Liputan6.com, New Delhi - Pemerintah Negara Bagian Andhra Pradesh, India, menyelidiki kematian Pranay Tej, bocah berusia enam tahun yang pingsan setelah ditampar gurunya di dalam kelas pada Kamis (20/8/2026).
Pranay, murid Little Garden School di kawasan One Town, Visakhapatnam, kemudian dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab kematiannya.
Peristiwa tersebut terekam kamera pengawas di dalam kelas. Video yang telah diverifikasi Al Jazeera memperlihatkan seorang guru perempuan memegang pakaian Pranay sebelum menampar wajahnya. Bocah itu kemudian terjatuh.
Advertisement
Laporan media India menyebut Pranay diduga ditampar karena belum menyelesaikan pekerjaan rumah.Â
"Kami mengambil langkah hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab serta manajemen sekolah," tulis Menteri Pendidikan dan Teknologi Informasi Andhra Pradesh Nara Lokesh di Facebook pada Kamis.
Sehari kemudian, Lokesh menegaskan bahwa pemerintah telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh.
"Sebagai seorang ayah, saya tidak bisa melupakan apa yang terjadi pada Pranay Tej kecil. Saya tidak dapat membayangkan rasa sakit yang dialami orang tuanya. Hukuman fisik tidak memiliki tempat di sekolah-sekolah kita. Tidak ada anak yang boleh mengalami kekerasan atas nama kedisiplinan," tulisnya di X pada Jumat (21/8).
"Saya telah memerintahkan penyelidikan menyeluruh dan tindakan tegas terhadap siapa pun yang terbukti bertanggung jawab. Saya turut berduka atas kehilangan yang dialami keluarga Pranay."
Menurut laporan media India, NDTV, kerabat Pranay berkumpul di rumah sakit setelah mengetahui kematiannya dan menuntut tindakan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Ayah Pranay mengatakan putranya tampak sehat sebelum berangkat ke sekolah pada pagi hari.
"Sekitar pukul 08.00 pagi, anak saya bangun dan bilang ingin pergi ke sekolah. Dia bersikeras ingin sekolah," tuturnya kepada NDTV.
Pranay dibawa ke King George Hospital di Visakhapatnam setelah pingsan di sekolah. Dokter kemudian menyatakan bocah tersebut meninggal dunia.
Inspektur Polisi Pudi Vara Prasad mengatakan kepada Press Trust of India bahwa kasus itu mulai diselidiki setelah polisi menerima pengaduan tertulis dari ayah Pranay.
"Setelah menerima pengaduan tertulis dari ayah bocah tersebut, kami mendaftarkan kasus berdasarkan Pasal 194 BNSS dan memulai penyelidikan," ujar Prasad.
BNSS atau Bharatiya Nagarik Suraksha Sanhita merupakan hukum acara pidana yang berlaku di India.
Jenazah Pranay telah diserahkan kepada keluarganya setelah polisi menyelesaikan pemeriksaan awal dan prosedur autopsi.
"Setelah seluruh laporan terkait kami terima, kami akan menentukan penyebab pasti kematiannya," ungkap Prasad.
Pemerintah Andhra Pradesh juga membentuk komite untuk menyelidiki kasus tersebut. Ketua Telugu Desam Party (TDP), partai politik regional yang memimpin pemerintahan Andhra Pradesh, Palla Srinivasa Rao, mengatakan langkah selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan komite.
"Menteri Teknologi Informasi dan Pendidikan kami, Nara Lokesh Garu, telah membentuk sebuah komite. Berdasarkan laporan komite tersebut, kami pasti akan mengambil tindakan," ujarnya kepada Press Trust of India.
Kasus ini kembali menyoroti praktik hukuman fisik terhadap anak di India. Studi organisasi nonpemerintah Agrasar pada 2018 menemukan sekitar 80 persen murid dari keluarga berpenghasilan rendah di negara itu mengalami hukuman fisik dari guru, meski praktik tersebut secara resmi dilarang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329887/original/014746300_1787301484-HOAX__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329801/original/040098200_1787296595-HOAX__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4712284/original/099342900_1704930645-cek_fakta_stiker_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4316086/original/083077800_1675750628-school-g90b63516f_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411690/original/061832400_1479707390-India.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4358159/original/067137100_1678794026-Thumbnail_Liputan6.com.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2384455/original/012292600_1539670929-air_india.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2365459/original/093580700_1541506163-040291100_1537702786-download_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307115/original/022976400_1754458877-edgar-soto-gb0BZGae1Nk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3400033/original/048318800_1615553546-adani_afp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5054778/original/021105400_1734422604-20241217_133945.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4579761/original/008784000_1695034020-olga-kononenko-98__MsKaUsI-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521752/original/080779900_1772699319-1000252433.jpg)