Liputan6.com, New Delhi - Ramabai Ranveer tidak pernah berlatih lari. Ia bahkan tidak memiliki sepatu lari. Namun, pada Agustus lalu, perempuan berusia 47 tahun itu berlari tanpa alas kaki dan berhasil menjadi juara dalam perlombaan pertamanya.
Dikutip dari BBC, Senin (21/9/2026), seorang janda asal Maharashtra, India bagian barat, Ramabai mengikuti lomba lari komunitas sejauh 3 kilometer dengan satu tujuan sederhana yaitu memenangkan hadiah uang untuk membantu membiayai pendidikan kedua putrinya.
Ketika melewati garis finis sebagai pelari pertama, Ramabai merasa sangat bahagia. Hadiah sebesar 3.000 rupee atau sekitar US$ 31 (Rp 500 ribu) akan digunakan untuk membeli buku dan perlengkapan belajar bagi kedua putrinya.
Advertisement
Jumlah itu tentu tidak besar. Uang tersebut bahkan tidak mendekati biaya pendidikan tinggi di India, atau sekadar membayar kursus di pusat bimbingan belajar tempat salah satu putrinya sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian rekrutmen pegawai pemerintah.
Namun, kisah Ramabai segera menyebar. Video dirinya berlari tanpa alas kaki beredar luas di media sosial dan diberitakan sejumlah surat kabar. Kisah itu mendapat perhatian besar ketika sistem pendidikan India tengah berada di bawah sorotan.
"Apakah ini sebuah kebanggaan atau justru sumber rasa malu bagi kita sebagai masyarakat?" tulis seorang pengguna media sosial.
Dalam waktu singkat, perempuan yang sebelumnya tidak pernah membayangkan dirinya menjadi pelari itu dipandang sebagai simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar: sejauh apa sejumlah keluarga di India rela berjuang demi harapan bahwa pendidikan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
Berlari Demi Buku untuk Anak
Bagi Ramabai, keputusan untuk ikut berlari sebenarnya sederhana.
"Putri sulung saya datang kepada saya pagi-pagi sekali dan berkata, 'Mummy, saya ingin ikut lomba lari'," tuturnya kepada BBC News Marathi dari rumahnya di distrik Beed.
Ramabai kemudian bertanya di mana perlombaan itu digelar. Putrinya mengatakan lokasinya tidak jauh dan menjelaskan bahwa hadiah uang jika memenangkan perlombaan dapat membantu biaya pendidikannya.
Putri bungsunya, Arati, tinggal di Nanded dan sedang kesulitan membeli buku.
"Saya tidak bisa mengirim uang untuk membeli buku dan karena itu dia tidak berbicara dengan saya melalui telepon selama delapan hari," kata Ramabai. "Jadi saya memutuskan bahwa saya harus berlari dan memenangkan perlombaan."
Ketika sandal yang dikenakannya terus terlepas, Ramabai akhirnya melepasnya. Ia mengangkat sari yang dikenakannya, lalu berlari tanpa alas kaki hingga berhasil mendahului peserta lain dan memenangkan kategori perempuan usia 30-60 tahun.
Putri sulungnya, Pooja, juga mendapatkan hadiah setelah finis di posisi kedua dalam kelompok usianya. Namun, pujian Pooja justru ditujukan kepada ibunya. Ia menggambarkan Ramabai sebagai sosok yang berani.
Â
Jadi Tulang Punggung Keluarga
Sejak suaminya meninggal pada 2012, Ramabai menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarganya.
"Saya melakukan pekerjaan apa pun yang bisa saya dapatkan," ujarnya. "Saya memanen kedelai dan kacang arab di ladang orang lain. Saya juga mengumpulkan kunyit, mengolahnya, lalu menjualnya."
Ramabai berhenti sekolah ketika berusia 13 tahun. Kini, ia ingin kedua putrinya mendapatkan kesempatan yang tidak pernah ia miliki.
"Saya percaya bahwa selama saya masih hidup, saya harus melakukan segala yang saya bisa untuk memberikan pendidikan yang baik kepada putri-putri saya."
Harapan tersebut juga dimiliki jutaan keluarga di India. Namun, membawa seorang anak melewati sistem pendidikan hingga mendapatkan pekerjaan yang aman dapat membutuhkan persiapan bertahun-tahun, persaingan yang ketat, dan biaya yang tidak sedikit bagi banyak keluarga.
Salah satu putri Ramabai sedang mempersiapkan diri untuk rekrutmen kepolisian, sementara putrinya yang lain mempersiapkan diri untuk layanan sipil. Keduanya merupakan jalur yang sangat kompetitif menuju pekerjaan pemerintah yang dianggap memberikan keamanan serta status sosial.
Jutaan anak muda India menghabiskan bertahun-tahun untuk mempersiapkan ujian semacam itu. Banyak di antara mereka harus membayar biaya bimbingan belajar dan membeli bahan-bahan untuk belajar.
Namun, kepercayaan terhadap sistem tersebut terguncang oleh berulangnya tuduhan kebocoran soal ujian dan berbagai ketidakteraturan lainnya.
Kontroversi tersebut turut memunculkan rasa frustrasi yang lebih luas di kalangan anak muda India mengenai pendidikan, pekerjaan, serta semakin tidak pastinya harapan untuk memperoleh masa depan yang aman. Kekecewaan itu juga mendorong munculnya aksi protes yang dipimpin mahasiswa dan gerakan anak muda yang menuntut perubahan dalam sistem pendidikan India.
Â
Advertisement
Pengorbanan yang Dilakukan Setiap Hari
Bagi keluarga seperti Ramabai, pendidikan adalah sesuatu yang diperjuangkan melalui pengorbanan sehari-hari.
Setelah suaminya meninggal, ia melakukan pekerjaan apa pun yang tersedia. Kini, ia bekerja sebagai juru masak di pusat bimbingan belajar tempat salah satu putrinya mempersiapkan diri untuk rekrutmen kepolisian.
Lari tanpa alas kaki yang dilakukan Ramabai juga menarik perhatian pihak berwenang. Awal bulan ini, Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant mengarahkan pejabat setempat untuk memberikan bantuan keuangan sebesar 50.000 rupee kepadanya.
Namun, menurut Sukhadeo Thorat, mantan ketua University Grants Commission, kisah keluarga Ramabai menunjukkan persoalan struktural yang lebih luas.
"Jika seorang perempuan terpaksa berjuang begitu keras untuk pendidikan putrinya, itu menunjukkan bahwa program pendidikan pemerintah belum menjangkau masyarakat secara memadai," katanya. "Pemerintah pusat dan negara bagian menjalankan berbagai program. Masalahnya adalah pelaksanaannya masih lemah."
Bagi Ramabai sendiri, perdebatan tersebut bukanlah hal yang utama. Yang terpenting baginya adalah memastikan kedua putrinya memiliki masa depan yang lebih baik.
"Saya tidak ingin mereka mengalami kesulitan yang pernah saya hadapi," katanya.
"Saya tidak ingin mereka harus berjuang melewati lumpur atau bepergian di bawah terik matahari dan hujan. Apa pun yang sudah saya derita, saya tidak ingin putri-putri saya mengalami hal yang sama," tutup dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4769936/original/006475700_1710237097-bank_papua_hoaks.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141760/original/081875600_1740382803-IMG-20250224-WA0113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353702/original/055907700_1789975135-WhatsApp_Image_2026-09-21_at_14.10.34.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411690/original/061832400_1479707390-India.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348054/original/058240300_1789380337-david-arrowsmith-SsAFdirwkXc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347476/original/065102500_1789326687-WhatsApp_Image_2026-09-14_at_02.01.41.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8873443/original/045632400_1782932659-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347025/original/084468600_1789258142-download__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347008/original/056078600_1789240633-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346889/original/086236500_1789217838-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346845/original/042818200_1789212630-IMG-20260912-WA0069.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347026/original/043929800_1789258196-IMG-20260912-WA0123__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346544/original/042345300_1789178968-1fca3f28-7271-498b-818d-6406418694a6.jpg)