2 Oktober 1958: Guinea Jadi Medan Rivalitas AS-Soviet Usai Merdeka dari Prancis

Bagaimana pemimpin Guinea memanfaatkan Perang Dingin untuk kemerdekaan di tanggal 2 Oktober 1958?

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Conakry - Dalam sejarah kolonial Prancis, negara di Afrika Barat, Guinea, memproklamasikan kemerdekaannya dengan Sekou Toure sebagai pemimpin pertama negara tersebut pada 2 Oktober 1958. Guinea adalah satu-satunya wilayah koloni Prancis di Afrika Barat yang memilih kemerdekaan penuh dibanding menjadi anggota Komunitas Prancis. Tak lama setelah itu, Prancis memberhentikan seluruh bantuannya kepada republik baru tersebut.

Dikutip dari History.com, Jumat (2/10/2026), secara langsung menjadi jelas bahwa Toure akan menjadi masalah untuk Amerika Serikat (AS). Ia adalah seorang nasionalis garis keras dan anti-imperialis dan sebagian besar amarah dan kebenciannya ditujukan kepada AS karena aliansinya bersama negara kolonial kuat lainnya seperti Britania Raya dan Prancis. AS juga menolak untuk secara terbuka mengecam pemerintah minoritas kulit putih di Afrika Selatan.

Yang lebih membuat para pejabat AS khawatir adalah upaya Guinea yang terang-terangan untuk mendapatkan bantuan dan dana dari Uni Soviet serta penandatanganan perjanjian bantuan militer dengan Uni Soviet.

Di tahun 1960, hampir setengah dari ekspor Guinea menuju ke negara-negara blok timur dan Uni Soviet sudah menjanjikan bantuan bernilai jutaan dolar kepada republik Afrika tersebut. Toure juga tertarik dengan eksperimen komunis Mao di China.

Toure mempermainkan persaingan Uni Soviet dan AS untuk mendapatkan bantuan dan perdagangan yang ia inginkan. Walaupun hubungan Guinea dengan AS mulanya tidak mulus (surat kabar Amerika sering menyebut negara tersebut sebagai "Guinea Merah"), keadaan membaik selama masa pemerintahan Kennedy ketika Toure menolak memberikan izin kepada pesawat Soviet yang ingin mengisi bahan bakar dalam perjalanan mereka ke Kuba saat krisis rudal tahun 1962.

Pada 1975, Toure berpindah haluan dan mengizinkan pesawat-pesawat Soviet dan Kuba menggunakan landasan udara di Guinea selama perang saudara di Angola. Kemudian, ia mengubah kembali pendiriannya dengan mencabut hak tersebut di tahun 1977 dan mendekatkan diri kepada Prancis dan AS.

Kekhawatiran para pejabat AS tentang pengaruh komunis di Guinea dan hubungan naik turun dengan Guinea hanya tanda awal dari berbagai kesulitan lainnya yang AS hadapi di Afrika pascakolonial. Berbarengan dengan kemerdekaan Guinea dan negara bekas koloni lainnya di masa setelah Perang Dunia II, Afrika pun menjadi medan pertempuran dalam konflik AS dan Uni Soviet.