Gara-gara Layang-Layang, Israel Ancam Perluas Serangan ke Gaza

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan meningkatkan serangan ke Gaza terkait dugaan peluncuran layang-layang kertas.

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Seorang anak berusia empat tahun termasuk tiga warga Palestina yang tewas dalam serangkaian serangan udara Israel di Gaza tengah pada Minggu.

Dikutip dari Al Jazeera, Selasa (25/8/2026, serangan tersebut terjadi ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan meningkatkan serangan terkait dugaan peluncuran layang-layang kertas dari wilayah Gaza yang dilanda perang.

Pada Minggu, Israel menembakkan rudal ke sebuah gudang di az-Zawayda hingga bangunan tersebut hancur menjadi puing-puing. Serangan kemudian dilakukan di sekitar Jalan Salah al-Din dan menewaskan Muhammad Abdel Salam Taha, bocah berusia empat tahun.

Serangan drone Israel juga menyasar wilayah selatan Khan Younis serta sebuah tenda yang menjadi tempat berlindung warga yang mengungsi di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah. Serangan tersebut menyebabkan lebih banyak korban.

Di tengah kehancuran di az-Zawayda, seorang saksi bernama Abu Ahmed menggambarkan keputusasaan warga akibat kekerasan yang terus berlangsung.

“Tidak ada gencatan senjata; tidak ada apa-apa. Kami ingin solusi; kami ingin hidup dalam damai,” katanya.

Netanyahu Ancam Balasan Keras

Serangan mematikan tersebut terjadi ketika sejumlah pakar Palestina dan Israel memperingatkan bahwa pemerintah Israel disebut membangun krisis keamanan terkait mainan anak-anak untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata, mendorong perubahan demografis, serta mempertahankan kelangsungan politik Netanyahu.

Setelah serangan itu, Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu yang mengancam pembalasan keras terkait mainan tersebut. Mereka juga mengancam akan memindahkan secara paksa warga Palestina dari wilayah yang disebut “digunakan sebagai lokasi peluncuran layang-layang, drone, dan balon”.

“Tidak akan ada kembali ke situasi sebelum 7 Oktober [2023],” demikian pernyataan bersama tersebut.

Pernyataan itu juga menyebut Israel tidak akan membiarkan Hamas atau kelompok lain di Gaza “mengancam komunitas kami lagi dan membahayakan rasa aman warga kami”.

Ancaman tersebut muncul meski militer Israel mengakui bahwa layang-layang yang ditemukan tidak mengandung bahan peledak dan hanya diterbangkan oleh anak-anak.

Meski pernyataan Netanyahu dan Katz menyebut “layang-layang, drone, dan balon”, pemeriksaan militer Israel memastikan hanya menemukan 10 layang-layang kertas. Seluruhnya tidak mengandung bahan peledak dan diterbangkan anak-anak di kamp pengungsian.

 

Pakar Sebut Klaim Ancaman Drone Tak Berdasar

Analis politik Palestina Hussam Shaheen mengatakan kepada Al Jazeera bahwa klaim mengenai drone yang diluncurkan dari Gaza merupakan rekayasa.

“Itu adalah klaim yang palsu dan tidak berdasar; itu tidak ada. Klaim tersebut telah dibantah, dan sama sekali tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan dengan drone,” katanya.

Sementara itu, pakar urusan Israel Adel Shadid mengatakan ancaman tersebut sepenuhnya dibuat oleh media berbahasa Ibrani di bawah arahan aparat militer.

“Sudah jelas ada niat untuk memanfaatkan dan menggunakan layang-layang kertas ini sebagai dalih, dan seluruh persoalan ini mungkin dibuat-buat,” ujar Shadid kepada Al Jazeera.

Senjata Nuklir vs Layang-Layang Kertas

Para analis menyoroti apa yang mereka anggap sebagai kejanggalan dalam klaim Israel terkait mainan tersebut.

Shaheen mengatakan layang-layang hanya menjadi alasan yang lemah untuk menghindari komitmen politik.

“Tidak masuk akal bahwa sebuah negara yang mengklaim dirinya sebagai kekuatan besar dengan persenjataan nuklir menganggap layang-layang kertas yang diterbangkan seorang anak Palestina sebagai ancaman keamanan,” kata Shaheen.

Ia juga mempertanyakan kemungkinan narasi tersebut secara logistik. Menurutnya, warga Palestina yang mengungsi menerbangkan layang-layang tersebut dari kamp-kamp yang dikelilingi pasukan yang melakukan invasi.

“70 persen wilayah Jalur Gaza masih berada di bawah kendali tentara Israel, jadi bagaimana mungkin seseorang berbicara tentang layang-layang kertas yang menembus seluruh wilayah ini dan menimbulkan ancaman keamanan?” kata Shaheen.