Film Dokumenter Energi Untuk Negeri Dinilai Bisa Jadi Pemantik Diskusi Mahasiswa

Suzanty Sitorus Nilai Film “Energi Untuk Negeri” Bagus Jadi Pemantik Diskusi Mahasiswa serta memberi contoh energi terbaharukan.

Diterbitkan 03 September 2026, 17:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suzanty Sitorus, direktur Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB) membagikan pandangannya perihal film dokumenter Energi Untuk Negeri. Ia menilai bahwa film yang membahas tentang transisi energi itu sangat layak dan baik jika ditayangkan di banyak kampus sebagai pemancing diskusi.

“Tadi presentasi Pak Eddy ada tulisan MPR Goes To Campus kan? Nah, saya terpikir film ini sebetulnya bagus sekali kalau ditayangkan di kampus-kampus. Untuk menjadi bahan pancingan suatu diskusi, pemantik critical thinking,” ucap Suzanty dalam acara peluncuran film yang dihelat pada Selasa (1/9/2026) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. 

Namun dirinya mengaku bahwa ada kekhawatiran akan transisi energi yang disalahkan jika terdapat tekanan, seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika.

“Saya sebetulnya agak khawatir bahwa critical thinking itu tidak cukup saat ini di kalangan generasi muda dan juga masyarakat. Dan itu nanti dampaknya setiap ada tekanan sedikit yang disalahkan adalah transisi energi. Yang disalahkan adalah peralihan ke energi terbarukan. Itu sudah kita lihat di Eropa dan di Amerika, mudah sekali kemudian kemudian digunakan oleh politisi” ungkapnya.

Dunia Sudah Berubah

Selain itu, Suzanty Sitorus menjelaskan bahwa film dokumenter Energi Untuk Negeri menyajikan data-data mengenai perubahan dunia.

“Saya membayangkan dari tadi ya, membayangkan film ini memantik diskusi di mahasiswa kalangan akademik sekaligus dengan menghadirkan banyak sekali data-data yang menunjukkan dunia sudah berubah loh,” ucapnya.

Dirinya pun menambahkan salah satu contoh yang belum disebutkan di film yaitu pengguna Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik yang tenang tanpa takut kekurangan bahan bakar.

“Contoh mungkin belum disebutkan, pengguna EV sekarang itu bisa tenang di rumahnya. Dia punya energy storage,” tambah Suzanty.

PLTS Membuat Masyarakat Tak Hanya Jadi Konsumen

Transisi ke energi terbarukan seperti PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) juga membuat perubahan posisi masyarakat yang tadinya konsumen menjadi produsen.

“Kemudian PLTS itu ketika ditambah baterai, masyarakat itu bukan lagi dilihat sebagai konsumen. Banyak sekali ketika membicarakan mengenai energi, kita memposisikan diri kita sebagai konsumen. Tapi dengan PLTS, plus energy storage, tadi ada EV, kita produsen, kita memiliki kedaulatan,” ujar Suzanty.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Film Dokumenter Energi Untuk Negeri merangkum dan menjelaskan tentang transisi energi. Menghadirkan beberapa sumber yaitu orang-orang yang mengerti dalam bidangnya, film ini berisi contoh nyata di mana energi adalah sesuatu yang krusial di dalam kehidupan masyarakat. Dokumenter ini disajikan sebagai kepentingan bersama untuk memastikan energi bersih yang murah dan merata, bukan dengan maksud mengganti pembangkit tidak terbarukan seperti bahan bakar fosil dengan energi yang terbarukan. Selain itu, pertanyaan yang muncul ketika membahas transisi energi seperti bagaimana skema pendanaannya pun dibahas didalamnya dengan menghadirkan pakar seperti pemangku kebijakan, ekonom, masyarakat sipil, dan pelaku usaha. Energi Untuk Negeri pun membedah transisi energi secara rinci yang meliputi kebutuhan investasi yang diperlukan, aturan, teknologi, dan dukungan dari pemangku kepentingan serta adaptasi masyarakat. Film dokumenter berdurasi 44 menit yang diproduksi oleh Media Indonesia ini, berawal dari buah pikiran Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia yang di support oleh Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB). Film ini ditayangkan premiere di Youtube pada 1 September 2026 dan bersifat non komersial.

Halaman
Show All
Afradhiya N. R, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan