Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang tidak suka meminjamkan barang menurut psikologi sebenarnya tidak selalu berkaitan dengan sifat pelit atau tidak peduli kepada orang lain. Ada orang yang merasa tidak nyaman ketika barang pribadinya digunakan orang lain, meskipun barang tersebut terlihat sederhana dan tidak terlalu mahal. Bagi mereka, barang tertentu memiliki nilai pribadi, fungsi khusus, atau sekadar membuat mereka merasa aman ketika berada dalam kendali sendiri.
Kebiasaan tidak meminjamkan barang juga dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang langsung mengatakan tidak, ada yang selalu mencari alasan, dan ada pula yang bersedia meminjamkan tetapi menetapkan banyak aturan. Sikap seperti ini terkadang dianggap berlebihan oleh orang di sekitarnya, terutama jika terjadi dalam hubungan pertemanan atau keluarga.
Psikologi membantu melihat perilaku tersebut secara lebih luas. Keputusan seseorang untuk mempertahankan barang miliknya dapat dipengaruhi oleh pengalaman, rasa kepemilikan, kebutuhan akan kontrol, kekhawatiran terhadap kerusakan, hingga ketidaknyamanan ketika batas pribadi terasa terganggu. Karena itu, seseorang tidak bisa langsung dinilai hanya dari kesediaannya atau ketidaksediaannya meminjamkan barang. Berikut ulsan Liputan6.com, Kamis (3/9/2026).
Advertisement
1. Sangat Menghargai Rasa Kepemilikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4814017/original/033743500_1714125218-IMG_2235.jpeg)
Salah satu ciri yang sering terlihat adalah kuatnya rasa memiliki terhadap barang pribadi. Benda yang bagi orang lain tampak biasa saja bisa memiliki arti tertentu bagi pemiliknya. Buku, pakaian, alat elektronik, koleksi, kendaraan, atau bahkan peralatan rumah tangga dapat dianggap sebagai bagian dari ruang personal.
Rasa kepemilikan semacam ini membuat seseorang merasa mempunyai hak untuk menentukan siapa yang boleh menggunakan barang tersebut. Penolakan untuk meminjamkan bukan selalu berarti ingin bersikap egois. Bisa saja orang tersebut memang memiliki batas yang lebih tegas mengenai benda apa saja yang dapat digunakan orang lain.
Dalam psikologi, hubungan seseorang dengan benda miliknya dapat menjadi bagian dari cara ia membangun identitas dan rasa aman. Barang tertentu mungkin mengingatkan seseorang pada pengalaman, pencapaian, orang tertentu, atau fase kehidupan tertentu.
Karena itu, ketika orang lain meminta barang tersebut, yang dirasakan bukan sekadar pertanyaan tentang “boleh atau tidak dipinjam”. Ada kemungkinan muncul perasaan bahwa sesuatu yang bersifat pribadi sedang dimasuki atau disentuh oleh pihak lain.
2. Tidak Nyaman Jika Barang Digunakan Orang Lain
Ciri berikutnya adalah munculnya rasa tidak nyaman ketika barang berada di tangan orang lain. Orang dengan karakter seperti ini mungkin terus memikirkan kondisi barang setelah dipinjam.
Pertanyaan seperti “Apakah akan rusak?”, “Apakah akan dikembalikan tepat waktu?”, atau “Apakah orang itu akan menggunakannya dengan hati-hati?” dapat muncul sebelum mereka memberikan barang.
Kekhawatiran tersebut semakin kuat pada benda yang mahal, rapuh, sulit diganti, atau memiliki nilai sentimental. Bahkan ketika peminjam adalah teman dekat atau anggota keluarga, rasa khawatir belum tentu hilang.
Sikap tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya masalah psikologis. Setiap orang mempunyai tingkat toleransi yang berbeda terhadap risiko. Orang yang pernah mengalami barangnya rusak atau tidak dikembalikan setelah dipinjam kemungkinan akan menjadi lebih berhati-hati pada pengalaman berikutnya.
3. Memiliki Kebutuhan Tinggi terhadap Kontrol
Meminjamkan barang berarti memberikan sebagian kendali kepada orang lain. Selama barang berada di tangan peminjam, pemilik tidak dapat sepenuhnya menentukan bagaimana benda tersebut digunakan.
Bagi sebagian orang, hilangnya kontrol sementara ini terasa tidak nyaman. Mereka lebih tenang ketika mengetahui barang berada di tempatnya dan digunakan sesuai kebiasaan mereka.
Hal tersebut dapat terlihat dari kebiasaan menetapkan banyak aturan ketika akhirnya bersedia meminjamkan. Misalnya, barang tidak boleh dibawa keluar rumah, tidak boleh digunakan oleh orang lain, harus dikembalikan pada waktu tertentu, atau harus disimpan dengan cara tertentu.
Sikap tersebut dapat menjadi cara seseorang mengurangi ketidakpastian. Selama aturan dianggap masuk akal dan tidak sampai mengganggu kehidupan sosial, perilaku ini lebih tepat dipahami sebagai preferensi pribadi daripada langsung diberi label negatif.
Advertisement
4. Sulit Melepaskan Barang yang Memiliki Nilai Emosional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5399511/original/000754700_1761976345-unnamed_-_2025-11-01T125145.730.jpg)
Tidak semua benda dinilai berdasarkan harga. Ada barang yang nilainya justru terletak pada cerita di baliknya.
Sebuah buku mungkin merupakan hadiah dari seseorang. Sebuah pakaian mungkin digunakan pada momen penting. Foto, aksesori, peralatan lama, atau benda pemberian orang tua dapat memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada harga pasarnya.
Artikel Mark Banschick, M.D. di Psychology Today mengenai alasan seseorang mempertahankan barang menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan benda dapat dipengaruhi oleh sentimentalitas, ketakutan untuk melepaskan, serta bayangan mengenai kebutuhan di masa depan.
Pandangan tersebut membantu menjelaskan mengapa ada orang yang sangat berhati-hati terhadap barang miliknya. Ketika benda mempunyai makna emosional, meminjamkannya kepada orang lain dapat terasa seperti mengambil risiko terhadap sesuatu yang sulit digantikan.
5. Berpikir tentang Kemungkinan Membutuhkan Barang Itu Lagi
Orang yang tidak suka meminjamkan barang juga dapat memiliki pola pikir yang berorientasi pada kemungkinan di masa depan.
Mereka mungkin mengatakan, “Nanti saya butuh,” meskipun saat ini barang tersebut sedang tidak digunakan. Pertimbangan tersebut sebenarnya cukup masuk akal karena kebutuhan seseorang memang dapat berubah sewaktu-waktu.
Dalam tulisan Psychology Today yang membahas perilaku mempertahankan barang, terdapat beberapa alasan mengapa orang sulit melepaskan benda, salah satunya adalah pemikiran bahwa suatu saat barang tersebut mungkin dibutuhkan. Barang disimpan karena memiliki kemungkinan fungsi di masa depan.
Pola serupa dapat memengaruhi keputusan untuk meminjamkan. Pemilik mungkin berpikir bahwa jika barang tersebut diberikan kepada orang lain, mereka akan kesulitan ketika tiba-tiba membutuhkannya.
6. Pernah Mengalami Pengalaman Buruk
Pengalaman masa lalu mempunyai peran besar dalam membentuk kebiasaan seseorang. Orang yang pernah meminjamkan barang kemudian mendapatkannya kembali dalam kondisi rusak, kotor, hilang, atau terlambat dikembalikan dapat menjadi lebih selektif setelahnya.
Pengalaman tersebut menciptakan pembelajaran sederhana: meminjamkan barang mempunyai risiko.
Seseorang mungkin kemudian memilih untuk mengatakan tidak sejak awal agar tidak mengulangi pengalaman yang sama. Dari sudut pandang pemilik barang, keputusan tersebut bukan sekadar sikap tidak ramah, melainkan bentuk kehati-hatian berdasarkan pengalaman.
Karena itu, ketika seseorang tiba-tiba menjadi sangat selektif dalam meminjamkan barang, tidak ada salahnya mempertimbangkan kemungkinan bahwa terdapat pengalaman tertentu di balik kebiasaannya.
7. Menjaga Batas Pribadi dengan Tegas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6209974/original/021020400_1779088134-pexels-doci-2215518-11963474.jpg)
Barang pribadi terkadang menjadi bagian dari batas personal seseorang. Tidak semua orang merasa nyaman jika barang-barangnya disentuh atau digunakan oleh orang lain.
Hal ini dapat terlihat pada barang-barang yang berhubungan langsung dengan tubuh atau rutinitas pribadi, seperti pakaian, kosmetik, perlengkapan kerja, ponsel, atau benda yang biasa digunakan sehari-hari.
Menolak meminjamkan barang dalam konteks seperti ini dapat menjadi bentuk penetapan batas. Seseorang sedang memberi tahu orang lain bahwa ada wilayah tertentu yang ingin tetap menjadi miliknya.
Batas pribadi sebenarnya merupakan bagian normal dari interaksi sosial. Persoalan biasanya muncul ketika salah satu pihak menganggap batas tersebut tidak masuk akal, sementara pemilik barang merasa haknya tidak dihargai.
8. Lebih Berhati-hati dalam Hubungan Sosial
Meminjamkan barang, terutama kepada teman atau keluarga, memiliki dimensi sosial yang lebih rumit daripada sekadar memindahkan sebuah benda dari satu tangan ke tangan lain.
Dalam artikel Society for Personality and Social Psychology (SPSP) berjudul Friendship Fallout and Bailout Backlash: The Psychology of Borrowing and Lending, dijelaskan bahwa hubungan pertemanan pada dasarnya memiliki karakter berbeda dari hubungan ekonomi. Pertemanan cenderung berjalan sebagai communal relationship, sedangkan hubungan ekonomi lebih dekat dengan pertukaran yang jelas dan pencatatan timbal balik.
Ketika aktivitas meminjam dan meminjamkan masuk ke dalam hubungan pertemanan, kedua jenis aturan tersebut dapat bercampur. Orang mungkin memiliki harapan berbeda mengenai kapan barang atau uang harus dikembalikan, bagaimana digunakan, dan sejauh mana pemilik boleh memberikan aturan.
Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa aktivitas meminjamkan membawa ekspektasi tertentu bagi pemberi pinjaman. Pada konteks uang, penelitian yang dirangkum SPSP menunjukkan bahwa pemberi pinjaman dapat merasa memiliki kepentingan terhadap bagaimana uang tersebut digunakan, bahkan setelah uang berpindah tangan.
Walaupun temuan tersebut berfokus pada uang, gagasan mengenai kepemilikan sementara dan ekspektasi dapat membantu memahami mengapa aktivitas meminjamkan barang juga terkadang menimbulkan ketegangan.
9. Tidak Ingin Hubungan Menjadi Rumit
Sebagian orang justru menolak meminjamkan barang karena ingin menjaga hubungan tetap sederhana.
Mereka mungkin pernah melihat pertemanan berubah menjadi tidak nyaman karena persoalan barang yang terlambat dikembalikan atau rusak. Daripada mengambil risiko munculnya konflik, mereka memilih untuk tidak meminjamkan sejak awal.
Sikap ini bisa menjadi bentuk pencegahan konflik. Orang tersebut mungkin berpikir bahwa mengatakan “tidak” selama beberapa detik lebih mudah daripada harus menagih barang berkali-kali atau berdebat ketika barang dikembalikan dalam kondisi berbeda.
Pertimbangan tersebut semakin relevan dalam hubungan yang dekat. Ketika peminjam adalah teman baik atau keluarga, pemilik barang mungkin merasa sungkan menegur jika terjadi masalah. Penolakan sejak awal kemudian dianggap sebagai cara menjaga hubungan.
Advertisement
10. Tidak Semua Penolakan Berarti Pelit
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4243443/original/063859500_1669705370-asian-displeased-lady-showing-stop-gesture.jpg)
Label “pelit” sering kali terlalu cepat diberikan kepada orang yang tidak mau meminjamkan barang. Padahal, perilaku tersebut mempunyai banyak kemungkinan penyebab.
Seseorang dapat sangat murah hati dalam memberikan bantuan, tetapi tetap tidak bersedia meminjamkan barang tertentu. Ada pula orang yang senang berbagi makanan atau uang, tetapi merasa sangat protektif terhadap koleksi pribadi.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa kemurahan hati tidak dapat diukur hanya dari kesediaan seseorang memberikan akses terhadap barang miliknya.
Psikologi juga tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis kepribadian seseorang hanya berdasarkan satu kebiasaan. Tidak suka meminjamkan barang merupakan perilaku yang harus dilihat bersama konteks, pengalaman, hubungan sosial, serta jenis barang yang dimaksud.
Cara Menyikapi Orang yang Tidak Suka Meminjamkan Barang
Jika berhadapan dengan orang yang memiliki kebiasaan tersebut, cara paling sehat adalah menghormati keputusan mereka. Barang tetap merupakan milik pribadi, sehingga pemilik mempunyai hak untuk menentukan apakah benda tersebut boleh digunakan orang lain atau tidak.
Permintaan sebaiknya disampaikan dengan jelas tanpa memberikan tekanan. Jika ditolak, tidak perlu langsung menganggap orang tersebut sombong, pelit, atau tidak menghargai hubungan.
Bagi pemilik barang, komunikasi juga dapat membantu. Jika sebenarnya bersedia meminjamkan dengan syarat tertentu, aturan dapat disampaikan sejak awal. Misalnya, kapan barang harus dikembalikan, bagaimana cara menggunakannya, serta siapa yang boleh menggunakan.
SPSP juga menekankan pentingnya memperjelas ekspektasi dalam aktivitas meminjamkan. Kejelasan sejak awal dapat mengurangi kemungkinan salah paham karena pemberi dan penerima pinjaman mungkin memiliki pemahaman berbeda mengenai hak dan kewajiban masing-masing.
Pada akhirnya, meminjamkan barang bukan kewajiban sosial yang harus selalu dipenuhi. Ada orang yang nyaman berbagi barang, sementara yang lain merasa lebih aman jika barang pribadi tetap berada dalam penguasaannya. Selama sikap tersebut tidak digunakan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain, keputusan untuk berkata “tidak” merupakan bagian dari hak seseorang dalam menetapkan batas pribadi.
Tanya Jawab Seputar Meminjamkan Barang
1. Apakah tidak suka meminjamkan barang berarti seseorang pelit?
Tidak selalu. Keengganan meminjamkan barang dapat disebabkan oleh rasa kepemilikan, kekhawatiran barang rusak, pengalaman buruk, nilai sentimental, atau kebutuhan untuk menjaga batas pribadi. Sifat pelit tidak dapat disimpulkan hanya dari satu perilaku.
2. Mengapa seseorang sangat menjaga barang miliknya?
Barang dapat mempunyai nilai lebih dari sekadar harga. Benda tertentu mungkin memiliki nilai emosional, menjadi bagian dari identitas, atau dianggap penting untuk kebutuhan masa depan. Karena itu, seseorang bisa merasa tidak nyaman ketika barang tersebut berada di tangan orang lain.
3. Apakah wajar menolak ketika seseorang ingin meminjam barang?
Wajar. Pemilik barang memiliki hak untuk menentukan penggunaan barang miliknya. Penolakan dapat disampaikan dengan sopan tanpa harus memberikan alasan yang panjang.
4. Bagaimana cara meminta barang pinjaman tanpa membuat pemiliknya tidak nyaman?
Sampaikan kebutuhan dengan jelas, tanyakan terlebih dahulu apakah pemilik bersedia, dan hormati jawabannya. Jika diperbolehkan, sepakati waktu pengembalian dan kondisi barang agar tidak terjadi kesalahpahaman.
5. Apa yang sebaiknya dilakukan jika barang yang dipinjam rusak?
Sebaiknya segera memberi tahu pemilik dan bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Bentuk tanggung jawab dapat disesuaikan dengan kondisi, misalnya memperbaiki barang, mengganti biaya perbaikan, atau menggantinya jika memang tidak dapat digunakan lagi.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339680/original/094165700_1788424535-cek_fakta_teddy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333897/original/064209300_1787812486-cek_fakta_-_tebuireng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339337/original/011380800_1788411813-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-03T120214.684.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1462305/original/017836600_1483611820-20170105-BBM-Naik-AY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3188397/original/040348000_1595496143-young-blonde-woman-thinking-isolated-blue_97712-1597.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339466/original/049922000_1788416724-HL_rumput_liar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339900/original/033567000_1788433797-dc2eb494-a92c-47bb-b433-ba538c49255b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501108/original/010304200_1770887350-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___21_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339763/original/067411100_1788427716-HL_warna_rumah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4700271/original/039189200_1703745176-smartworks-coworking-cW4lLTavU80-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339657/original/004732200_1788423815-robert-collins-lP_FbBkMn1c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339850/original/055135600_1788430788-f5ddcd6b-4911-4086-a0de-44aa45602d4b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5518875/original/080572800_1772522329-pexels-miriam-alonso-7622504.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627020/original/000666700_1782622344-aoun-abbas-97o4XH0htUs-unsplash.jpg)