Rusia Tutup Goethe-Institut setelah Jerman Tutup Russian House

Penutupan ini menandai berakhirnya kehadiran lembaga kebudayaan resmi Jerman di Rusia yang telah bertahan sejak runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1992.

Diterbitkan 03 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Rusia akan menutup pusat-pusat kebudayaan Jerman di negaranya. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Kamis (3/9/2026).

Keputusan itu diambil setelah Jerman menuding Rusia berada di balik upaya serangan di Bandara Leipzig/Halle. Jerman kemudian mengumumkan penutupan Konsulat Rusia di Bonn serta pusat kebudayaan Russian House di Berlin.

Lavrov mengatakan Goethe-Institut akan ditutup di Moskow, St. Petersburg, dan Yekaterinburg. Menurut dia, Rusia akan kehilangan "harga diri" jika tidak mengambil langkah balasan.

Berbicara dalam Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Lavrov mengatakan Jerman "mustahil tidak memahami" bahwa penutupan Russian House berarti "berakhirnya kehadiran kebudayaan mereka di Rusia".

Sebuah drone bermuatan bahan peledak ditemukan di dekat pesawat Ukraina di Bandara Leipzig/Halle pada 4 Agustus. Drone tersebut kemudian berhasil dijinakkan.

Bandara Leipzig/Halle merupakan salah satu pusat angkutan kargo internasional utama yang digunakan untuk mendukung Ukraina.

Sejumlah pejabat Barat menuding Rusia menjalankan kampanye sabotase dan berbagai aksi gangguan untuk melemahkan dukungan terhadap Ukraina sekaligus mengacaukan negara-negara Eropa.

Presiden Rusia Vladimir Putin membantah tuduhan tersebut. Menurut dia, Berlin berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalannya sendiri dan ketidakpuasan para pemilih. Putin juga mengatakan bukti-bukti yang diajukan untuk mendukung tuduhan terhadap Rusia "telah direkayasa".

 

Uni Eropa Bahas Respons atas Upaya Serangan

Para menteri Uni Eropa pada Rabu membahas langkah yang dapat diambil untuk merespons upaya serangan drone tersebut. Namun, mereka menghadapi kesulitan mencari langkah baru untuk mengatasinya tanpa melibatkan tindakan militer.

"Jelas bahwa peristiwa ini memiliki semua ciri terorisme yang didukung negara. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?" kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas kepada wartawan sebelum memimpin pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Irlandia.

Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas sejumlah opsi, termasuk menjatuhkan sanksi, memperketat pemberian visa, dan menutup konsulat-konsulat Rusia.

Uni Eropa telah menjatuhkan hampir dua lusin paket sanksi terhadap Rusia sejak perang Ukraina. Sanksi tersebut menyasar lebih dari 3.000 pejabat, oligark, dan berbagai entitas, termasuk bank, perusahaan energi, serta produsen drone.

Kallas mengatakan Uni Eropa juga tengah menyiapkan larangan perjalanan dan pembekuan aset terhadap 1.600 orang lainnya.

Jerman menegaskan negaranya tidak sedang berperang, tetapi menjadi "sasaran setiap hari" dalam kampanye hibrida yang dituding dilakukan Kremlin.

Menteri Luar Negeri Jerman Johan Wadephul mengatakan Berlin telah mempersiapkan langkah balasannya dengan matang dan kini Rusia harus menerima konsekuensinya.

"Sekarang Rusia harus hidup dengan konsekuensi ini," kata Wadephul.

Ia meminta Rusia menunjukkan kesiapan untuk melakukan pembicaraan dan perundingan yang masuk akal, terutama terkait situasi di Ukraina.