Liputan6.com, Jakarta - Ciri ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar rupanya bisa dilihat dari pola pikir yang dimiliki sang ibu sejak anak masih bayi. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mei Elansary, dokter spesialis anak di Boston Medical Center, bersama sejumlah peneliti lainnya, sebagaimana dilansir dari laman The Harvard Gazette, menemukan adanya keterkaitan antara pola pikir berkembang (growth mindset) pada ibu, tingkat stres yang dialami, dan perkembangan otak bayi.
Penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa cara berpikir seorang ibu bahkan mungkin sudah berkaitan dengan tumbuh kembang anak sejak usia sangat dini. Berikut ciri ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar seperti dirangkum dari The Harvard Gazette, Jumat (4/9/2026).
1. Ibu dengan Pola Pikir Berkembang (Growth Mindset)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4598468/original/048272600_1696412875-pexels-ketut-subiyanto-4473774.jpg)
Salah satu ciri ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar adalah memiliki growth mindset atau pola pikir berkembang. Dalam pola pikir ini, ibu meyakini bahwa kemampuan seseorang bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap sejak lahir. Kecerdasan dan keterampilan dipercaya bisa terus berkembang melalui proses belajar, latihan, usaha, dan dukungan yang tepat.
Dengan pola pikir tersebut, ibu tidak menilai anak hanya berdasarkan kemampuannya saat ini. Sebaliknya, ibu percaya bahwa anak masih punya banyak ruang untuk belajar dan mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Pola pikir pertumbuhan seorang ibu adalah keyakinan bahwa Anda dapat mengembangkan kemampuan Anda melalui kerja keras dan usaha, dan bahwa saya dapat membantu anak-anak saya mempelajari hal-hal baru serta mengembangkan dan memperluas kemampuan mereka,” kata Mei Elansary.
“Kami menemukan bahwa [anak-anak dari] ibu yang memiliki tingkat stres tinggi dan juga memiliki pola pikir berkembang terlindungi; mereka terlindungi dari dampak negatif tingkat stres yang tinggi,” sambungnya.
Advertisement
2. Ibu yang Tetap Suportif Meski Sedang Menghadapi Stres
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4964085/original/068291500_1728450951-IMG-20241009-WA0018.jpg)
Penelitian ini juga menyoroti hubungan antara stres yang dialami ibu dan perkembangan otak bayi secara langsung. Para peneliti melibatkan 33 ibu beserta anak mereka yang berusia sekitar 12 bulan. Para ibu diminta memberikan informasi mengenai tingkat stres dan pola pikir yang mereka miliki, sementara aktivitas otak si kecil diamati menggunakan alat elektroensefalografi (EEG).
Hasilnya menunjukkan bahwa bayi dari ibu dengan tingkat stres tinggi sekaligus memiliki fixed mindset menunjukkan aktivitas otak yang cenderung lebih rendah. Sementara itu, bayi dari ibu yang sama-sama mengalami stres tinggi tetapi memiliki growth mindset tidak menunjukkan dampak negatif serupa pada aktivitas otaknya.
Temuan ini menjadi bagian penting dari penelitian karena menunjukkan bahwa pola pikir ibu bisa berperan sebagai faktor pelindung yang membantu menjaga perkembangan otak anak dari dampak buruk stres.
3. Ibu yang Menghargai Proses Belajar, Bukan Cuma Hasil Akhir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
Ibu dengan growth mindset biasanya tidak hanya berfokus pada hasil akhir yang diperoleh anak. Alih-alih hanya memuji anak karena mendapat nilai tinggi, ibu tipe ini lebih sering mengapresiasi usaha, ketekunan, dan strategi yang dipakai anak untuk menyelesaikan sesuatu.
Pendekatan seperti ini membantu anak memahami bahwa kemampuan bisa berkembang lewat proses, bukan bawaan yang sudah paten sejak lahir. Anak pun belajar bahwa membuat kesalahan bukan berarti dirinya tidak mampu, melainkan bagian wajar dari perjalanan menjadi lebih baik.
Advertisement
4. Ibu yang Memberi Anak Kesempatan Mencoba Hal Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5054962/original/090022900_1734431094-front-view-mother-kid-playing.jpg)
Anak membutuhkan ruang untuk bereksplorasi dan mencoba berbagai hal baru. Ibu yang percaya bahwa kemampuan anak bisa terus berkembang cenderung lebih terbuka memberikan kesempatan tersebut kepada anaknya.
Anak didorong untuk bertanya, mencoba, sesekali membuat kesalahan, lalu mencoba lagi tanpa rasa takut berlebihan. Lingkungan seperti ini membantu anak mengembangkan rasa ingin tahu sekaligus keterampilan memecahkan masalah sejak dini.
5. Ibu yang Mau Terus Belajar Menjadi Orang Tua
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256352/original/092299700_1750234787-Ibu.jpg)
Growth mindset ternyata tidak cuma diterapkan pada anak, tapi juga pada diri ibu sendiri. Seorang ibu tidak harus merasa sudah tahu segalanya tentang pengasuhan sejak awal menjadi orang tua.
Ia bisa memandang keterampilan sebagai orang tua sebagai sesuatu yang juga terus berkembang seiring waktu. Ketika satu cara pengasuhan tidak berhasil, ibu bisa mencoba pendekatan lain, mencari informasi tambahan, berdiskusi dengan tenaga profesional, atau belajar dari pengalaman sehari-hari.Dengan cara pandang seperti ini, ibu tidak terjebak pada ekspektasi bahwa dirinya harus langsung sempurna sebagai orang tua sejak hari pertama.
Advertisement
6. Ibu yang Tidak Buru-buru Melabeli Anak "Tidak Pintar"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4747005/original/010566600_1708342295-alexander-dummer-UH-xs-FizTk-unsplash.jpg)
Ciri ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar berikutnya adalah tidak menganggap keterlambatan anak sebagai kesalahan pribadi atau kekurangan permanen. Misalnya, ketika anak belum mampu membaca atau berhitung secepat teman-teman seusianya, ibu tidak buru-buru memberi label bahwa anak tersebut "tidak pintar".
Ibu justru melihat situasi tersebut sebagai bagian wajar dari proses belajar yang butuh waktu berbeda-beda pada setiap anak. Cara pandang ini yang pada akhirnya membentuk ciri ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar dalam jangka panjang, karena anak merasa didukung, bukan dihakimi.
Jadi, Benarkah Anak Pintar Pasti Memiliki Ibu yang Cerdas?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843891/original/018274600_1562156772-boy-child-childhood-235554.jpg)
Tidak sesederhana itu. Faktor keturunan memang berkontribusi terhadap kemampuan kognitif, tetapi tidak ada dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa kecerdasan anak sepenuhnya berasal dari ibu.Yang dapat dilakukan orang tua adalah menyediakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak. Interaksi yang hangat, stimulasi yang sesuai usia, kebiasaan membaca, kesempatan mengeksplorasi, serta dukungan terhadap rasa ingin tahu merupakan beberapa hal yang dapat membantu anak mengembangkan potensinya.
Dengan demikian, jika membahas ciri ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar, hal yang lebih penting bukan mencari tanda bahwa seorang ibu memiliki "gen kecerdasan", melainkan melihat bagaimana ia mendampingi anak belajar dan berkembang.
Pada akhirnya, setiap anak memiliki kemampuan dan karakter yang berbeda. Peran orang tua bukan membuat anak memenuhi standar kecerdasan tertentu, tetapi membantu mereka mendapatkan lingkungan yang memungkinkan potensinya berkembang secara optimal.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Ibu yang Anaknya Bakal Tumbuh Pintar
1. Apa ciri utama ibu yang anaknya bakal tumbuh pintar menurut penelitian ini?
Ciri utamanya adalah memiliki growth mindset atau pola pikir berkembang, yaitu keyakinan bahwa kemampuan anak bisa terus berkembang lewat usaha dan proses belajar, bukan sesuatu yang tetap sejak lahir.
2. Bagaimana stres ibu bisa memengaruhi perkembangan otak bayi?
Penelitian menemukan bahwa bayi dari ibu dengan stres tinggi dan fixed mindset menunjukkan aktivitas otak lebih rendah, sementara bayi dari ibu yang stres tinggi tapi punya growth mindset tidak menunjukkan dampak negatif serupa.
3. Apakah memuji hasil belajar anak sudah cukup untuk membentuk anak pintar?
Menurut penelitian ini, ibu dengan growth mindset justru lebih menekankan apresiasi pada proses, usaha, dan strategi anak, bukan semata-mata hasil akhir seperti nilai tinggi.
4. Apakah pola pikir ibu bisa berubah seiring waktu?
Bisa. Growth mindset juga berlaku untuk ibu sendiri sebagai orang tua, ibu bisa terus belajar, mencoba pendekatan baru, dan berkembang dalam perannya, bukan merasa harus sempurna sejak awal.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302055/original/028598000_1784530995-Presiden_ke-7_Jokowi_kumpulkan_teman_kuliah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4771065/original/068235200_1710317271-IMG_1701.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340226/original/045684000_1788496217-575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340269/original/061440800_1788497860-ChatGPT_Image_Sep_4__2026__11_41_33_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2043450/original/005572600_1522412111-pramek.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5418012/original/013015200_1763559690-kereta_api.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315076/original/040729300_1785826533-3b030088-5842-4dd0-8a23-147b3dca5029.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340200/original/018905900_1788493582-ChatGPT_Image_Sep_4__2026__10_33_43_AM.jpg)