang drainase di dasarnya sudah cukup untuk membiarkan air menetes turun, alih-alih terkumpul di bawah spons. Kalau ingin membuat sendiri, lubangi dasar wadah plastik bekas dengan paku panas berdiameter kecil, lalu letakkan di atas cawan atau tatakan lain yang menampung tetesan air agar tidak membasahi meja dapur.
Kedua, manfaatkan ketinggian dengan menambahkan kaki kecil atau alas berongga di bawah wadah. Sepotong tutup botol terbalik atau kelereng plastik kecil yang diletakkan di empat sudut alas bisa menciptakan celah udara beberapa milimeter, cukup untuk mencegah genangan air terjebak di antara wadah dan permukaan meja.
Ketiga, pertimbangkan menempelkan wadah pada dinding tegak dengan penyangga isap (suction hook) alih-alih meletakkannya di atas meja. Posisi menggantung membuat air menetes langsung ke wastafel, sekaligus membuat seluruh sisi spons terpapar udara secara merata karena tidak ada sisi yang menempel pada permukaan padat.
Keempat, jauhkan posisi tempat spons dari percikan air sisa cucian piring atau area yang jarang terkena sinar matahari maupun aliran udara dari jendela. Sudut dapur yang lembap dan minim ventilasi akan memperlambat penguapan meski desain wadahnya sudah tepat.
Advertisement
Memilih Bahan Wadah dan Bahan Spons yang Tepat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337554/original/031794600_1788249876-4.jpg)
Bahan wadah turut menentukan seberapa cepat air mengalir pergi dari spons. Berikut perbandingan beberapa pilihan yang umum dipakai di dapur rumah tangga.
| Bahan/Jenis Wadah | Kecepatan Drainase | Risiko Menahan Air |
|---|---|---|
| Rak kawat stainless berlubang | Cepat, air langsung menetes ke bawah | Rendah |
| Wadah silikon dengan lubang drainase | Sedang hingga cepat | Rendah–sedang |
| Piring keramik/plastik polos tanpa lubang | Lambat | Tinggi |
| Wadah gantung dengan penyangga isap | Cepat karena posisi tegak | Rendah |
Â
Selain bentuk wadah, jenis bahan spons itu sendiri ternyata juga berpengaruh besar terhadap risiko bakteri, sebuah sudut pandang yang jarang dibahas artikel sejenis yang biasanya hanya fokus pada wadahnya saja. Penelitian Sun-Young Lee yang terbit di jurnal Journal of Food Safety pada 2010 membandingkan pertumbuhan bakteri Escherichia coli pada spons berbahan pulp (serat selulosa alami), rayon, katun, dan poliester. Hasilnya, bahan pulp secara alami menekan pertumbuhan E. coli hingga di bawah batas deteksi setelah tiga jam penyimpanan, sementara bahan rayon, katun, dan poliester justru mengalami lonjakan populasi bakteri yang sangat tinggi dalam waktu 24 jam.
Artinya, memilih spons berbahan dasar selulosa/pulp sejak awal, lalu menempatkannya di wadah yang mendukung pengeringan cepat, memberi perlindungan ganda dibanding hanya mengandalkan salah satu faktor saja.
Kebiasaan Tambahan yang Memperkuat Hasil
Wadah yang tepat akan bekerja lebih maksimal kalau dibarengi kebiasaan penggunaan yang benar. Peras spons sekuat mungkin setiap selesai dipakai, sebab penelitian tim Nofima mencatat bahwa proses memeras mampu menghilangkan lebih dari 85 persen kandungan air dalam spons sebelum disimpan.
Ganti spons secara berkala, idealnya setiap satu minggu sekali meski terlihat masih bagus, sesuai anjuran yang muncul dari studi mikrobioma spons dapur di Jerman tersebut sebagai cara paling efektif menekan risiko bakteri dibanding sekadar mengandalkan pembersihan berulang. Hindari juga menumpuk spons bersama alat cuci lain seperti spons cuci wajan berminyak dalam satu wadah yang sama, karena kelembapan dari satu alat bisa merembes dan memperlambat pengeringan alat lainnya.
Terakhir, biasakan mengecek wadah spons setiap beberapa hari. Kalau masih ada genangan air tersisa di dasar wadah setelah semalaman, itu tandanya desain drainase perlu diperbaiki, bukan sekadar dikeringkan manual dengan lap.
Menyesuaikan dengan Ukuran dan Tata Letak Dapur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337555/original/046054400_1788249876-5.jpg)
Tidak semua dapur punya ruang yang sama, sehingga desain tempat spons juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Dapur dengan wastafel sempit sebaiknya memprioritaskan wadah gantung di dinding samping wastafel dibanding wadah berdiri di atas meja, karena ruang datar yang minim justru mempercepat penumpukan kelembapan dari beberapa alat sekaligus.
Sebaliknya, dapur dengan area kering di sekitar wastafel bisa memanfaatkan rak kawat kecil yang diletakkan agak menjauh dari sumber air langsung, misalnya di dekat jendela atau ventilasi dapur. Posisi ini membantu aliran udara alami mempercepat penguapan tanpa perlu alat tambahan seperti kipas kecil.
Bagi yang tinggal di daerah dengan kelembapan udara tinggi sepanjang tahun, mengganti wadah drainase pasif dengan rak susun berbahan logam anti-karat lebih disarankan dibanding plastik tipis, sebab logam cenderung tidak menyerap bau maupun sisa kelembapan pada permukaannya sehingga lebih mudah dibersihkan secara berkala.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tempat Spons Cuci Piring
Berapa lama idealnya spons cuci piring diganti?
Idealnya setiap satu minggu sekali, karena studi mikrobioma di Jerman menemukan bahwa penggantian rutin jauh lebih efektif menekan populasi bakteri dibanding hanya mengandalkan pembersihan berulang pada spons yang sama.
Apakah cukup memeras spons tanpa memperbaiki tempat penyimpanannya?
Belum cukup, sebab riset tim Nofima menunjukkan bakteri seperti Salmonella tetap bisa bertahan lebih dari tujuh hari pada spons yang laju pengeringannya lambat, meski sudah diperas sebelum disimpan.
Apakah jenis bahan spons memengaruhi risiko bakteri, bukan cuma wadahnya?
Iya, penelitian Journal of Food Safety (2010) menemukan spons berbahan pulp/selulosa alami menekan pertumbuhan E. coli jauh lebih baik dibanding spons berbahan rayon, katun, atau poliester.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337551/original/000931700_1788249876-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326734/original/091637900_1787034652-01M09GXTR95XJ7XYZFBESXSBDS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340460/original/084265900_1788507485-6442.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340622/original/093046000_1788512685-Gemini_Generated_Image_3np4br3np4br3np4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340424/original/061534100_1788505036-Gemini_Generated_Image_oy2jxfoy2jxfoy2j.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4854771/original/025933800_1717645486-Ilustrasi_serangan_panik__cemas__gelisah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309080/original/035930800_1785218365-pexels-shvets-production-7176297.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340269/original/061440800_1788497860-ChatGPT_Image_Sep_4__2026__11_41_33_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771065/original/068235200_1710317271-IMG_1701.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340109/original/062100600_1788485740-pexels-silverkblack-36766098.jpg)