Liputan6.com, New Delhi - Sebuah tragedi menimpa keluarga di Maharashtra, India. Kunal Chandgude, 19 tahun, bersama kedua orang tuanya tewas setelah jatuh dari tebing dalam situasi yang bermula dari persoalan pembayaran cicilan iPhone.
Dikutip dari NDTV, Senin (24/8/2026), Kunal diketahui membeli iPhone dengan skema cicilan. Namun, ia kemudian kesulitan membayar cicilan tersebut. Persoalan itu memicu pertengkaran dengan orang tuanya ketika Kunal meminta uang untuk membayar cicilan terbarunya.
Setelah pertengkaran tersebut, Kunal meninggalkan rumah dan pergi menuju tepian sebuah bukit. Situasi kemudian berkembang menjadi ketegangan selama sekitar tiga jam sebelum berakhir tragis.
Advertisement
Ayah Kunal, Murlidhar, 48 tahun, yang selama bertahun-tahun bekerja sebagai sopir untuk menghidupi keluarganya, berusaha mendekati dan menangkap putranya. Namun, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tebing.
Melihat kejadian tersebut, ibu Kunal, Sangeeta, ikut melompat dalam kondisi terkejut dan putus asa. Ketiganya akhirnya meninggal dunia.
Satu kasus memang tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pembelian iPhone dengan cicilan merupakan jalan pasti menuju jebakan utang. Namun, tragedi di Maharashtra kembali menyoroti persoalan yang lebih luas mengenai tekanan finansial akibat pembelian perangkat mahal, khususnya di kalangan anak muda.
Laporan media dari waktu ke waktu juga mencatat kasus kematian akibat tekanan dan persoalan finansial yang berkaitan dengan pembelian perangkat elektronik mahal. Sebagian besar kasus tersebut melibatkan kaum muda atau kelompok yang dikenal sebagai Gen-Z.
Di India, data survei konsumsi makroekonomi dan distribusi kekayaan menunjukkan kurang dari 50 juta rumah tangga memiliki pendapatan keluarga bulanan sebesar 75.000 rupee.
Dengan asumsi harga rata-rata iPhone yang dianggap sebagai ponsel aspiratif mencapai 75.000 rupee, pembelian perangkat tersebut berpotensi menjadi beban besar bagi banyak rumah tangga.
Pertanyaan mengenai apakah iPhone mendorong ratusan ribu keluarga India masuk ke dalam utang pun dinilai perlu mendapat perhatian serius.
Lembaga riset pasar independen Counterpoint Research memperkirakan sedikitnya 42 persen iPhone yang terjual di India tahun ini akan dibeli melalui skema cicilan.
Tragedi keluarga Chandgude memperlihatkan bagaimana keinginan memiliki smartphone premium, yang didorong oleh pembiayaan ritel agresif, dapat berubah menjadi tekanan psikologis dan ekonomi bagi keluarga yang tidak siap menghadapi utang konsumsi perangkat teknologi.
Riset pasar independen menunjukkan pembelian smartphone kelas atas menggunakan pinjaman kini semakin umum. Tren tersebut tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga telah merambah kota-kota kecil dan desa.
Konsumen semakin meninggalkan pembayaran tunai atau pembayaran sekaligus seiring harga perangkat yang terus meningkat. Industri smartphone kemudian mendorong skema cicilan sebagai cara mempertahankan pertumbuhan di pasar yang sensitif terhadap harga.
Â
Â
Cicilan Dibuat Terlihat Ringan
Data menunjukkan pasar kelas menengah ke bawah kini menjadi segmen pembelian smartphone yang paling bergantung pada pembiayaan, bahkan melampaui kota-kota besar, menurut studi Counterpoint Research bulan ini.
Untuk menyamarkan mahalnya perangkat premium, pasar ritel memperpanjang periode pembayaran. Dengan begitu, jumlah yang harus dibayar setiap bulan terlihat lebih mudah dijangkau, meski masa utangnya menjadi lebih panjang.
Saat ini, rata-rata tenor pembiayaan smartphone di toko ritel fisik mencapai 10 bulan. Khusus iPhone, kuatnya daya tarik terhadap produk ponsel pintar ini membuat rata-rata tenor pembiayaannya mencapai 17,2 bulan, menurut lembaga riset pasar tersebut.
Kondisi itu menunjukkan adanya jarak antara pendapatan masyarakat dan barang yang mereka konsumsi. Jika harga rata-rata iPhone diperkirakan secara konservatif mencapai 75.000 rupee, nilainya bahkan lebih besar dibandingkan kemampuan pendapatan pembeli rata-rata jika dibandingkan dengan total pendapatan rumah tangga dalam sebulan.
Namun, jutaan perangkat premium tersebut tetap terjual setiap kuartal.
Pembeli muda dapat mendatangi toko ritel, menyerahkan dokumen identitas dasar, kemudian membawa pulang perangkat elektronik yang harganya bahkan melebihi pendapatan bulanan seluruh keluarganya.
Bagi orang tua seperti Murlidhar, yang bekerja berjam-jam sebagai sopir, membiayai ponsel dengan harga sebesar itu dapat berarti harus mengorbankan kestabilan rumah tangga, menunda kebutuhan pengobatan penting, atau mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan makanan.
Â
Advertisement
Tekanan Sosial Gen-Z
Bagi konsumen Gen-Z, iPhone juga memiliki posisi sebagai simbol sosial dan penanda kelas yang sangat terlihat.
Analis perilaku konsumen independen dan psikolog anak muda menyoroti bahwa tekanan untuk menyesuaikan diri dapat terasa lebih kuat di kota-kota kecil. Kepemilikan perangkat dapat memengaruhi penerimaan sosial di antara kelompok sebaya, sementara algoritma media sosial turut memengaruhi pandangan yang mengaitkan harga diri dengan kepemilikan barang.
Pembelian menggunakan skema cicilan kini juga semakin mudah seiring berkembangnya perusahaan pembiayaan nonbank serta pembiayaan di titik penjualan.
Proses pinjaman yang sebelumnya membutuhkan waktu dan prosedur lebih panjang kini berubah. Pembeli tidak harus mendatangi bank, memberikan jaminan fisik, atau menjalani penilaian ketat mengenai kondisi keuangan keluarga secara menyeluruh.
Algoritma bahkan dapat menyetujui pinjaman tanpa kertas dalam waktu kurang dari tiga menit berdasarkan kartu PAN dan kode OTP.
Di sisi lain, pengecer mendapatkan margin lebih tinggi dari perangkat premium sehingga mereka gencar menawarkan skema cicilan. Konsumen, termasuk Gen-Z, mendapatkan kepuasan instan saat membawa pulang dan membuka kemasan produk kelas atas, sementara beban keuangan yang tidak terlihat perlahan berpindah kepada orang tua.
Tragedi tersebut pada akhirnya menyoroti dampak lain dari obsesi konsumtif terhadap keluarga pekerja yang selama bertahun-tahun bekerja dan menabung demi meningkatkan taraf hidup.
Dalam situasi tertentu, mereka justru dapat terdorong masuk ke dalam siklus utang konsumtif yang tidak sepenuhnya mereka pahami, termasuk harus menanggung pembiayaan untuk memenuhi kebutuhan sosial anak-anak mereka dan menjaga ketenangan di dalam rumah.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329037/original/095568800_1787217508-Screenshot_2026-08-20_160444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316905/original/064384100_1785995980-cek_fakta_luhut.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309638/original/028473800_1785232963-cek_fakta_-_bansos_balita.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526386/original/065611600_1773119349-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-10T120535.465.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331379/original/087606400_1787540344-WhatsApp_Image_2026-08-24_at_09.55.35.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411690/original/061832400_1479707390-India.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330265/original/026329600_1787365308-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4358159/original/067137100_1678794026-Thumbnail_Liputan6.com.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2384455/original/012292600_1539670929-air_india.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2365459/original/093580700_1541506163-040291100_1537702786-download_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307115/original/022976400_1754458877-edgar-soto-gb0BZGae1Nk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3400033/original/048318800_1615553546-adani_afp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5054778/original/021105400_1734422604-20241217_133945.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4579761/original/008784000_1695034020-olga-kononenko-98__MsKaUsI-unsplash.jpg)