Arti Surah Ar Rahman Ayat 33, Isyarat Ilmiah Eksplorasi Alam Semesta dan Kekuasaan Allah

Arti surah ar rahman ayat 33 sarat dengan makna multidimensi.

Diterbitkan 03 September 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Arti surah ar rahman ayat 33 sarat dengan makna multidimensi. Ayat ini menghimpun pesan teologis, peringatan eskatologis, hingga isyarat ilmiah tentang eksplorasi alam semesta. Ayat ini membicarakan dua golongan makhluk berakal, jin dan manusia, dengan sebuah tantangan yang bersifat metaforis sekaligus nyata.

Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini sering dikaitkan dengan pencapaian manusia di bidang eksplorasi angkasa dan penguasaan teknologi. Namun, sebenarnya maknanya jauh lebih dalam dari sekadar pencapaian fisik semata.

Dalam susunan mushaf, ayat ini berada di pertengahan surah, setelah Allah menyebutkan tentang hisab dan balasan bagi manusia dan jin. Posisi ini penting karena ayat 33 hadir sebagai respons atas pertanyaan retoris sebelumnya tentang siapa yang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah.

Konteks ayat ini sebelumnya menceritakan keadaan di Yaumul Mahsyar atau hari manusia dibangkitkan, dan tiada seorang pun yang dapat meloloskan diri kecuali dengan kekuasaan Allah.

Bacaan Surah Ar-Rahman Ayat 33 Teks Arab, Latin dan Artinya

Teks Arab: يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا۟ مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ فَٱنفُذُوا۟ ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰنٍۢ

Latin: Yā ma'syaral-jinni wal-insi inistaṭa'tum an tanfużū min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużū, lā tanfużūna illā bisulṭān

Artinya: "Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah)."

Makna Mendalam Arti Surah Ar-Rahman Ayat 33

Secara bahasa, ayat ini mengandung beberapa kata kunci yang perlu dipahami. Ma'syar berarti kumpulan atau golongan, merujuk pada seluruh komunitas jin dan manusia tanpa kecuali. Tanfudzu berarti menembus, melintasi, atau menerobos, sementara aqtar adalah bentuk jamak dari qutr yang berarti penjuru, sisi, atau wilayah. Adapun sulthan berarti kekuatan, otoritas, atau kekuasaan yang sah.

Para mufassir memberikan penafsiran yang beragam namun saling melengkapi. Tafsir Al-Muyassar dari Kementerian Agama Saudi Arabia menjelaskan bahwa ayat ini bermakna: jika kalian mampu menembus perintah Allah dan hukum-Nya dengan berlari dari ujung langit dan bumi, maka lakukanlah. Kalian tidak sanggup melakukannya kecuali dengan kekuatan dan hujjah serta izin dari Allah.

Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz menambahkan bahwa ayat ini berbicara tentang ketidakmampuan makhluk keluar dari semesta langit dan bumi untuk menghindar dari ketetapan Allah di dunia dan perhitungan-Nya di akhirat.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim memberikan penjelasan yang sangat tegas. Beliau menyatakan: "Kalian tidak akan mampu lari dari keputusan dan takdir Allah, bahkan hal itu selalu meliputi kalian. Kalian tidak akan mampu lepas dari keputusan Allah.

Tidak bisa menolak hukum-Nya ke mana pun kalian pergi, akan selalu meliputi kalian." Penafsiran ini menunjukkan bahwa ayat bukan sekadar tantangan fisik, melainkan pernyataan tentang ketidakmampuan total makhluk di hadapan kekuasaan Allah.

Ibnu Abbas, sahabat Nabi yang dikenal sebagai turjuman al-Qur'an (penerjemah Al-Qur'an)—memberikan penafsiran yang unik. Beliau berkata: "Jika kalian mampu mengilmui semua yang ada di langit dan di bumi maka ilmui-lah. Kalian tidak akan bisa kecuali dengan sulthan yaitu bayyinah (ilmu) dari Allah Ta'ala." Penafsiran ini membuka pintu bagi pemahaman bahwa sulthan dapat dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Allah.

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah menegaskan bahwa surah Ar-Rahman ayat 33 ini menceritakan tentang hari kemudian (hari kiamat). Beliau juga menyoroti bahwa ayat ini mendorong upaya manusia untuk memajukan teknologi di semua bidangnya, termasuk matematika dan sains.

Menariknya, para ulama juga menekankan bahwa ayat ini turun dalam konteks yang lebih luas—yaitu setelah Allah menyebutkan tentang perhitungan amal (al-hisab) bagi jin dan manusia. Dengan demikian, ayat 33 hadir sebagai kelanjutan logis dari peringatan sebelumnya: jika kalian merasa mampu lolos dari perhitungan-Ku, cobalah tembus langit dan bumi. Namun kalian pasti tidak akan mampu.

Asbabun Nuzul Arti Surah Ar-Rahman Ayat 33

Secara historis, surah Ar-Rahman termasuk dalam golongan surah Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Surah yang diturunkan di Makkah ini terdiri dari 78 ayat dan terdapat dalam juz ke-27 Al-Qur'an.

Mengenai asbabun nuzul khusus ayat 33, para ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun dalam konteks hari Kiamat. Tafsir Al-Mukhtashar dari Markaz Tafsir Riyadh di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid—Imam Masjidil Haram—menjelaskan: "Allah berfirman pada hari Kiamat jika sudah mengumpulkan jin dan manusia, 'Wahai jin dan manusia! Jika kalian bisa mendapatkan jalan keluar dari salah satu bagian langit dan bumi maka lakukanlah, dan kalian tidak akan mampu melakukan hal itu kecuali dengan ...'"

Konteks ini diperkuat oleh ayat-ayat sebelumnya, yaitu ayat 29 sampai 31 yang menjelaskan tentang alam semesta yang fana dan suatu saat akan binasa. Pemusnahan alam semesta ini menjadi latar belakang tantangan Allah kepada jin dan manusia untuk melarikan diri—yang mustahil mereka lakukan.

Menurut Tafsir Fii Zilalil Qur'an yang disusun oleh Sayyid Quthb, surah Ar-Rahman banyak membahas tentang penciptaan makhluk-makhluk-Nya dan alam semesta, yang merupakan bagian dari kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT. Pada ayat tersebut, Allah SWT menantang jin dan manusia untuk melintasi/menembusi penjuru langit dan bumi.

Imam Al-Bukhari dalam Shahih Bukhari juga memberikan penjelasan terkait ayat ini, bahwa "Kami akan menghisab kalian, tiada sesuatu pun yang menyibukkan-Nya dari sesuatu yang lain"—sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa Allah tidak pernah sibuk atau lalai dalam mengurus makhluk-Nya.

Dengan demikian, asbabun nuzul ayat ini erat kaitannya dengan peristiwa hari Kiamat, di mana jin dan manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya, dan tidak ada satu pun yang mampu melarikan diri dari keadilan Ilahi.

Hikmah Arti Surah Ar-Rahman Ayat 33

1. Pengakuan atas Keterbatasan Manusia dan Jin

Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun manusia dan jin telah mencapai kemajuan peradaban yang luar biasa—termasuk eksplorasi angkasa dan penguasaan teknologi—mereka tetaplah makhluk yang terbatas. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah, baik secara fisik maupun metafisik. Manusia mungkin mampu menembus atmosfer bumi dan mencapai luar angkasa, namun mereka tidak akan pernah mampu menembus "penjuru langit" secara hakiki—yaitu melampaui kekuasaan dan ketetapan Allah.

2. Penguatan Tauhid dan Keesaan Allah

Dengan menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menembus langit dan bumi kecuali dengan kekuatan dari Allah, ayat ini menegaskan bahwa segala kekuasaan di alam semesta ini berada di tangan Allah semata. Ini adalah fondasi utama akidah Islam yang mengajarkan bahwa tidak ada kekuatan dan daya kecuali dari Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai tafsir, ayat ini merupakan ketegasan Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya di langit dan bumi.

3. Peringatan tentang Hari Hisab

Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa jin dan manusia tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir-Nya. Ini adalah peringatan keras bagi mereka yang merasa bisa lolos dari keadilan Ilahi. Pada Yaumul Mahsyar, tiada seorang pun yang dapat meloloskan diri kecuali dengan kekuasaan Allah.

4. Dorongan untuk Merenungkan Kebesaran Ciptaan Allah

Dengan menyebut langit dan bumi sebagai "penjuru" yang harus ditembus, ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan betapa luas dan kompleksnya alam semesta ini. Semakin manusia menyelidiki alam, semakin ia menyadari kebesaran Sang Pencipta dan betapa kecilnya dirinya di hadapan-Nya. Sayyid Quthb dalam Tafsir Fii Zilalil Qur'an menekankan bahwa ayat ini berkaitan dengan alam semesta yang menakjubkan dan sekaligus mengingatkan akan keagungan Allah.

5. Motivasi untuk Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Ayat ini secara tidak langsung menjadi pendorong bagi umat manusia untuk terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi. Ungkapan "bisulthan" (dengan kekuatan) mengisyaratkan bahwa untuk menembus langit dan bumi diperlukan ilmu, kekuatan, dan otoritas—yang semuanya pada hakikatnya adalah karunia dari Allah. Sebagian ahli tafsir menafsirkan kata sulthan dalam ayat ini sebagai ilmu pengetahuan, yang memberi isyarat bahwa melalui ilmu, manusia dapat menjelajahi ruang angkasa.

Kesuksesan eksperimen perjalanan luar angkasa selama waktu yang sangat sedikit dan terbatas jika dibandingkan dengan besarnya alam raya itu saja memerlukan upaya yang luar biasa di bidang sains dengan segala cabangnya. Ini sejalan dengan semangat Al-Qur'an yang mendorong manusia untuk berpikir dan meneliti alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.

 

Pertanyaan Surah Ar-Rahman Ayat 33

1. Apakah Surah Ar-Rahman ayat 33 melarang manusia pergi ke luar angkasa?

Tidak. Ayat ini justru menjadi isyarat ilmiah tentang kemampuan manusia menembus langit dengan izin dan kekuatan dari Allah. Sebagian pendapat yang menyatakan bahwa manusia tidak mungkin ke luar angkasa karena tidak dibenarkan agama adalah tidak benar. Perhatikan yang dimaksud ayat adalah tidak bisa menembus penjuru langit (untuk menuju ke lapisan setelah langit selanjutnya), bukan artinya tidak mampu menembus atmosfer bumi untuk keluar angkasa.

2. Siapa yang diajak bicara dalam Surah Ar-Rahman ayat 33?

Ayat ini berbicara kepada dua golongan makhluk berakal, yaitu jin (al-jinn) dan manusia (al-ins). Dalam bahasa Arab, keduanya disebut sebagai ats-tsaqalain (dua golongan makhluk berat) yang memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah.

3. Apa makna kata "sulthan" dalam Surah Ar-Rahman ayat 33?

Kata sulthan dalam ayat ini memiliki makna yang beragam. Secara bahasa berarti kekuatan, otoritas, atau kekuasaan yang sah. Sebagian ahli tafsir menafsirkannya sebagai ilmu pengetahuan, yang menunjukkan bahwa dengan ilmu manusia dapat menembus ruang angkasa. Ada pula yang mengartikannya dengan kekuatan spiritual atau kekuasaan yang dikaruniai oleh Allah. Penelitian akademis menunjukkan bahwa kata sulthan memiliki berbagai makna yang dipengaruhi oleh sintaksis kalimat sebelum dan sesudahnya serta konteks yang menyertainya.

4. Bagaimana pandangan Ibnu Katsir tentang Surah Ar-Rahman ayat 33?

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim menafsirkan ayat ini sebagai pernyataan bahwa jin dan manusia tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir-Nya. Beliau menegaskan: "Kalian tidak akan mampu lari dari keputusan dan takdir Allah, bahkan hal itu selalu meliputi kalian. Kalian tidak akan mampu lepas dari keputusan Allah. Tidak bisa menolak hukum-Nya ke mana pun kalian pergi, akan selalu meliputi kalian."

5. Apa hubungan Surah Ar-Rahman ayat 33 dengan eksplorasi luar angkasa modern?

Ayat ini sering dikaitkan dengan pencapaian manusia dalam eksplorasi angkasa. Pakar Tafsir Alquran, Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ketegasan Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya di langit dan bumi. Maksudnya, melalui ayat tersebut Allah mengajak manusia dan jin untuk menembus langit. Ada yang menyatakan bahwa ayat 33 surah Ar-Rahman telah mengisyaratkan kemampuan manusia menjelajahi angkasa luar. Namun makna utamanya tetap pada aspek teologis, yaitu ketidakmampuan makhluk lolos dari kekuasaan Allah secara hakiki.