25 Agustus 1944: Paris Dibebaskan dari Nazi

Bagaimana proses terbebasnya Paris dari Nazi pada 25 Agustus 1944?

Diterbitkan 25 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Setelah lebih dari empat tahun diduduki Nazi yang kekejamannya terkenal dalam sejarah, Paris dibebaskan oleh Divisi Lapis Baja ke-2 Prancis dan Divisi Infanteri ke-4 AS pada 25 Agustus 1944. Perlawanan Jerman ringan, dan komandan garnisun Jerman, Jenderal Dietrich von Choltitz, menentang perintah Adolf Hitler untuk meledakkan bangunan-bangunan bersejarah Paris dan membakar kota tersebut hingga rata dengan tanah sebelum pembebasannya.

Dikutip dari History.com, Selasa (25/8/2026), Choltitz menandatangani surat penyerahan diri resmi pada sore hari itu dan pada 26 Agustus, Jenderal Charles de Gaulle dari pasukan Prancis Merdeka memimpin pawai pembebasan yang meriah di sepanjang Champs d’Elysees.

Paris jatuh ke tangan Nazi Jerman pada 14 Juni 1940, satu bulan setelah Wehrmacht Jerman menyerbu Prancis. Delapan hari kemudian, Prancis menandatangani gencatan senjata dengan Jerman, dan sebuah negara boneka Prancis didirikan dengan ibu kota Vichy. Namun, di tempat lain, Jenderal Charles de Gaulle dan Pasukan Prancis Merdeka terus berjuang, dan Gerakan Perlawanan bermunculan di Prancis yang diduduki untuk melawan kekuasaan Nazi dan Vichy.

Divisi Lapis Baja ke-2 Prancis dibentuk di London pada akhir tahun 1943 dengan tujuan khusus untuk memimpin pembebasan Paris selama invasi sekutu ke Prancis. Pada Agustus 1944, divisi tersebut tiba di Normandia di bawah komando Jenderal Jacques-Philippe Leclerc dan digabungkan ke dalam Angkatan Darat AS ke-3 yang dipimpin oleh Jenderal George S. Patton.

Selanjutnya pada 18 Agustus, pasukan Sekutu sudah berada di dekat Paris, dan para pekerja di kota tersebut melakukan pemogokan saat para pejuang Perlawanan keluar dari persembunyian dan mulai menyerang pasukan dan benteng pertahanan Jerman.

Di markas besarnya yang terletak 3,2 kilometer ke arah dalam dari pantai Normandia, Panglima Tertinggi Sekutu, Dwight D. Eisenhower menghadapi dilema. Para perencana Sekutu telah menyimpulkan bahwa pembebasan Paris sebaiknya ditunda agar sumber daya yang berharga tidak dipindahkan dari operasi-operasi penting di tempat lain. Kota tersebut dapat dikepung terlebih dulu baru dibebaskan pada waktu yang akan datang.

 

Operasi Pembebasan Paris

Pada 21 Agustus, Eisenhower bertemu dengan de Gaulle dan memberitahunya tentang rencana untuk melewati Paris. De Gaulle mendesaknya untuk mempertimbangkannya kembali, sambil meyakinkan bahwa Paris dapat direbut kembali tanpa kesulitan. 

Jenderal Prancis tersebut juga memperingatkan bahwa faksi komunis yang kuat dalam Gerakan Perlawanan mungkin berhasil membebaskan paris. Hal ini mengancam upaya pembentukan kembali pemerintahan demokratis. De Gaulle dengan sopan mengatakan kepada Eisenhower bahwa jika serangan ke Paris tidak diperintahkan, ia akan mengirim Divisi Lapis Baja ke-2 pimpinan Leclerc di kota itu sendiri.

Di 22 Agustus, Eisenhower setuju untuk melanjutkan operasi pembebasan Paris. Besoknya, Divisi Lapis Baja ke-2 bergerak maju menuju kota tersebut dari arah utara, sedangkan Divisi Infanteri ke-4 bergerak ke arah selatan. Di sisi lain, di Paris, pasukan Jenderal Jerman Dietrich von Choltitz sedang bertempur melawan Gerakan Perlawanan dan menyelesaikan persiapan pertahanan mereka di sekeliling kota.

Hitler sudah memerintahkan agar Paris dipertahankan hingga prajurit terakhir, dan menuntut agar kota itu tidak jatuh ke tangan Sekutu kecuali dalam keadaan “hanya reruntuhan.” Choltitz dengan patuh mulai memasang bahan peledak di bawah jembatan-jembatan Paris dan bangunan bersejarah lainnya. Namun, ia tidak mematuhi perintah untuk memulai penghancuran tersebut. Ia tak ingin diingat dalam sejarah sebagai orang yang menghancurkan “Kota Cahaya,” kota paling terkenal di Eropa.

Divisi Lapis Baja ke-2 menghadapi tembakan artileri Jerman yang gencar dan menimbulkan korban yang sangat banyak. Namun, pada 24 Agustus berhasil menyeberangi Sungai Seine dan mencapai pinggiran kota Paris. Di sana, mereka disambut oleh warga sipil yang antusias, yang membanjiri mereka dengan bunga, ciuman, dan anggur. Pada hari yang sama, Leclerc mendapat kabar bahwa Divisi Infanteri ke-4 siap mendahuluinya masuk ke kota Paris, dan ia memerintahkan pasukannya yang sudah lelah untuk terus maju dengan sisa tenaga terakhir. Tepat sebelum tengah malam pada 24 Agustus, Divisi Lapis Baja ke-2 tiba di Hotel de Ville di jantung kota Paris.