Menhan Israel: Warga Palestina pada Akhirnya Akan Tinggalkan Gaza

Isu sensitif ini menjadi salah satu agenda krusial yang terus bergulir di internal pemerintahan Israel.

Diterbitkan 03 September 2026, 17:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan pada Rabu (2/9/2026) bahwa warga Palestina pada akhirnya akan meninggalkan Jalur Gaza.

"Pada akhirnya, tidak ada solusi nyata untuk Gaza tanpa migrasi," kata Katz kepada jurnalis Moran Azoulay dalam konferensi yang digelar media Israel Ynet bersama Israel Democracy Institute seperti dilaporkan Middle East Eye.

"Waktunya akan tiba. Kapan? Ketika sudah jelas bahwa Hamas tidak memenuhi komitmennya. Saat itu, kami akan mendapat lampu hijau untuk mengambil langkah lebih jauh dalam aspek militer, wilayah, dan bidang-bidang lainnya. Setelah itu, proses ini akan semakin cepat," tutur Katz, merujuk pada rencana memindahkan warga Palestina keluar dari Gaza.

Katz melanjutkan, "Selain itu, 80 persen ingin bermigrasi. Angka itu terus diperiksa melalui survei."

Pada Mei lalu, media Israel melaporkan hasil survei yang dilakukan Coordinator of Government Activities in the Territories (COGAT), unit di bawah Kementerian Pertahanan Israel. Survei itu menemukan bahwa hampir 80 persen warga Gaza yang menjadi responden tertarik mendapatkan informasi mengenai mekanisme relokasi ke negara ketiga melalui perlintasan Rafah dan Kerem Shalom.

Dalam konferensi tersebut, Katz mengatakan warga Palestina sejauh ini belum meninggalkan Gaza karena Hamas tidak mengizinkan mereka dan tidak ada negara di dunia yang mau menerima mereka.

"Kami sepenuhnya siap memindahkan mereka jika nantinya memungkinkan, baik melalui laut, udara, maupun cara apa pun yang memungkinkan. Mesir tidak bersedia, jadi jalurnya tidak akan melalui Mesir," ungkap Katz."

Hambatannya, negara-negara yang bersedia menerima mereka menginginkan dukungan Amerika Serikat. Setiap negara yang bersedia menerimanya meminta dukungan Amerika. Saat ini, Presiden Trump tidak membatalkan rencana tersebut, tetapi membekukannya. Semua negara Arab mendatanginya dan memberikan tekanan terkait masalah ini."

Pada akhir Juni, Israel dilaporkan mengganti nama rencananya untuk mendorong warga Palestina meninggalkan Gaza. Istilah "migrasi sukarela" tidak lagi digunakan dan diganti menjadi "Rencana Kebebasan Bergerak".

Channel 13 Israel melaporkan bahwa para pejabat keamanan Israel dan badan intelijen Mossad diperintahkan untuk tidak lagi menggunakan istilah “migrasi sukarela” karena istilah tersebut menuai kecaman keras dari dunia internasional.

Harian Israel Haaretz saat itu melaporkan bahwa Kepala Dewan Keamanan Nasional Israel Shmuel Ben Ezra menggelar rapat mendesak untuk membahas upaya mendorong warga Palestina meninggalkan Gaza.

Menurut Haaretz, pejabat Mossad mengakui bahwa hingga saat itu mereka belum berhasil menemukan satu pun negara yang bersedia menerima warga Palestina yang dipindahkan dari Gaza.

Dalam wawancara di konferensi tersebut, Katz juga mengatakan Israel tengah bersiap menghadapi kemungkinan serangan Iran selama periode hari raya Yahudi.

Rosh Hashanah tahun ini berlangsung pada 11 hingga 13 September. Katz mengatakan Israel siap membalas dengan kekuatan besar jika menjadi sasaran serangan.