23 Agustus 1856: Eunice Foote, Ilmuwan Perempuan yang Ungkap Pemanasan Global

Bagaimana hasil penelitian pada 23 Agustus 1856 ini ditampilkan?

Diterbitkan 23 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Jauh sebelum pemanasan global menjadi isu besar dalam sejarah dunia, seorang ilmuwan perempuan asal Amerika Serikat, Eunice Foote, telah mengungkap kemungkinan kenaikan suhu bumi akibat peningkatan karbon dioksida (CO₂) di atmosfer.

Temuan tersebut dipresentasikan pada 23 Agustus 1856 dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science (AAAS) di Albany, New York.

Dikutip dari History.com, Minggu (23/8/2026), Foote merupakan ilmuwan sekaligus penemu dan pejuang hak-hak perempuan. Dalam penelitiannya yang berjudul “Circumstances Affecting the Heat of the Sun's Rays”, ia menemukan bahwa karbon dioksida dan uap air lebih mampu menyerap serta menahan panas dibandingkan gas lainnya.

Untuk membuktikannya, Foote menggunakan pompa udara dan sejumlah tabung silinder untuk menguji perubahan suhu berbagai jenis gas ketika ditempatkan di bawah sinar matahari maupun di tempat teduh.

Namun, Foote tidak mempresentasikan hasil penelitiannya sendiri. Temuan tersebut disampaikan oleh rekannya, Joseph Henry, dalam pertemuan AAAS.

Pada masa itu, Foote merupakan ilmuwan amatir sekaligus perempuan, sehingga kemungkinan besar temuannya tidak akan mendapat perhatian yang sama jika dipresentasikan secara langsung olehnya. Henry bahkan mengakui bahwa ia kesulitan memahami sepenuhnya signifikansi hasil penelitian tersebut.

Tiga Tahun Lebih Awal dari John TyndallBeberapa tahun kemudian, fisikawan asal Irlandia John Tyndall dikenal luas sebagai ilmuwan yang menemukan kemampuan karbon dioksida dalam menyerap radiasi.

Tyndall menerbitkan penelitian pertamanya mengenai hal tersebut pada 1859, tiga tahun setelah penelitian Foote.

Tidak terdapat bukti langsung bahwa Tyndall pernah membaca penelitian Foote. Eksperimen Tyndall juga lebih canggih dan akurat. Ia tidak hanya menguji pengaruh karbon dioksida, tetapi turut memperhitungkan peran radiasi inframerah yang dipancarkan bumi.

Sebagai anggota komunitas ilmiah Eropa yang disegani, penelitian Tyndall mendapat perhatian luas dan kemudian menjadi salah satu dasar pemahaman ilmiah mengenai efek rumah kaca.

Sebaliknya, kontribusi Foote sebagai ilmuwan amatir perempuan perlahan terlupakan. Temuannya baru kembali mendapat perhatian akademisi pada 2011, lebih dari 150 tahun setelah penelitiannya dilakukan.

Meski terdapat perbedaan dalam metode eksperimen dan tingkat kecanggihan penelitian, Foote dan Tyndall mencapai kesimpulan mendasar yang sama: peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer dapat menyebabkan kenaikan suhu bumi.